SIAPA ANGKU GUNUNG NAGO? Menelusuri Jejak Si Nago, Makam Tua, dan Mata Rantai Sejarah Salayo–Pauh

Makam tua di kawasan Gunung Nago, Lambung Bukik, Kecamatan Pauh, Kota Padang, telah dirawat masyarakat secara turun-temurun. Tradisi lisan menyebut tokoh yang dimakamkan sebagai Si Nago, seorang tokoh masyarakat dari suku Caniago yang berasal dari Solok Salayo dan dikenal sebagai ulama serta pengamal tarekat. Namun, siapa nama sebenarnya, kapan hidupnya, siapa gurunya, dan bagaimana hubungan tokoh itu dengan jaringan sejarah Pauh dan Salayo masih menjadi pertanyaan. Penelusuran terhadap arsip kolonial, penelitian akademik, dan sumber sejarah lisan membuka sejumlah petunjuk, sekaligus menyisakan misteri yang perlu diteliti lebih jauh

Siapa Angku Gunung Nago? Menelusuri Jejak Si Nago, Makam Tua, dan Mata Rantai Sejarah Salayo–Pauh

PADANG — Di kawasan Lambung Bukik, Kecamatan Pauh, Kota Padang, terdapat sebuah makam tua yang selama puluhan tahun dirawat masyarakat secara turun-temurun. Makam itu dikenal dengan sebutan Makam Angku Gunung Nago atau Si Nago.

Bagi masyarakat sekitar, tempat tersebut bukan sekadar pemakaman tua. Ia merupakan bagian dari ingatan kolektif yang berhubungan dengan sejarah kawasan, kehidupan pertanian, tradisi keagamaan dan cerita turun-temurun masyarakat Pauh.

Namun terdapat satu pertanyaan yang hingga kini belum mendapatkan jawaban yang memadai:

Siapakah sebenarnya orang yang disebut sebagai Angku Gunung Nago atau Si Nago itu?

Pertanyaan tersebut kembali mengemuka setelah pemberitaan mengenai makam tua itu pada September 2026. Masyarakat masih menjaga dan menghormati makam tersebut, tetapi identitas personal tokoh yang dimakamkan belum dapat dipastikan melalui dokumentasi sejarah yang kuat. (rakyatsumbar.id)

Penelusuran terhadap sejumlah sumber yang tersedia menunjukkan bahwa kasus ini jauh lebih kompleks daripada sekadar cerita tentang sebuah makam tua.

Makam yang masih hidup dalam ingatan masyarakat

Kesaksian masyarakat yang dimuat Rakyat Sumbar pada 27 September 2026 menunjukkan bahwa makam tersebut telah dikenal sejak generasi terdahulu.

Januardi Iwan, 85 tahun, mengatakan ia tidak mengetahui kapan makam itu pertama kali dibuat, tetapi makam tersebut sudah ada sejak dirinya masih kecil dan telah diziarahi masyarakat. Ia juga mengingat adanya kebiasaan masyarakat datang menjelang musim panen sambil membawa sedekah berupa beras, padi dan bahan kebutuhan lainnya. Sementara Emak Tini, 65 tahun, menyatakan bahwa sejak kecil ia telah mengenal makam tersebut dan mengetahui bahwa tempat itu dijaga secara turun-temurun. (rakyatsumbar.id)

Kesaksian itu menunjukkan satu hal penting: keberadaan makam relatif bertahan, tetapi pengetahuan mengenai siapa tokoh yang dimakamkan justru semakin kabur. Rakyat Sumbar mencatat bahwa masyarakat saat ini belum mengetahui secara pasti identitas orang tersebut. (rakyatsumbar.id)

Fenomena inilah yang membuat makam Gunung Nago layak dilihat sebagai persoalan sejarah lisan dan pelestarian memori kolektif, bukan semata-mata persoalan pemakaman.

Catatan penting dari tahun 2012: muncul nama Si Nago

Jejak tertulis yang cukup rinci mengenai tokoh tersebut ditemukan dalam tulisan Usman Jambak, yang dimuat dalam Harian Umum Interpos tanggal 10 Agustus 2012 dan kemudian terdokumentasi kembali secara daring.

Dalam tulisan “Misteri Bukik Gunuang Nago”, disebutkan bahwa di puncak Bukit Gunung Nago terdapat beberapa makam tua. Penulis menyebut, dahulu terdapat bangunan berkubah yang menaungi lima makam, dan salah satunya disebut sebagai makam seseorang yang bernama Si Nago. (Ilalang Hilang)

Menurut kesaksian Yulidar, yang disebut sebagai Bundo Kanduang Lambung Bukit, Si Nago merupakan tokoh masyarakat dari pasukuan Chaniago, berasal dari Nagari Solok Salayo, kemudian berhijrah ke Padang dan menetap di Lambung Bukit. Ia disebut sebagai ulama terkemuka pada masanya dan orang yang kuat memegang tarekat. (Ilalang Hilang)

Informasi ini sangat penting, tetapi juga harus ditempatkan dengan hati-hati.

Sebab sumber tersebut adalah dokumentasi sejarah lisan, bukan dokumen primer yang memuat nama lahir, tanggal hidup, guru, silsilah atau karya Si Nago.

Dengan demikian, yang dapat dikatakan saat ini adalah:

“Si Nago” merupakan identitas yang hidup dalam tradisi lokal, sementara nama personal dan riwayat biografinya belum berhasil diverifikasi melalui sumber primer.

Si Baco dan Maradu Balang: tokoh lain dalam kompleks makam

Sumber yang sama juga menyebut tokoh lain yang sangat menarik, yakni Si Baco, bergelar Maradu Balang.

Si Baco disebut berasal dari Nagari Solok Salayo, kemudian tinggal di Lambung Bukit dan pada saat wafat dimakamkan di Gunung Nago. Dalam tulisan tersebut disebut angka 1866 M dalam konteks makam Si Baco. Ia digambarkan sebagai tokoh masyarakat yang dikenal sebagai urang bagak dan urang siak. (Ilalang Hilang)

Yang menarik, tulisan itu membedakan Si Baco dengan Si Nago.

Karena itu, berdasarkan sumber yang tersedia saat ini, keduanya sebaiknya diperlakukan sebagai dua tokoh berbeda sampai ada bukti yang menunjukkan sebaliknya.

Pertanyaan berikutnya pun muncul:

Apakah keduanya satu kaum?

Apakah mereka sezaman?

Apakah ada hubungan guru dan murid?

Apakah mereka sama-sama berasal dari jaringan Caniago Salayo?

Mengapa mereka sama-sama berakhir di kompleks makam Gunung Nago?

Belum ada sumber yang cukup untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Gunung Nago ternyata lebih dahulu dikenal sebagai tempat

Salah satu temuan penting dari penelitian ini adalah adanya kebutuhan untuk membedakan Gunung Nago sebagai nama tempat dari Si Nago sebagai nama tokoh.

Arsip yang tercatat pada Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) memuat surat keputusan Hindia Belanda bertanggal 25 Maret 1918 mengenai izin penggunaan Sungai Kuranji di Kampung Gunung Nago selama dua tahun. Dokumen tersebut merupakan bagian dari khazanah arsip PT Semen Padang yang telah dicatat dalam daftar Memori Kolektif Bangsa. (Memory of the World Indonesia)

Artinya, pada 1918 Gunung Nago sudah digunakan sebagai nama kampung dalam administrasi kolonial.

Ada pula bukti tekstual dalam Kitab Sariboe Pantoen, Ibarat dan Taliboen yang dicetak di Padang pada awal abad ke-20. Di dalamnya terdapat bait yang memuat istilah “goenoeng nago”. Temuan ini menunjukkan bahwa istilah tersebut telah hadir dalam karya cetak lokal pada periode tersebut.

Karena itu, satu teori yang harus diuji secara kritis adalah apakah nama Gunung Nago berasal dari nama tokoh Si Nago, atau justru Si Nago merupakan tokoh yang kemudian dimakamkan di kawasan yang sudah bernama Gunung Nago.

Untuk sementara, pertanyaan tersebut belum dapat dipastikan.

Lalu, dari mana nama Sianik?

Misteri berikutnya berkaitan dengan nama Sianik.

Tulisan Usman Jambak tahun 2012 menyebut bahwa kawasan yang disebut Tampat/Bukit Gunung Nago sebelumnya bernama Sianik, yang dikaitkan dengan jenis tumbuhan atau rumput yang tumbuh di kawasan tersebut. (Ilalang Hilang)

Namun dalam tradisi sejarah Pauh, Sianik juga muncul dalam narasi asal-usul masyarakat yang berkaitan dengan kawasan Solok. Di sisi lain, nama Sawah Sianik masih dikenal sebagai nama tempat di Kota Solok.

Apakah Sianik di Gunung Nago mempunyai hubungan dengan Sianik di Solok?

Belum ada bukti primer yang memungkinkan kita menyimpulkan demikian.

Tetapi pertanyaan tersebut menjadi penting karena sumber tentang Si Nago sendiri menyebut Solok Salayo sebagai daerah asalnya. (Ilalang Hilang)

Hubungan Salayo–Pauh bukan sekadar cerita Si Nago

Penelitian tentang sejarah dan masyarakat Pauh menunjukkan adanya tradisi asal-usul yang menghubungkan masyarakat Pauh dengan wilayah Solok Salayo.

Dalam berbagai sumber mengenai sejarah Pauh, muncul narasi mengenai rombongan dari wilayah Kubung Tigo Baleh/Solok, termasuk tokoh yang dikaitkan dengan suku Caniago.

Fakta ini tidak membuktikan bahwa Si Nago merupakan keturunan tokoh tertentu dalam cerita asal-usul Pauh. Namun ia memberikan konteks yang penting: hubungan Solok Salayo dengan Pauh memang merupakan bagian dari memori sejarah masyarakat setempat.

Karena itu, cerita bahwa Si Nago berasal dari Salayo dan kemudian menetap di Lambung Bukit memiliki konteks sejarah wilayah yang perlu diteliti lebih jauh.

Gunung Nago bukan hanya makam: ada sejarah ritual dan pertanian

Penelitian akademik memberikan lapisan informasi yang lebih tua lagi.

Sebuah skripsi sarjana antropologi Universitas Andalas tahun 2000 berjudul:

“Tradisi Berkaul ke Gunung Nago pada Masyarakat Pauh Kotamadya Padang.”

Keberadaan penelitian tersebut dan ringkasan kesimpulannya tercatat dalam karya akademik lain. Penelitian itu menyimpulkan bahwa tradisi berkaul di Gunung Nago berkaitan dengan aktivitas pertanian, terutama permohonan keselamatan dan keberhasilan panen, dengan kunjungan ke kuburan yang dianggap keramat kemudian dilanjutkan ke sawah. (Repository Universitas Negeri Padang)

Temuan tersebut sangat penting.

Sebab artinya, Gunung Nago telah menjadi objek penelitian akademik sedikitnya sejak 2000, bukan baru menjadi perhatian pada 2012 atau 2026.

Dengan demikian, setidaknya terdapat tiga lapisan dokumentasi:

2000 — penelitian antropologi

2012 — dokumentasi sejarah lisan mengenai Si Nago dan Si Baco

2026 — kesaksian masyarakat dan desakan penelitian akademik

Tiga lapisan ini seharusnya dibandingkan secara sistematis.

Gunung Nago berada dalam lanskap pertanian dan air yang penting

Kajian Universitas Andalas mengenai DAS Kuranji menyebut Bendung Gunung Nago di Kelurahan Lambung Bukit sebagai salah satu sumber air penting bagi masyarakat. Airnya digunakan untuk sawah, kolam ikan dan aktivitas sehari-hari. Dalam kondisi normal, bendung tersebut disebut dapat mengairi sekitar 2.800 hektare sawah. (Unand Repository)

Data Dinas PSDA Sumatera Barat juga mencatat Daerah Irigasi Gunung Nago yang melayani berbagai wilayah Pauh, termasuk Pisang, Binuang Kampung Dalam, Piai Tangah dan Lambung Bukit. (PPID Sumbarprov)

Konteks ini membantu menjelaskan mengapa tradisi berkaul di Gunung Nago yang diteliti pada 2000 mempunyai hubungan erat dengan keselamatan dan panen.

Dengan kata lain, Gunung Nago tidak berdiri sebagai situs terisolasi. Ia berada dalam lanskap sungai, bendung, sawah, permukiman, makam dan tradisi keagamaan.

Ada jejak tradisi tasawuf di kawasan Gunung Nago

Satu petunjuk yang masih perlu dikejar adalah sebuah buku yang tercantum dalam bibliografi akademik:

Bustami, R. 1986. Mempelajari Ilmu Tashauf. Kapalo Koto/Gunung Nago Kecamatan Pauh Kodya Padang.

Referensi tersebut tercantum dalam artikel ilmiah Jurnal Musik Etnik Nusantara terbitan ISI Padangpanjang. Artikel yang sama juga menggunakan karya Oman Fathurahman tentang Tarekat Syattariyah di Minangkabau serta sumber mengenai pengajian tarekat Syattariyah sebagai referensi. (ISI Padang Panjang Journal)

Temuan ini menarik karena sumber lisan 2012 menyebut Si Nago sebagai tokoh yang kuat memegang tarekat. (Ilalang Hilang)

Tetapi hubungan langsung antara Si Nago dengan tarekat tertentu belum terbukti.

Demikian pula, belum diketahui apakah buku R. Bustami mempunyai hubungan langsung dengan Si Nago.

Buku tersebut justru menjadi sumber yang layak dicari dan diperiksa naskah aslinya.

Caniago menjadi kunci berikutnya

Penelitian akademik Universitas Andalas tahun 2026 mengenai gala mudo Urang Nan Limo Suku di Nagari Pauh V menggunakan observasi, wawancara mendalam dan teknik snowball sampling pada masyarakat lima suku di enam kelurahan. Studi itu menunjukkan bahwa sistem gelar adat di Pauh masih dapat ditelusuri melalui struktur kaum dan silsilah. (ResearchGate)

Penelitian tersebut juga menunjukkan keberadaan berbagai gala, termasuk Malin, Pandeko/Panduka, Rajo, Bandaro, Sutan, dan lainnya. Dalam struktur adat yang dijelaskan peneliti, karakter Pandik/Pandito berkaitan dengan posisi ulama/orang siak, sedangkan malin memiliki kaitan dengan pengetahuan agama. (Jiip)

Informasi ini memberi arah penelitian yang baru.

Sangat mungkin bahwa penelitian Si Nago tidak cukup dilakukan melalui pencarian nama “Si Nago”. Kita perlu menelusuri:

Caniago → kaum → ranji → gelar → tokoh agama → surau → guru/murid.

Bisa saja nama yang sekarang diingat sebagai “Si Nago” pada masa hidupnya mempunyai nama atau gelar lain.

Itu masih hipotesis yang harus dibuktikan.

Apa yang sebenarnya sudah kita ketahui?

Untuk menghindari pencampuran antara fakta dan cerita lisan, sementara ini data dapat disusun sebagai berikut:

Temuan Status
Gunung Nago/Lambung Bukit merupakan kawasan nyata di Pauh Terbukti
“Kampung Gunung Nago” tercatat dalam dokumen Hindia Belanda 1918 Terbukti (Memory of the World Indonesia)
Gunung Nago mempunyai jaringan irigasi dan sejarah pertanian penting Terbukti (Unand Repository)
Tradisi berkaul di Gunung Nago pernah diteliti secara akademik Terbukti; penelitian 2000 disebut dalam karya akademik lain (Repository Universitas Negeri Padang)
Kompleks makam tua pernah memiliki beberapa makam Dokumentasi sejarah lisan 2012 (Ilalang Hilang)
Salah satu makam dikenal sebagai Si Nago Tradisi lisan yang terdokumentasi 2012 (Ilalang Hilang)
Si Nago berasal dari Solok Salayo Tradisi lisan (Ilalang Hilang)
Si Nago berasal dari Caniago Tradisi lisan (Ilalang Hilang)
Si Nago dikenal sebagai ulama/tokoh tarekat Tradisi lisan (Ilalang Hilang)
Si Baco/Maradu Balang merupakan tokoh lain yang dikaitkan dengan kompleks tersebut Tradisi lisan 2012 (Ilalang Hilang)
Si Baco dan Si Nago adalah orang yang sama Belum terbukti
Nama asli Si Nago Belum ditemukan
Tahun lahir dan wafat Si Nago Belum ditemukan
Guru dan murid Si Nago Belum ditemukan
Tarekat Si Nago secara spesifik Belum ditemukan
Ranji keluarga Si Nago Belum ditemukan

Mengapa penelitian ini penting sekarang?

Sebab sumber lisan masih ada, tetapi mulai menghilang.

Berita Rakyat Sumbar pada September 2026 menunjukkan bahwa generasi tua masih mengingat keberadaan makam dan sebagian tradisinya, tetapi identitas tokoh yang dimakamkan tidak lagi diketahui dengan jelas. Sumber itu sendiri mendorong penelitian melalui nisan, ranji keluarga, tambo, catatan surau, arsip keagamaan, serta dokumen sejarah Solok Salayo dan Lambung Bukik. (rakyatsumbar.id)

Di sisi lain, kita telah mengetahui bahwa struktur adat Pauh dan jaringan gelar masih dapat ditelusuri melalui penelitian lapangan kontemporer. (ResearchGate)

Ini berarti penelitian tersebut masih mungkin dilakukan.

Tetapi waktunya penting.

Setiap tahun, semakin sedikit orang yang mungkin masih mengetahui cerita dari generasi sebelumnya.

Dari makam menuju penelitian

Pertanyaan penelitian yang sekarang dapat diajukan bukan lagi sekadar:

“Siapa Angku Gunung Nago?”

tetapi:

“Siapakah Si Nago yang dalam tradisi masyarakat disebut berasal dari Caniago Solok Salayo dan menetap di Lambung Bukit, serta bagaimana kedudukannya dalam jaringan sosial, adat dan keagamaan masyarakat Pauh?”

Pertanyaan lain yang juga perlu diteliti adalah:

Apakah kompleks Gunung Nago merupakan pusaro kaum atau kompleks makam beberapa tokoh?

Siapa lima tokoh yang dahulu disebut dimakamkan di bawah bangunan berkubah?

Siapa Si Baco/Maradu Balang dan bagaimana hubungannya dengan Si Nago?

Apakah Si Nago mempunyai gelar adat atau gelar agama yang berbeda dari nama yang dikenal sekarang?

Surau mana yang menjadi tempat belajar atau mengajar Si Nago?

Tarekat apa yang berkembang di lingkungan tersebut?

Apakah terdapat hubungan keilmuan antara Solok Salayo dan Lambung Bukit?

Dan apakah nama Gunung Nago mempunyai hubungan langsung dengan tokoh Si Nago, atau merupakan toponim yang telah lebih dahulu ada?

Ajakan untuk peneliti

Penelusuran awal ini belum dimaksudkan untuk memberikan kesimpulan final tentang identitas Si Nago.

Sebaliknya, temuan yang ada menunjukkan bahwa Gunung Nago menyimpan persilangan sejarah lokal, sejarah Islam, adat Minangkabau, migrasi Salayo–Pauh, tradisi pertanian dan sejarah lisan masyarakat.

Karena itu, penelitian lebih lanjut idealnya melibatkan beberapa bidang sekaligus:

sejarah untuk menelusuri dokumen dan kronologi;

antropologi untuk mengkaji sejarah lisan dan ritual;

filologi untuk menelusuri manuskrip, tambo dan catatan keagamaan;

arkeologi/epigrafi untuk mengkaji kompleks makam dan nisan;

kajian adat untuk menelusuri ranji serta hubungan Caniago Salayo–Pauh;

dan kajian sejarah Islam/tarekat untuk menelusuri jaringan guru dan murid.

Makam masih ada, tetapi siapa yang dimakamkan di dalamnya?

Pada akhirnya, inilah pertanyaan yang tersisa.

Makamnya masih ada.

Nama Gunung Nago masih hidup sebagai nama kawasan.

Tradisi masyarakat masih menyisakan potongan cerita.

Ada nama Si Nago.

Ada nama Si Baco/Maradu Balang.

Ada kaitan dengan Solok Salayo dan Caniago.

Ada sejarah berkaul dan tradisi keagamaan.

Ada pula jejak administrasi kolonial yang membuktikan bahwa Kampung Gunung Nago sudah dikenal setidaknya pada 1918. (Memory of the World Indonesia)

Namun nama lengkap tokoh, perjalanan hidup, guru, keluarga, dan karya-karyanya belum ditemukan secara memadai.

Di situlah penelitian ini bermula.

Bukan untuk memperkuat legenda, melainkan untuk menyelamatkan sejarah sebelum bagian-bagian yang tersisa hanya menjadi ingatan samar.

Makamnya masih ada. Ceritanya masih tersisa. Tetapi siapa sebenarnya Si Nago?

Pertanyaan itu kini terbuka untuk dijawab bersama oleh peneliti.

 

IAII Sumatera Barat


Ikatan Ahli Informatika Indonesia (IAII) adalah organisasi profesi yang bertujuan meningkatkan kualitas teknologi informasi di Indonesia, melindungi masyarakat dari praktek buruk layanan ahli informatika, meningkatkan kemakmuran, martabat, kehormatan, dan peran ahli informatika Indonesia dalam rangka mencapai tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tercantum pada Pembukaan UUD 1945. Profil IAII
About Yuhefizar 298 Articles
just an ordinary person

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*