Amanah Baru untuk Mengabdi: Kembali ke Almamater, Membangkitkan Madrasah Thawalib Lubuk Jantan

Sebuah Catatan dari Madrasah yang Membesarkan Saya

Oleh: Dr. Ir. Yuhefizar, S.Kom., M.Kom.

“Sesungguhnya sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad)

Ada satu momen yang tidak akan mudah saya lupakan.

Minggu pagi, 2 Agustus 2026. Di hadapan Wali Nagari Lubuk Jantan, alim ulama, niniak mamak, cadiak pandai, tokoh masyarakat, guru, alumni, dan masyarakat yang hadir, saya berdiri untuk menerima amanah sebagai Ketua Pengurus Madrasah Thawalib Lubuk Jantan Periode 2026–2029.

Di tengah prosesi pengukuhan itu, pikiran saya justru melayang puluhan tahun ke belakang.

Saya membayangkan seorang anak kecil yang setiap pagi berjalan menuju madrasah dengan seragam sederhana, membawa buku pelajaran, duduk di ruang kelas, mendengarkan nasihat guru, belajar membaca Al-Qur’an, belajar menghormati orang tua, dan belajar mencintai ilmu.

Anak kecil itu adalah saya.

Hari itu saya menyadari bahwa Allah SWT sedang memperlihatkan sebuah perjalanan kehidupan yang begitu indah.

Dulu saya datang ke Madrasah Thawalib sebagai seorang murid.
Hari ini saya kembali ke Madrasah Thawalib sebagai seorang pengabdi.

Jabatan Adalah Amanah

Alhamdulillahirabbil ‘alamin.

Pada hari itu, saya dikukuhkan sebagai Ketua Pengurus Madrasah Thawalib Lubuk Jantan Periode 2026–2029 berdasarkan Keputusan Wali Nagari Lubuk Jantan Nomor 51 Tahun 2026.

Banyak sahabat menyampaikan ucapan selamat.
Namun, terus terang, hati saya lebih banyak dipenuhi rasa takut daripada rasa bangga.
Saya selalu meyakini bahwa jabatan bukanlah sebuah penghargaan atas keberhasilan seseorang.
Jabatan adalah amanah.
Amanah bukan untuk dibanggakan, tetapi untuk dipertanggungjawabkan.
Bukan hanya di hadapan masyarakat yang memberikan kepercayaan, tetapi juga di hadapan Allah SWT.
Karena itulah saya menerima amanah ini dengan penuh rasa syukur sekaligus kerendahan hati.

Kembali ke Tempat Saya Belajar

Sebelum menerima amanah ini, saya sempat bertanya kepada diri sendiri, mengapa saya harus menerima tanggung jawab ini?

Jawabannya akhirnya saya temukan ketika mengingat kembali masa kecil saya.
Di sinilah saya pernah belajar. Di sinilah saya ditempa. Di sinilah perjalanan pendidikan saya dimulai.
Madrasah Thawalib Lubuk Jantan bukan sekadar sebuah lembaga pendidikan bagi saya.

Ia adalah bagian dari perjalanan hidup yang membentuk karakter, menanamkan nilai-nilai agama, mengajarkan adab, kedisiplinan, dan semangat menuntut ilmu.

Dari madrasah inilah saya memperoleh bekal awal untuk melanjutkan perjalanan pendidikan hingga akhirnya mengantarkan saya menjadi seorang dosen, peneliti, dan pendidik.

Karena itu, ketika Allah SWT memberikan kesempatan untuk kembali mengabdi kepada almamater, rasanya tidak pantas jika saya hanya menjadi penonton.

Saya merasa sudah saatnya memberikan sesuatu kembali kepada sekolah yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup saya.

Saya meyakini bahwa setiap orang memiliki waktunya untuk belajar, waktunya untuk berkarya, dan waktunya pula untuk mengabdi.
Bagi saya, amanah ini adalah fase pengabdian.

Sebuah Kesempatan untuk Membalas Budi

Saya sering meyakini bahwa dalam kehidupan ini ada utang yang tidak pernah benar-benar dapat kita lunasi, yaitu utang kepada orang tua, kepada para guru, dan kepada almamater yang telah membentuk perjalanan hidup kita.

Apa yang saya capai hari ini bukanlah hasil usaha saya seorang diri.

Ada doa orang tua yang tidak pernah putus.

Ada kesabaran guru-guru yang mendidik tanpa mengenal lelah.

Ada lingkungan madrasah yang menanamkan nilai-nilai keislaman, kedisiplinan, serta kecintaan terhadap ilmu.

Karena itu, menerima amanah ini bagi saya adalah sebuah kesempatan untuk membalas budi.

Mungkin tidak akan pernah sebanding dengan jasa yang telah saya terima, tetapi setidaknya saya ingin menjadi bagian dari ikhtiar agar generasi berikutnya memperoleh kesempatan belajar yang lebih baik daripada yang pernah saya rasakan.

Saya pernah menjadi murid di madrasah ini.

Hari ini saya diberi amanah untuk mengabdi.

Semoga Allah SWT mengizinkan saya membalas, walau tidak akan pernah sebanding, jasa para guru dan almamater yang telah membentuk perjalanan hidup saya.

Thawalib Bukan Sekadar Sebuah Sekolah

Bagi masyarakat Lubuk Jantan, nama Thawalib memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sebuah sekolah.

Sejak berdiri sekitar tahun 1930, Madrasah Thawalib telah menjadi salah satu pusat pendidikan Islam di Lintau Buo Utara. Dari madrasah inilah lahir banyak ulama, mubaligh, pendidik, dan tokoh masyarakat yang memberikan kontribusi bagi daerah maupun bangsa. Nama-nama seperti H. Abu Bakar Syarif, H. Syafrizal, Drs. Masfar Ridwan, SS. Dt. Bijayo, Dr. Yasmansyah, dan banyak alumni lainnya menjadi bukti bahwa Thawalib pernah menjadi salah satu mata air lahirnya generasi terbaik.

Warisan inilah yang harus kita jaga.

Bahkan lebih dari itu, warisan ini harus kita lanjutkan.

Saya tidak ingin masyarakat hanya mengenang kejayaan Thawalib sebagai cerita masa lalu.

Saya berharap periode 2026–2029 menjadi awal dari babak baru kebangkitan Madrasah Thawalib Lubuk Jantan.

Membangun dari Fondasi yang Sudah Ada

Saat ini Madrasah Thawalib menaungi dua satuan pendidikan, yaitu MTsS Thawalib Lubuk Jantan dan MAS Thawalib Lubuk Jantan.

Keduanya telah memiliki izin operasional resmi dan mempertahankan status Akreditasi B. MTsS memiliki 63 peserta didik dengan 14 guru, sedangkan MAS juga terus menjalankan perannya sebagai madrasah aliyah yang aktif melayani pendidikan masyarakat. Kondisi ini menunjukkan bahwa fondasi pendidikan masih terjaga dengan baik dan memiliki peluang besar untuk terus berkembang.

Saya melihat kondisi tersebut bukan sebagai keterbatasan, melainkan peluang untuk bersama-sama melakukan perubahan.

Visi Besar yang Ingin Kami Wujudkan

Dalam sambutan pengukuhan, saya menyampaikan visi yang akan menjadi arah perjalanan kepengurusan ini.

“Mewujudkan Madrasah Thawalib Lubuk Jantan sebagai lembaga pendidikan Islam yang unggul, berkarakter, berprestasi, berdaya saing, serta menjadi kebanggaan masyarakat.”

Visi tersebut akan diwujudkan melalui empat pilar utama, yaitu penguatan akhlak, peningkatan mutu akademik, pencapaian prestasi, dan tata kelola madrasah yang profesional.

Sebagai langkah awal, kami akan menyusun roadmap pengembangan madrasah, memperkuat forum alumni, memetakan kebutuhan sarana dan prasarana, meluncurkan Gerakan “Satu Alumni, Satu Kontribusi”, membentuk Tim Penjaminan Mutu, serta mempercepat digitalisasi madrasah.

Saya percaya bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

Mengajak Alumni dan Perantau

Saya percaya bahwa kekuatan terbesar Madrasah Thawalib sesungguhnya bukan hanya terletak pada gedung atau fasilitas yang dimiliki, melainkan pada orang-orang yang pernah dididik di dalamnya.

Hari ini alumni Thawalib telah tersebar di berbagai profesi. Ada yang menjadi guru, dosen, ulama, ASN, pengusaha, profesional, maupun perantau di berbagai daerah.

Saya ingin mengajak seluruh alumni untuk kembali mengambil bagian dalam perjalanan madrasah ini.

Kontribusi tidak selalu berupa materi.
Berbagi pengalaman.
Membuka jaringan.
Memberikan pelatihan.
Membantu beasiswa.
Menjadi narasumber.
Atau sekadar mendoakan kemajuan madrasah.

Semuanya adalah bentuk pengabdian yang sangat berarti.

Saya berharap Madrasah Thawalib kembali menjadi rumah yang selalu dirindukan oleh para alumninya.

Madrasah Adalah Milik Kita Bersama

Saya percaya bahwa keberhasilan sebuah madrasah tidak pernah lahir dari kerja seorang ketua.

Madrasah akan maju apabila seluruh unsur bergerak bersama.
Guru mengajar dengan penuh dedikasi.
Orang tua memberikan kepercayaan.
Alumni tetap peduli.
Perantau ikut mengambil bagian.
Pemerintah nagari hadir memberikan dukungan.
Masyarakat menjadikan madrasah sebagai kebanggaan bersama.
Karena itu saya mengajak seluruh masyarakat Lubuk Jantan, di mana pun berada, untuk ikut membersamai perjalanan ini.
Kontribusi dapat berupa ilmu, pengalaman, jaringan, kesempatan, pelatihan, motivasi, bahkan doa yang tulus.

Semuanya memiliki nilai yang sama apabila diniatkan sebagai amal kebaikan.

Sebuah Harapan

Saya tidak berharap masyarakat mengingat siapa yang menjadi Ketua Pengurus Madrasah Thawalib periode 2026–2029.

Saya lebih berharap ketika masa kepengurusan ini berakhir, masyarakat dapat merasakan bahwa Madrasah Thawalib telah bergerak ke arah yang lebih baik—lebih dipercaya, lebih berkualitas, lebih berprestasi, dan semakin menjadi kebanggaan masyarakat Lubuk Jantan.

Karena sesungguhnya, jabatan akan berakhir.
Nama pengurus akan berganti.

Namun apabila madrasah ini terus berkembang dan melahirkan generasi yang berilmu, beriman, dan berakhlak mulia, maka itulah warisan terbaik yang dapat kita tinggalkan.

Suatu hari nanti, ketika saya kembali memasuki halaman Madrasah Thawalib sebagai seorang alumni, saya berharap dapat melihat lebih banyak anak-anak belajar dengan penuh semangat, lebih banyak guru berkarya dengan penuh dedikasi, dan lebih banyak masyarakat yang berkata dengan bangga,

“Alhamdulillah… Thawalib kembali menjadi kebanggaan Lubuk Jantan.”

Jika hari itu benar-benar datang, maka itulah hadiah terbesar bagi kami semua.

Semoga Allah SWT membimbing setiap langkah kami, menerima setiap ikhtiar sebagai amal saleh, dan menjadikan pengabdian ini sebagai amal jariyah yang terus mengalir manfaatnya bagi generasi-generasi yang akan datang.

Bismillah. Bangkit Bersama, Menuju Kejayaan.

Yuhefizar

IAII Sumatera Barat


Ikatan Ahli Informatika Indonesia (IAII) adalah organisasi profesi yang bertujuan meningkatkan kualitas teknologi informasi di Indonesia, melindungi masyarakat dari praktek buruk layanan ahli informatika, meningkatkan kemakmuran, martabat, kehormatan, dan peran ahli informatika Indonesia dalam rangka mencapai tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tercantum pada Pembukaan UUD 1945. Profil IAII
About Yuhefizar 283 Articles
just an ordinary person

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*