Pagi itu, saya berangkat dari rumah dengan satu niat sederhana: menepati janji.
Pukul 08.00 saya harus sudah standby di lobby kampus untuk menunggu seorang narasumber. Karena itu, sekitar pukul 07.45 saya berangkat dari rumah dengan mobil, perkiraan biasanya butuh waktu 15 menit .
Namun baru berjalan sekitar satu-dua menit, saya mulai merasakan sesuatu yang tidak biasa. Setir mobil terasa terus menarik ke kiri. Ada perasaan bahwa sesuatu tidak beres dengan mobil. Saya pun mulai curiga pada ban.
Setelah sekitar satu kilometer, saya menemukan tempat yang aman untuk berhenti. Ketika diperiksa, ternyata benar. Ban depan mobil sebelah kiri sudah bocor habis.

Saya melihat jam. Sudah pukul 07.50. ini pasti saya sudah terlambat datang. Membawa mobil ke bengkel rasanya tidak mungkin. Waktu terlalu sempit dan belum tentu bengkel sudah buka pagi-pagi. Akhirnya saya memutuskan kembali ke rumah, untuk memarkir mobil, lalu berganti kendaraan dengan motor. Nanti sore saja diganti ban mobil dalam pikiran saya.
Saya kemudian menelepon seorang teman agar standby di lobby kampus menggantikan saya menunggu narasumber, karena saya kemungkinan terlambat. Jangan sampai narasumber datang duluan, karena posisi kita adalah yang mengundang.
Perjalanan pulang pun harus dilakukan perlahan. Ban mobil sudah benar-benar kempes. Sesampainya di rumah, saya baru turun dari mobil dan meminta kunci motor kepada istri. Saya harus segera berangkat karena khawatir narasumber datang lebih dulu.
Tetapi sebelum saya sempat pergi, datang seorang pemuda dengan motornya. Saya mengenalnya. Ia tinggal di sekitar tempat saya.
“Pak, tadi saya lihat Bapak bawa mobil, bannya kempes. Saya sudah panggil-panggil, mungkin Bapak tidak dengar.”
Saya mengiyakan sambil melihat kondisi ban. Lalu ia berkata sederhana,
“Saya bantu ganti dengan ban serep ya, Pak. Tidak lama kok.”
Saya terdiam sejenak.
Saya tidak memanggilnya.
Saya tidak mencarinya.
Saya bahkan belum sempat meminta bantuan kepada siapa pun.
Tetapi pertolongan itu datang begitu saja.
Lima menit kemudian, ban serep sudah terpasang. Sayapun mengucapkan terima kasih banyak atas bantuannya. Saya pun segera berangkat ke kampus dengan mobil dengan salah satunya menggunakan ban serep. Sampai dikampus sekitar pukul 08.20.

Saya sempat merasa lega sekaligus tidak enak karena terlambat, khawatir terlambat dan narasumber telah datang.
Tetapi ternyata, narasumber yang saya tunggu juga belum tiba. Saya masih sempat menyambut beliau. Saat itu saya tersenyum dan dalam hati berkata, Alhamdulillah.
Pagi itu saya merasa seperti sedang diingatkan tentang sesuatu yang sering kita lupakan: tidak semua hal yang kita anggap sebagai hambatan benar-benar menjadi penghalang.
Kadang sebuah kejadian yang membuat kita panik justru membawa kita kepada sesuatu yang tidak pernah kita rencanakan.
Ban bocor membuat saya kembali ke rumah.
Kembali ke rumah mempertemukan saya dengan seorang pemuda yang datang membawa pertolongan tanpa diminta, seolah2 ada yang mengirim dia untuk membantu, ntahlah. Dan keterlambatan yang saya khawatirkan ternyata tidak menjadi masalah. Semuanya terjadi dalam rangkaian yang sederhana, tetapi terasa begitu indah ketika direnungkan.
Ada satu hal lagi yang kemudian terlintas di pikiran saya.
Mungkin saja pertolongan seperti ini adalah salah satu cara Allah mengingatkan kita bahwa kebaikan tidak pernah benar-benar hilang.
Saya tidak tahu apakah pemuda itu hadir karena ada kebaikan yang pernah saya lakukan sebelumnya. Saya juga tidak tahu apakah kejadian pagi itu adalah “balasan” dari sesuatu yang pernah saya kerjakan. Saya tidak ingin memastikan sesuatu yang memang tidak saya ketahui.
Tetapi saya percaya pada satu hal: Allah bisa menghadirkan kebaikan melalui siapa saja, kapan saja, dan dengan cara yang sering kali tidak kita duga.
Dan mungkin, kebaikan yang pernah kita lakukan sekecil apa pun juga tidak pernah benar-benar sia-sia. Bisa jadi ia kembali bukan dalam bentuk yang sama.
Kita pernah membantu seseorang, tetapi suatu hari kita yang dibantu orang lain.
Kita pernah memudahkan urusan seseorang, tetapi di waktu lain Allah memudahkan urusan kita.
Kita pernah memberikan waktu kepada seseorang, lalu pada suatu hari seseorang memberikan waktunya untuk kita.
Bukan berarti kita berbuat baik supaya suatu saat mendapat balasan.
Justru sebaliknya.
Kita berbuat baik karena memang itulah yang seharusnya kita lakukan.
Soal kapan kebaikan itu kembali, kepada siapa ia kembali, dan dalam bentuk apa ia kembali, biarlah menjadi urusan Allah. Sebab boleh jadi, pertolongan yang kita terima hari ini bukan semata-mata tentang diri kita. Bisa jadi Allah sedang memperlihatkan bahwa di tengah kesibukan dan kerasnya kehidupan, masih ada orang-orang yang peduli.
Masih ada tangan yang bersedia membantu.
Masih ada kebaikan yang bekerja dalam diam.
Dan mungkin, tanpa kita sadari, kita pun pernah menjadi alasan seseorang merasa ditolong pada suatu hari.
Pagi itu saya belajar satu hal sederhana:
Jangan pernah bosan berbuat baik, meskipun kita tidak tahu kapan dan bagaimana kebaikan itu akan menemukan jalannya kembali.
Tidak perlu menunggu balasan.
Tidak perlu menghitungnya.
Cukup lakukan kebaikan karena Allah.
Karena ketika suatu saat kita berada dalam kesulitan, bisa saja Allah menghadirkan pertolongan melalui jalan yang sama sekali tidak pernah kita bayangkan.
Seperti pagi itu.
Saya tidak memanggilnya.
Saya tidak mencarinya.
Ia hanya datang.
Dan dalam waktu sekitar lima menit, sesuatu yang semula membuat saya panik menjadi selesai.
Mungkin memang bukan kebetulan yang perlu kita jelaskan. Mungkin cukup kita syukuri.
Alhamdulillah, karena di tengah perjalanan yang sempat terasa tidak sesuai rencana, Allah mempertemukan saya dengan sebuah pertolongan dan sekaligus mengingatkan saya untuk terus menanam kebaikan, tanpa pernah sibuk menghitung kapan ia akan kembali.
Yuhefizar.


Leave a Reply