Buah Tin: Ketika Sebuah Buah Mengantarkan pada Renungan

Ada pengalaman sederhana selama perjalanan di Tanah Suci yang ternyata membawa saya kepada renungan yang cukup panjang.

Suatu hari saya membeli buah tin kering.

Awalnya sederhana saja. Saya melihatnya, tertarik, kemudian membelinya. Namun ketika melihat buah itu, tiba-tiba pikiran saya tertuju kepada sebuah ayat Al-Qur’an yang sangat familiar:

وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ
“Demi buah Tin dan buah Zaitun.”
QS. At-Tin: 1

Saya kemudian berhenti sejenak.

Mengapa Allah menyebut buah tin?

Mengapa Allah bersumpah dengan buah ini?

Pertanyaan sederhana itu ternyata membawa saya masuk lebih jauh ke dalam Surah At-Tin.


Dari sebuah buah menuju sebuah surah

Surah At-Tin hanya terdiri dari delapan ayat. Namun kandungannya sangat dalam.

Allah membuka surah ini dengan sumpah:

“Demi buah Tin dan buah Zaitun, demi Gunung Sinai, dan demi negeri yang aman ini (Makkah).”
(QS. At-Tin: 1–3) (Quran.com)

Kemudian Allah berfirman:

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
(QS. At-Tin: 4) (Quran.com)

Di sinilah saya menemukan sesuatu yang menarik.

Allah menyebut buah, kemudian tempat-tempat yang memiliki makna besar dalam sejarah kenabian, lalu berbicara tentang manusia.

Jadi, bagi saya, buah tin bukan sekadar persoalan makanan.

Ia menjadi pintu untuk mengingat kembali siapa manusia, untuk apa manusia diciptakan, dan bagaimana manusia seharusnya menjalani kehidupannya.


Mengapa Allah bersumpah dengan buah Tin?

Pertanyaan ini menarik, tetapi kita harus berhati-hati dalam menjawabnya.

Al-Qur’an sendiri tidak menjelaskan secara eksplisit satu alasan khusus mengapa Allah memilih buah tin dan zaitun sebagai objek sumpah.

Para ulama tafsir memberikan beberapa penjelasan. Ada yang memahami at-tin dan az-zaitun sebagai buah yang kita kenal. Ada pula yang memahaminya sebagai isyarat kepada wilayah yang banyak ditumbuhi kedua tanaman tersebut dan memiliki hubungan dengan sejarah para nabi. Salah satu tafsir yang dimuat Quran.com, misalnya, menjelaskan adanya pendapat yang mengaitkan tin dan zaitun dengan kawasan sekitar Syam/Palestina dan rangkaian tempat yang memiliki hubungan dengan kenabian. (Quran.com)

Karena itu, saya tidak ingin mengatakan:

“Allah menyebut buah tin karena terbukti memiliki khasiat kesehatan tertentu.”

Kesimpulan seperti itu terlalu jauh.

Yang pasti adalah:

Allah menyebutnya dalam wahyu-Nya.

Dan sebagai seorang muslim, ketika Allah menyebut sesuatu dalam Al-Qur’an, setidaknya kita memiliki alasan untuk berhenti sejenak, memperhatikannya, membacanya, dan merenungkan pesan yang mengikutinya.


Yang menarik justru ayat setelahnya

Bagi saya, bagian paling menarik bukan hanya ayat pertama.

Tetapi ayat keempat:

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”

Lalu Allah mengingatkan bahwa manusia dapat dikembalikan kepada keadaan yang rendah, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yang mendapatkan pahala yang tidak terputus. (QS. At-Tin: 4–6) (Quran.com)

Saya kemudian berpikir:

Apa hubungannya buah tin dengan diri saya?

Mungkin jawabannya bukan pada bentuk buahnya.

Tetapi pada pesan yang membuat kita berpindah dari melihat ciptaan menuju memperbaiki diri.

Kita boleh mengagumi buah.

Kita boleh menikmati rasanya.

Kita boleh mempelajari kandungan gizinya.

Tetapi Al-Qur’an mengajak kita melangkah lebih jauh:

Bagaimana dengan diri kita sendiri?

Allah telah memberikan kita tubuh.

Allah memberikan akal.

Allah memberikan kemampuan berpikir.

Allah memberikan kesempatan.

Allah memberikan kesehatan.

Allah memberikan keluarga.

Allah memberikan rezeki.

Dan kepada sebagian kita, Allah bahkan memberikan kesempatan untuk datang ke Tanah Suci.

Pertanyaannya kemudian:

Apakah semua pemberian itu sudah kita gunakan untuk menjadi manusia yang lebih baik?


Buah sederhana dengan kandungan yang menarik

Secara ilmiah, buah tin memang memiliki nilai gizi yang menarik.

Buah tin mengandung serat pangan, mineral, vitamin, serta berbagai senyawa bioaktif, termasuk kelompok polifenol. Tinjauan ilmiah terhadap penelitian buah tin juga menunjukkan adanya kandungan seperti kalium, kalsium, magnesium, serta berbagai senyawa antioksidan. (PubMed Central (PMC))

Dalam bentuk kering, kandungan gizinya menjadi lebih terkonsentrasi karena sebagian besar airnya telah hilang. Sebagai gambaran, data komposisi makanan menunjukkan buah tin kering mengandung serat dan mineral seperti kalsium, magnesium dan kalium dalam jumlah yang cukup berarti. (PubMed Central (PMC))

Karena kandungan seratnya, buah tin dapat menjadi bagian dari pola makan yang mendukung kesehatan pencernaan. Bahkan ada penelitian pada manusia yang menemukan perbaikan beberapa gejala pada pasien dengan IBS yang dominan konstipasi setelah konsumsi buah tin kering. Namun penelitian mengenai manfaat kesehatan tin secara keseluruhan masih terus berkembang dan belum cukup untuk menyebutnya sebagai obat penyakit tertentu. (PubMed Central (PMC))

Dan karena yang saya beli adalah buah tin kering, saya juga belajar satu hal penting:

Sesuatu yang sehat tetap harus dikonsumsi dengan bijak.

Buah kering memiliki gula dan energi yang lebih terkonsentrasi dibandingkan buah segarnya.

Jadi, jangan sampai karena disebut dalam Al-Qur’an lalu kita berpikir:

“Semakin banyak makan tin, semakin sehat.”

Tidak demikian.

Al-Qur’an mengajarkan kita untuk mengambil manfaat, sementara ilmu kesehatan mengajarkan kita tentang ukuran dan keseimbangan.


Tin tidak hanya tumbuh di Tanah Suci

Ada hal lain yang menarik.

Buah tin bukan buah yang hanya tumbuh di Makkah atau Madinah.

Tin (Ficus carica) merupakan tanaman buah yang telah dikenal dan dibudidayakan manusia sejak ribuan tahun, terutama di kawasan Mediterania dan Timur Tengah, dan kini dibudidayakan di berbagai wilayah dunia. Sebuah tinjauan ilmiah menyebut sejarah budidayanya telah berlangsung sekitar 6.000 tahun. (PubMed Central (PMC))

Jadi, keistimewaannya bukan karena:

“Ini buah yang hanya bisa ditemukan di Tanah Suci.”

Bukan.

Justru di sinilah saya merasa ada pelajaran menarik.

Sebuah buah dapat tumbuh di berbagai tempat.

Tetapi Allah memilihnya untuk disebut dalam Al-Qur’an.

Maka nilai sebuah ciptaan tidak selalu ditentukan oleh tempat kita menemukannya.

Yang membuatnya bermakna adalah bagaimana kita memandangnya dan pelajaran apa yang kita ambil darinya.


Belajar dari sesuatu yang sederhana

Buah tin juga mengajarkan saya tentang kehidupan.

Bentuknya sederhana.

Tidak terlalu besar.

Tidak semewah buah-buahan yang sering kita lihat di meja makan.

Tetapi ternyata ia menyimpan rasa, nutrisi, sejarah, dan bahkan menjadi bagian dari ayat Al-Qur’an.

Saya kemudian berpikir:

Bukankah manusia juga sering begitu?

Ada orang yang tidak banyak bicara, tetapi banyak berbuat.

Ada orang yang tidak terkenal, tetapi selalu membantu.

Ada orang yang hidup sederhana, tetapi kehadirannya sangat berarti bagi keluarga dan lingkungannya.

Ada orang yang mungkin tidak pernah tampil di depan, tetapi diam-diam menjadi jalan kebaikan bagi banyak orang.

Kita sering menilai sesuatu dari penampilannya.

Padahal Allah mengajarkan kita untuk melihat lebih dalam.


Jangan hanya menjadi “buah yang disebut”

Ada satu renungan yang paling kuat bagi saya.

Buah tin disebut dalam Al-Qur’an.

Tetapi manusia juga disebut dalam Al-Qur’an.

Bahkan manusia mendapatkan perhatian yang sangat besar.

Allah mengatakan:

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”

Maka saya bertanya kepada diri sendiri:

Kalau Allah telah menciptakan saya dalam sebaik-baik bentuk, apa yang sudah saya lakukan dengan kehidupan ini?

Apakah saya hanya sibuk memperbaiki penampilan?

Atau juga memperbaiki akhlak?

Apakah saya hanya sibuk memperbanyak pengetahuan?

Atau juga memperbanyak amal?

Apakah saya hanya ingin dihargai manusia?

Atau juga ingin mendapatkan ridha Allah?

Apakah perjalanan ke Tanah Suci hanya membuat saya memiliki lebih banyak cerita?

Atau membuat saya menjadi manusia yang lebih sabar, lebih bersyukur, lebih peduli dan lebih dekat kepada Allah?

Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang menurut saya jauh lebih penting daripada sekadar mengetahui rasa buah tin.


Oleh-oleh yang tidak boleh habis

Buah tin yang saya beli suatu saat akan habis.

Dimakan sedikit demi sedikit.

Pada akhirnya tidak tersisa.

Tetapi saya berharap ada sesuatu yang tidak ikut habis:

hikmahnya.

Setiap kali mengingat buah tin, saya ingin mengingat Surah At-Tin.

Setiap membaca Surah At-Tin, saya ingin mengingat bahwa Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Dan ketika mengingat itu, saya ingin bertanya kembali:

“Apa yang sudah berubah dalam diri saya?”

Karena perjalanan ke Tanah Suci seharusnya tidak berhenti pada foto.

Tidak berhenti pada oleh-oleh.

Tidak berhenti pada cerita bahwa kita pernah thawaf di Ka’bah atau shalat di Masjid Nabawi.

Yang jauh lebih penting adalah apa yang kita bawa pulang dalam hati.


Hikmah yang saya bawa

Dari buah tin, saya belajar bahwa hal yang sederhana bisa mengantarkan kita kepada renungan yang besar.

Dari Surah At-Tin, saya belajar bahwa Allah mengingatkan manusia tentang asal penciptaannya, iman, amal saleh, dan hari pembalasan. Surah itu ditutup dengan pertanyaan yang sangat kuat:

“Bukankah Allah Hakim yang paling adil?”
(QS. At-Tin: 8) (Quran.com)

Maka bagi saya, buah tin bukan lagi sekadar makanan.

Ia menjadi pengingat untuk melihat lebih dalam.

Ketika melihat ciptaan, ingat kepada Sang Pencipta.

Ketika menerima nikmat, ingat kepada pemberi nikmat.

Ketika memiliki kesehatan, gunakan untuk kebaikan.

Ketika diberi kesempatan datang ke Tanah Suci, jangan hanya membawa pulang kenangan.

Dan ketika perjalanan selesai, jangan kembali menjadi manusia yang sama.

Buah tin boleh habis dimakan, tetapi semoga pesan Surah At-Tin tetap tinggal di hati: kita diciptakan dalam sebaik-baik bentuk, maka mari kita jaga iman, memperbanyak amal saleh, dan menggunakan sisa perjalanan hidup untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Mungkin itulah hikmah kecil yang saya temukan dari sepotong buah tin dalam perjalanan besar menuju perubahan diri.

IAII Sumatera Barat


Ikatan Ahli Informatika Indonesia (IAII) adalah organisasi profesi yang bertujuan meningkatkan kualitas teknologi informasi di Indonesia, melindungi masyarakat dari praktek buruk layanan ahli informatika, meningkatkan kemakmuran, martabat, kehormatan, dan peran ahli informatika Indonesia dalam rangka mencapai tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tercantum pada Pembukaan UUD 1945. Profil IAII
About Yuhefizar 295 Articles
just an ordinary person

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*