Dari foto-foto perjalanan, kalimat-kalimat sederhana, hingga renungan tentang hidup, waktu, sesama, dan perjalanan pulang kepada-Nya.
Padang — Ada kalimat yang lahir bukan dari meja kerja, bukan pula dari rencana untuk menulis sebuah buku. Ia bisa muncul begitu saja ketika seseorang sedang berjalan, menunggu kereta, duduk di sebuah kafe, memandang sawah, menunggu penerbangan, atau sekadar menjalani hari.
Dari kebiasaan sederhana itulah buku Di Jalan, Saya Menemukan Kata karya Yuhefizar lahir.
Buku dengan subjudul Catatan Kecil dari Perjalanan, Keseharian, dan Renungan ini merupakan pengembangan dari kumpulan tulisan pendek yang sejak awal 2022 hingga awal 2024 dibagikan melalui situs pribadi penulis. Setiap kali sebuah pikiran terasa layak dibagikan, Yuhefizar menuliskannya di atas sebuah foto, kemudian membagikannya kepada siapa saja yang mungkin membutuhkan.
Awalnya tidak ada rencana besar untuk menjadikannya sebuah buku. Namun, setelah terkumpul lebih dari seratus gambar, penulis kembali membacanya satu per satu. Di sana ternyata ada benang merah yang mempertemukan berbagai kalimat tersebut: tentang niat, ego, kesabaran, syukur, waktu, ujian, karya, hubungan dengan sesama, alam, hingga bagaimana manusia memaknai kehidupan dan perjalanan menuju Sang Pencipta.
Bukan Buku Nasihat, Melainkan Teman dalam Perjalanan
Buku ini tidak dimaksudkan sebagai kumpulan nasihat. Justru sebaliknya, ia lahir dari pengingat-pengingat kecil untuk diri sendiri.
Setiap kutipan dalam buku ditempatkan bersama foto yang menjadi bagian dari perjalanan penulis, kemudian disertai renungan singkat. Pembaca tidak diajak untuk menerima sebuah kebenaran secara sepihak, tetapi diajak berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: apa yang bisa saya lakukan dengan kalimat ini hari ini?
Karena itu, buku ini tidak harus dibaca secara berurutan. Pembaca dapat membuka halaman mana saja, membaca satu kalimat, menikmati fotonya, lalu berhenti sejenak untuk merenung.
Lima Ruang untuk Memandang Kehidupan
Isi buku disusun dalam lima bagian yang menggambarkan perjalanan batin dan keseharian manusia.
Bagian pertama, Menata Hati, mengajak pembaca berbicara tentang niat, ego, aib, sabar, syukur, serta kebiasaan membandingkan jalan hidup dengan orang lain.
Bagian kedua, Menjalani Waktu, membawa pembaca pada kesadaran tentang sisa usia, kesempatan memperbaiki diri, dan bagaimana menghadapi ujian sebagai ruang untuk menemukan kekuatan.
Bagian ketiga, Bergerak dan Berkarya, mengingatkan bahwa hidup tidak boleh berhenti. Ada saatnya seseorang harus terus melangkah, berkarya, dan tidak terus bersembunyi di balik kata “nanti” atau “tapi”.
Bagian keempat, Hidup Bersama, berbicara tentang menjaga rasa dengan sesama, berbagi, membantu, dan menempatkan dunia di tangan, bukan di hati.
Sementara Bagian kelima, Akar dan Jeda, mengajak pembaca kembali kepada alam, mengambil pelajaran dari lingkungan sekitar, serta menikmati jeda sederhana, bahkan dari secangkir teh atau kopi.
Struktur tersebut kemudian ditutup dengan satu kesadaran sederhana: hidup adalah perjalanan. Sepatah-Kata-Sepanjang-Jalan_le…
Dari Perjalanan, Menjadi Pengingat
Bagi Yuhefizar, perjalanan tidak selalu berarti berpindah dari satu kota ke kota lain. Perjalanan juga terjadi di dalam diri: ketika seseorang belajar merunduk, belajar bersabar, belajar bersyukur, belajar menerima ujian, belajar memperlakukan orang lain, dan belajar memahami bahwa waktu terus berjalan.
Salah satu gagasan yang berulang dalam buku ini adalah bahwa manusia tidak perlu takut berjalan perlahan. Yang perlu ditakuti adalah ketika langkah benar-benar berhenti. Dalam salah satu renungannya, penulis mengingatkan bahwa yang lambat tetap bergerak, dan yang bergerak pada akhirnya akan sampai.
Di titik lain, buku ini mengajak pembaca untuk tidak membandingkan jalan hidupnya dengan orang lain. Sebab setiap orang memiliki bekal, beban, dan waktu tempuh yang berbeda. Perbandingan yang paling adil, pada akhirnya, adalah dengan diri sendiri yang kemarin.
Soft Launching: Membuka Sebuah Perjalanan Baru
Kini, setelah perjalanan panjang dari kumpulan gambar dan catatan kecil menjadi sebuah buku, Di Jalan, Saya Menemukan Kata memasuki babak baru melalui soft launching.
Bagi penulis, soft launching ini bukan sekadar memperkenalkan sebuah buku kepada pembaca. Ia merupakan cara sederhana untuk kembali melepas kata-kata tersebut berjalan—sebagaimana dahulu kalimat-kalimat itu dilepas melalui foto dan tulisan.
Jika sebelumnya kata-kata tersebut hadir melalui perjalanan penulis, kini ia berharap kata-kata itu dapat menemukan perjalanan masing-masing di hati para pembacanya.
Sebab mungkin saja, sebuah kalimat yang bagi penulis hanyalah pengingat sederhana, justru menjadi sesuatu yang sedang dibutuhkan seseorang pada hari itu.
Dan mungkin, itulah alasan sebuah kata perlu berjalan.
Di jalan, kita bertemu banyak hal.
Di antara banyak hal itu, kadang kita menemukan sebuah kata.
Lalu dari sebuah kata, kita menemukan makna.
Di Jalan, Saya Menemukan Kata.
Tentang Penulis
Yuhefizar, biasa disapa Ephi Lintau, hanyalah seorang yang masih terus belajar: dari buku, dari perjalanan, dan dari orang-orang yang ditemuinya di sepanjang jalan.
Kalimat-kalimat dalam buku ini pada mulanya adalah pengingat untuk dirinya sendiri, yang ia catat di sela keseharian lalu ia bagikan di ephi.web.id dengan harapan ada yang ikut mengambil manfaat. Ia tinggal di Padang, Sumatera Barat, dan masih terus berusaha mengamalkan apa yang ia tuliskan.
Download buku di https://ephi.web.id/download/di-jalan-saya-menemukan-kata/



Leave a Reply