Dari Sebuah Tugu di Tepi Jalan, Yuhefizar Menelusuri Jejak Perang Panta

PADANG — Sebuah perjalanan sederhana di lereng Gunung Marapi membawa Yuhefizar pada sebuah pertanyaan yang kemudian berkembang menjadi sebuah buku. Berkali-kali melewati kawasan Panta, Nagari Sariak, Kecamatan Sungai Pua, Kabupaten Agam, pandangan penulis akhirnya tertahan pada sebuah tugu bertuliskan “Tugu Perang Panta”.

Pertanyaan sederhana pun muncul: Apa yang sebenarnya pernah terjadi di tempat ini?

Pertanyaan itulah yang menjadi titik awal lahirnya buku Di Balik Tugu Perang Panta: Menelusuri Jejak Perjuangan dan Ingatan dari Nagari Sariak, karya Yuhefizar, yang kini telah memasuki versi final.

Buku ini membawa pembaca menelusuri kembali sebuah episode sejarah lokal yang terjadi pada 4 Januari 1949, ketika masyarakat dan para pemuda Nagari Sariak terlibat dalam perlawanan terhadap pasukan Belanda di tengah situasi Agresi Militer Belanda II dan perjuangan mempertahankan Republik Indonesia di Sumatera Barat.

Namun, buku ini tidak ditulis sebagai sejarah perang yang kering dan penuh angka. Ia berangkat dari pengalaman personal penulis ketika melewati sebuah tugu, kemudian bergerak menuju penelitian, sumber lokal, kesaksian, nama-nama pejuang, dan akhirnya kembali kepada pertanyaan yang lebih besar: bagaimana sebuah nagari menyimpan ingatan tentang perjuangannya, dan mengapa sebagian dari ingatan itu hampir tidak lagi dikenal oleh generasi sekarang?

Yuhefizar menelusuri sejumlah sumber yang berkaitan dengan Perang Panta, termasuk penelitian Yusra D. dan Agus Salim yang diterbitkan pada 2022 serta naskah lokal Masalah Perjuangan Rakyat Sariak Melawan Belanda yang disusun pada 1982. Naskah tersebut menjadi salah satu sumber penting dalam merekonstruksi kembali kisah perjuangan masyarakat Sariak. Di_Balik_Tugu_Perang_Panta_Revi…

Salah satu bagian yang paling kuat dalam buku ini adalah upaya menghadirkan kembali tiga belas nama warga Sariak yang disebut gugur dalam perjuangan. Nama-nama seperti Asnan Katik, Anwar, Alius Nabi, Daus, Hitam, Kartub Kari, Lainin Kromo, Lise, Majid, Muir Abas, Sukarni Daimun, Wismar, dan Zubir Dahlan dituliskan satu per satu. Penulis sekaligus memberikan catatan bahwa daftar tersebut masih memerlukan verifikasi lebih lanjut, terutama melalui sumber primer, data veteran, serta keluarga para pejuang. Di_Balik_Tugu_Perang_Panta_Revi…

Sikap hati-hati tersebut menjadi bagian penting dari buku. Yuhefizar tidak ingin mengubah cerita lokal menjadi fakta sejarah hanya karena menarik untuk diceritakan. Karena itu, buku ini berusaha membedakan antara informasi yang berasal dari sumber tertulis, kesaksian atau ingatan lokal, dan refleksi pribadi penulis.

“Buku ini tidak saya mulai dengan jawaban, melainkan dengan pertanyaan yang muncul di tepi jalan itu: apa sebenarnya yang pernah terjadi di sini?” tulis Yuhefizar dalam bukunya. Di_Balik_Tugu_Perang_Panta_Revi…

Dari pertanyaan itu, pembaca diajak melihat bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia tidak hanya berlangsung di kota-kota besar atau melalui nama-nama tokoh yang tercatat dalam buku pelajaran. Sejarah juga berlangsung di nagari, di jalan setapak, di ladang, di rumah-rumah penduduk, dan dalam kehidupan masyarakat biasa yang pada zamannya ikut mempertahankan Republik.

Buku ini juga tidak menempatkan dirinya sebagai karya yang menemukan sejarah Perang Panta untuk pertama kalinya. Sebaliknya, Yuhefizar secara terbuka mengakui adanya pekerjaan penelitian dan dokumentasi yang telah dilakukan sebelumnya. Ia mencoba menghadirkan kembali bahan-bahan tersebut kepada pembaca dalam bentuk feature sejarah yang naratif dan reflektif, sekaligus membuka ruang bagi keluarga pejuang, masyarakat Sariak, dan peneliti berikutnya untuk melengkapi informasi yang masih belum terungkap. Di_Balik_Tugu_Perang_Panta_Revi…

Pada akhirnya, Di Balik Tugu Perang Panta bukan hanya bercerita tentang sebuah peristiwa pada 1949. Buku ini juga merupakan ajakan untuk melihat kembali tempat-tempat yang selama ini dianggap biasa.

Sebab, boleh jadi sebuah tugu yang kita lewati setiap hari menyimpan kisah tentang seseorang yang pernah berjuang, sebuah keluarga yang pernah kehilangan, atau sebuah nagari yang pernah mempertaruhkan banyak hal demi mempertahankan kemerdekaan.

Dan dari perjalanan itulah Yuhefizar membawa satu pelajaran sederhana: jangan terlalu cepat melewati sesuatu.

Karena sejarah tidak selalu memanggil dengan suara keras. Kadang-kadang ia hanya berdiri diam di tepi jalan, menunggu kita berhenti, bertanya, lalu mengingat.

Download bukunya di https://ephi.web.id/download/di-balik-tugu-perang-panta/

IAII Sumatera Barat


Ikatan Ahli Informatika Indonesia (IAII) adalah organisasi profesi yang bertujuan meningkatkan kualitas teknologi informasi di Indonesia, melindungi masyarakat dari praktek buruk layanan ahli informatika, meningkatkan kemakmuran, martabat, kehormatan, dan peran ahli informatika Indonesia dalam rangka mencapai tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tercantum pada Pembukaan UUD 1945. Profil IAII
About Yuhefizar 303 Articles
just an ordinary person

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*