Katupek Pitalah, Jejak Kuliner Minangkabau dari Pitalah–Bungo Tanjuang

Lebih dari sekadar sarapan, Katupek Pitalah tumbuh bersama tradisi pasar, diwariskan antargenerasi, dan menjadi bagian dari identitas kuliner kawasan Batipuh, Tanah Datar.

TANAH DATAR — Katupek Pitalah bukan sekadar hidangan ketupat dengan gulai sayuran. Kuliner tradisional yang dikenal luas di Sumatera Barat ini memiliki keterkaitan erat dengan kawasan Pitalah dan Bungo Tanjuang, Kecamatan Batipuh, Kabupaten Tanah Datar, serta dengan aktivitas perdagangan masyarakat di Pasar Pita Bunga.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui dokumentasi Galanggang Arang Pita Bunga menyebut Pasar Pita Bunga sebagai pasar syarikat yang dimiliki bersama oleh Nagari Pitalah dan Bungo Tanjuang. Dari kawasan pasar tersebut berkembang kuliner tradisional yang dikenal sebagai Katupek Pitalah. Setiap hari Minggu, saat aktivitas pasar berlangsung, pedagang tradisional Katupek Pitalah masih dapat ditemukan di kawasan tersebut. Kemdikbud Staging Portal

Keberadaan Katupek Pitalah juga telah menjadi objek penelitian akademik. Penelitian Ahmad Ridwan dan Lailatur Rahmi yang diterbitkan dalam Jurnal Pendidikan Tambusai pada 2024 secara khusus mengkaji sebaran lokasi dan karakteristik usaha Katupek Pitalah di Kabupaten Tanah Datar. Penelitian tersebut menemukan bahwa usaha kuliner ini pada umumnya merupakan usaha yang diwariskan secara turun-temurun dalam keluarga. Jurnal Pendidikan Tambusai

Kuliner yang Melekat dengan Pitalah

Secara umum, Katupek Pitalah terdiri atas ketupat yang disajikan bersama gulai berbahan nangka muda atau cubadak, rebung atau rabuang, dan lobak, dengan santan serta bumbu rempah sebagai pembentuk cita rasanya.

Platform Desa Wisata Kementerian Pariwisata menyebut salah satu ciri Katupek Pitalah adalah ukuran ketupat yang relatif besar dan gulainya yang kental, dengan perpaduan kelapa, nangka, lobak dan rebung. Katupek Pitalah juga dikaitkan dengan aktivitas pasar mingguan di Pitalah. Jadesta

Karakter tersebut membuat Katupek Pitalah mudah dibedakan dari sejumlah hidangan ketupat atau lontong lainnya yang berkembang di Sumatera Barat.

Kekuatan hidangan ini justru terletak pada kesederhanaannya: ketupat sebagai makanan pokok dipadukan dengan gulai sayuran yang kaya santan dan rempah.

Pitalah dan Bungo Tanjuang dalam Sejarahnya

Nama “Pitalah” dalam Katupek Pitalah menarik untuk ditelusuri karena sejarah kuliner ini tidak dapat dilepaskan dari hubungan antara Pitalah dan Bungo Tanjuang.

Penelitian Ridwan dan Rahmi mencatat hasil penelitian lapangan mengenai asal-usul usaha Katupek Pitalah yang diwariskan di masyarakat Bungo Tanjuang. Penelitian tersebut juga mencatat penuturan lokal bahwa Pitalah dan Bungo Tanjuang pada masa lalu pernah berada dalam satu kesatuan, sehingga nama “Pitalah” kemudian melekat pada makanan yang dikenal sebagai Katupek Pitalah. Jurnal Pendidikan Tambusai

Temuan tersebut perlu dipahami secara hati-hati. Ia merupakan hasil penelitian lapangan yang merekam penuturan lokal, bukan bukti arsip yang dapat memastikan siapa orang pertama yang menciptakan Katupek Pitalah.

Karena itu, secara historis lebih aman menyebut Katupek Pitalah sebagai warisan kuliner kawasan Pitalah–Bungo Tanjuang, daripada menetapkan secara mutlak bahwa makanan tersebut pertama kali diciptakan oleh satu nagari atau satu orang tertentu.

Pasar Pita Bunga Menjadi Ruang Penting

Hubungan Pitalah dan Bungo Tanjuang semakin terlihat melalui keberadaan Pasar Pita Bunga.

Menurut Direktorat Jenderal Kebudayaan, Pasar Pita Bunga merupakan pasar syarikat yang dimiliki bersama oleh dua nagari tersebut. Pasar ini berada pada kawasan yang dilintasi jalur kereta api dan memiliki sebuah stasiun kecil.

Pasar Pita Bunga juga memiliki nilai budaya yang lebih luas. Kawasan tersebut pernah menjadi salah satu kantong produksi songket Pitalah dan memiliki berbagai tradisi budaya masyarakat setempat. Dalam konteks itulah Katupek Pitalah menjadi salah satu produk gastronomi yang berkembang bersama kehidupan pasar. Kemdikbud Staging Portal

Keterkaitan antara kuliner dan pasar menjadi penting karena makanan tradisional tidak hanya berkembang melalui dapur keluarga, tetapi juga melalui ruang perjumpaan masyarakat.

Pasar menjadi tempat makanan dibuat, dijual, dinikmati, sekaligus dikenal oleh masyarakat dari berbagai daerah.

Ciri Khas Ada pada Gulai dan Ketupat

Dari sisi bahan, penelitian 2024 mencatat beras dan daun kelapa sebagai bahan ketupat, sementara gulainya menggunakan santan, nangka, rebung, lobak dan berbagai bumbu gulai. Jurnal Pendidikan Tambusai

Direktorat Jenderal Kebudayaan juga mencatat cara pengolahan tradisional di kawasan Pita Bunga. Gulai atau sayurnya dimasak dan disajikan dalam periuk belanga dari tanah liat, sedangkan ketupat dibuat menggunakan anyaman daun kelapa. Kemdikbud Staging Portal

Dengan demikian, karakter Katupek Pitalah bukan hanya terletak pada komposisi bahan, tetapi juga pada cara memasak dan penyajiannya.

Namun demikian, variasi resep antarpedagang tetap dimungkinkan. Tidak semua pelengkap yang ditemukan pada warung Katupek Pitalah di daerah lain harus dianggap sebagai bagian dari resep tradisional pokok.

Tradisi Memasak yang Dipertahankan

Penelitian Ridwan dan Rahmi juga mencatat praktik penggunaan kayu bakar dalam proses pengolahan Katupek Pitalah. Penggunaan kayu bakar disebut masih dipertahankan sebagai bagian dari tradisi yang diwariskan.

Penelitian tersebut juga mendokumentasikan cara pelaku usaha membawa gulai menuju pasar dengan menggunakan wadah tertentu dan membungkusnya agar tetap hangat. Jurnal Pendidikan Tambusai

Temuan ini memperlihatkan bahwa warisan kuliner tidak hanya berupa daftar bahan dan resep.

Dapur Keluarga sebagai Ruang Pewarisan

Katupek Pitalah juga memperlihatkan kuatnya peran keluarga dalam mempertahankan kuliner tradisional.

Penelitian 2024 menemukan bahwa usaha Katupek Pitalah pada umumnya diwariskan secara turun-temurun. Dari sembilan responden yang diteliti, delapan di antaranya perempuan dan satu laki-laki. Penelitian tersebut juga menemukan sejumlah pelaku usaha yang telah menjalankan usaha selama puluhan tahun. Jurnal Pendidikan Tambusai

Data tersebut memang tidak dapat dianggap mewakili seluruh pedagang Katupek Pitalah karena jumlah responden terbatas. Namun, temuan tersebut menunjukkan adanya pola pewarisan usaha yang kuat dalam keluarga.

Pengetahuan mengenai makanan tradisional dalam konteks ini tidak selalu diwariskan melalui buku resep. Sebagian justru diwariskan melalui praktik langsung di dapur dan warung.

Dari Pitalah ke Padang Panjang dan Daerah Lain

Katupek Pitalah kini tidak hanya dapat ditemukan di kawasan asalnya.

Penelitian 2024 memetakan keberadaan usaha Katupek Pitalah di sejumlah lokasi di Kabupaten Tanah Datar. Sementara itu, Pemerintah Kota Padang Panjang juga mencatat Katupek Pitalah sebagai salah satu menu sarapan yang telah lama dikenal masyarakat.

Salah satu usaha Katupek Pitalah di Padang Panjang bahkan disebut telah dirintis sejak 1975 dan kemudian diteruskan oleh generasi berikutnya. Pemilik usaha tersebut menyatakan bahwa keluarganya berasal dari Pitalah. Wisata Padang Panjang

Persebaran tersebut menunjukkan bahwa Katupek Pitalah telah melampaui batas geografis Pitalah.

Ia menjadi bagian dari lanskap kuliner Padang Panjang dan daerah lain, termasuk wilayah rantau masyarakat Minangkabau.

Katupek Pitalah dan Jalur Mobilitas Masyarakat

Kawasan Pitalah–Bungo Tanjuang juga memiliki keterkaitan dengan jaringan jalur kereta api dalam kawasan Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto.

Kajian mengenai warisan tersebut mencatat keberadaan Stasiun Pitalah di kawasan Pasar Pitalah Bungo Tanjuang. Kajian yang sama juga mencatat sebuah usaha Katupek Pitalah yang menggunakan bangunan Stasiun Batu Tabal sebagai tempat usaha. ResearchGate

Fakta tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa jalur kereta api merupakan penyebab utama persebaran Katupek Pitalah. Namun, keberadaan makanan tersebut di lingkungan pasar dan kawasan jalur transportasi memberikan konteks penting mengenai pertemuan antara kuliner, perdagangan dan mobilitas masyarakat.

Bukan Sekadar Menu Sarapan

Bagi masyarakat, Katupek Pitalah memang dikenal sebagai menu sarapan.

Namun dalam perspektif kebudayaan, makanan ini menyimpan cerita yang lebih panjang.

Ada sejarah kawasan Pitalah dan Bungo Tanjuang. Ada Pasar Pita Bunga. Ada tradisi memasak. Ada keluarga yang mempertahankan usaha selama puluhan tahun. Ada bahan pangan lokal yang diolah menjadi hidangan khas. Dan ada proses penyebaran kuliner dari kampung menuju daerah lain.

Karena itu, Katupek Pitalah dapat dilihat sebagai salah satu contoh bagaimana identitas budaya Minangkabau juga hidup melalui makanan.

Bukan hanya melalui adat, rumah gadang, pakaian atau kesenian, tetapi juga melalui makanan yang terus dimasak dan diwariskan.

Masih Membutuhkan Penelitian Lebih Lanjut

Meskipun sejumlah informasi mengenai Katupek Pitalah telah tersedia dalam penelitian dan dokumentasi pemerintah, sejarah kuliner ini masih memiliki sejumlah pertanyaan yang belum terjawab secara definitif.

Belum ditemukan sumber primer yang dapat memastikan siapa pembuat pertama Katupek Pitalah, kapan pertama kali makanan tersebut dibuat, dan kapan nama “Katupek Pitalah” mulai digunakan secara luas.

Karena itu, penelitian berikutnya penting dilakukan melalui wawancara dengan pelaku kuliner generasi tua, keluarga pewaris usaha, ninik mamak, pengelola pasar, serta pemerhati sejarah Pitalah dan Bungo Tanjuang.

Dokumentasi semacam itu penting dilakukan sebelum ingatan lisan mengenai sejarah kuliner ini semakin sulit ditelusuri.

Menjaga Katupek, Menjaga Cerita

Katupek Pitalah pada akhirnya bukan hanya tentang ketupat, gulai nangka, rebung dan lobak.

Ia adalah bagian dari perjalanan sebuah kawasan.

Dari Pitalah dan Bungo Tanjuang, melalui Pasar Pita Bunga, kemudian menyebar mengikuti pergerakan masyarakat hingga dikenal di berbagai daerah.

Menjaga Katupek Pitalah karena itu bukan hanya menjaga sebuah menu makanan.

Menjaganya berarti menjaga rasa sekaligus cerita yang menyertainya.


Sumber dan Referensi

  1. Ridwan, Ahmad & Rahmi, Lailatur. (2024). Analisis Sebaran Lokasi dan Karakteristik Usaha Katupek Pitalah di Kabupaten Tanah Datar Berbasis Geografis Informasi Sistem. Jurnal Pendidikan Tambusai, Vol. 8 No. 2, hlm. 17608–17622. DOI: 10.31004/jptam.v8i2.14880. Jurnal Pendidikan Tambusai – artikel penelitian Katupek Pitalah
  2. Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemendikbudristek. (2023). Galanggang Arang Pita Bunga: Perayaan Budaya di Jalur Kereta Api. Sumber penting mengenai Pasar Pita Bunga, Pitalah–Bungo Tanjuang, serta keberadaan Katupek Pitalah dalam kehidupan budaya kawasan. Kemendikdasmen – Galanggang Arang Pita Bunga
  3. Kementerian Pariwisata – Jadesta. Desa Wisata Katupek Pitalah, Pitalah, Batipuh, Tanah Datar. Sumber mengenai karakteristik ketupat, gulai dan keterkaitannya dengan pasar Minggu di Pitalah. Jadesta – Desa Wisata Katupek Pitalah
  4. Pemerintah Kota Padang Panjang. (2020). Katupek Pitalah, Menu Sarapan Pagi Legendaris yang Banyak Dinikmati. Sumber mengenai perkembangan Katupek Pitalah di Padang Panjang dan pewarisan usaha keluarga. Pemerintah Kota Padang Panjang – Katupek Pitalah
  5. Pemerintah Kota Padang Panjang – Dinas Pariwisata. Katupek Pitalah Simpang Padang. Sumber mengenai usaha Katupek Pitalah yang dirintis sejak 1975 dan hubungan pemiliknya dengan Pitalah. Wisata Padang Panjang – Katupek Pitalah Simpang Padang
  6. Kajian Warisan Tambang Batubara Ombilin–Sawahlunto. (2024). Dokumentasi mengenai Stasiun Pitalah dan keberadaan usaha Katupek Pitalah di Stasiun Batu Tabal. Kajian Warisan Tambang Batubara Ombilin–Sawahlunto

Download dalam bentuk buku di: https://ephi.web.id/download/buku-sepiring-dari-pita-bungo-jejak-katupek-pitalah-dari-pasar-minggu-ke-rantau/

IAII Sumatera Barat


Ikatan Ahli Informatika Indonesia (IAII) adalah organisasi profesi yang bertujuan meningkatkan kualitas teknologi informasi di Indonesia, melindungi masyarakat dari praktek buruk layanan ahli informatika, meningkatkan kemakmuran, martabat, kehormatan, dan peran ahli informatika Indonesia dalam rangka mencapai tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tercantum pada Pembukaan UUD 1945. Profil IAII
About Yuhefizar 299 Articles
just an ordinary person

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*