Kismis dari Tanah Suci: Oleh-Oleh Kecil, Hikmah yang Besar

Salah satu oleh-oleh khas dari Tanah Suci yang saya bawa pulang adalah kismis.

Bagi sebagian orang, kismis mungkin hanya makanan ringan. Buah anggur yang dikeringkan, kemudian dikemas dan dibawa pulang sebagai buah tangan. Namun, setiap kali melihat kismis yang saya beli dari Tanah Suci, saya justru melihat sesuatu yang lebih dari sekadar makanan.

Saya melihat sebuah pelajaran tentang kehidupan.

Bukankah hidup kita juga sering seperti anggur yang sedang menjalani proses menjadi kismis?

Ada masa ketika semuanya terasa segar, indah, dan mudah. Namun ada pula saat kita harus melewati panas, kehilangan, perubahan, kesulitan, dan berbagai ujian. Bentuk kita mungkin berubah. Kita mungkin tidak lagi seperti dahulu. Tetapi perubahan itu tidak selalu berarti kehilangan nilai.

Justru bisa jadi, Allah sedang mengubah kita menjadi pribadi yang lebih matang.

Dari anggur menjadi kismis

Kismis berasal dari buah anggur yang dikeringkan. Dalam prosesnya, anggur kehilangan sebagian besar airnya. Bentuknya berubah menjadi lebih kecil, keriput, dan tidak lagi tampak seperti buah anggur yang segar.

Tetapi ada sesuatu yang menarik.

Rasa manisnya menjadi lebih pekat.

Di sinilah saya menemukan sebuah perumpamaan kehidupan yang sederhana tetapi dalam.

Ada proses dalam kehidupan yang membuat kita merasa “dikeringkan”.

Kita menghadapi masalah.
Kita kehilangan sesuatu yang kita cintai.
Kita mengalami kegagalan.
Kita harus bersabar menghadapi keadaan.
Kita bekerja keras ketika hasil belum terlihat.
Kita berusaha tetap istiqamah ketika hati sedang lelah.

Pada saat itu, mungkin kita bertanya:

“Mengapa harus saya yang mengalami semua ini?”

Namun, barangkali kita perlu mengubah pertanyaannya menjadi:

“Apa yang sedang Allah bentuk dalam diri saya melalui semua ini?”

Sebab tidak semua panas kehidupan datang untuk membakar kita. Ada kalanya panas itu justru sedang mengeringkan, mematangkan, dan menguatkan kita.


1. Tidak semua perubahan adalah kehilangan

Ketika melihat kismis, kita tidak lagi melihat bentuk anggur yang sempurna. Ia kecil, keriput, dan jauh dari penampilan buah segar.

Tetapi apakah ia kehilangan seluruh nilainya?

Tidak.

Ia tetap bisa dinikmati. Tetap memiliki rasa. Bahkan lebih tahan disimpan.

Begitu juga manusia.

Usia membuat wajah berubah.
Pengalaman membuat cara berpikir berubah.
Kegagalan mengubah cara kita mengambil keputusan.
Perjalanan mengubah cara kita memandang dunia.

Kita mungkin tidak lagi seperti kita yang dulu.

Dan itu tidak selalu buruk.

Menjadi tua bukan berarti menjadi tidak berguna.
Berubah bukan berarti kehilangan diri.
Melewati ujian bukan berarti Allah meninggalkan kita.

Bisa jadi, perubahan itu adalah bagian dari proses Allah menjadikan kita lebih matang.


2. Ujian dapat memekatkan rasa syukur

Anggur yang segar mengandung banyak air. Setelah melalui proses pengeringan, airnya berkurang dan rasa manisnya menjadi lebih terkonsentrasi.

Ini mengingatkan saya bahwa pengalaman hidup sering kali membuat kita lebih menghargai sesuatu yang sebelumnya kita anggap biasa.

Ketika sehat, kita mungkin tidak terlalu memikirkan nikmat kesehatan.

Ketika memiliki waktu luang, kita mungkin tidak menyadari betapa berharganya waktu.

Ketika orang tua masih ada, kita terkadang merasa masih punya banyak kesempatan untuk berbakti.

Ketika keluarga berkumpul, kita mungkin menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa.

Namun setelah mengalami kehilangan atau kesulitan, barulah kita menyadari:

“Ternyata selama ini saya sedang hidup di tengah begitu banyak nikmat.”

Mungkin itulah salah satu hikmah dari ujian.

Ujian bukan hanya menguji kesabaran, tetapi juga mengajarkan kita menghargai nikmat.


3. Jangan takut dengan proses

Kita sering menginginkan hasil yang baik, tetapi tidak selalu siap menjalani proses yang panjang.

Kita ingin sukses, tetapi tidak ingin gagal.

Kita ingin matang, tetapi tidak ingin ditempa.

Kita ingin kuat, tetapi tidak ingin menghadapi kesulitan.

Padahal, hampir semua hal yang bernilai membutuhkan proses.

Besi harus ditempa untuk menjadi kuat.
Padi harus melalui proses sebelum menjadi beras.
Ilmu membutuhkan waktu untuk menjadi kebijaksanaan.
Dan anggur harus melewati proses sebelum menjadi kismis.

Karena itu, ketika kehidupan sedang terasa berat, mungkin kita tidak perlu terburu-buru menyimpulkan bahwa semuanya buruk.

Bisa jadi kita sedang berada di tengah sebuah proses yang belum selesai.

Yang perlu kita lakukan adalah menjalaninya dengan sabar, ikhtiar, doa, dan tawakal.


4. Jangan menilai seseorang hanya dari penampilan

Kismis mengajarkan satu hal sederhana: rupa bukan ukuran nilai.

Anggur segar terlihat indah. Kismis tampak keriput.

Tetapi keduanya berasal dari buah yang sama.

Dalam kehidupan, kita juga sering terjebak pada penampilan.

Kita melihat seseorang dari pakaiannya.
Dari jabatannya.
Dari hartanya.
Dari gelarnya.
Dari jumlah pengikutnya.
Dari apa yang terlihat di media sosial.

Padahal, yang paling penting justru sesuatu yang tidak selalu terlihat:

akhlaknya, kejujurannya, ilmunya, kepeduliannya, dan manfaatnya bagi orang lain.

Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat?

Maka, seperti kita tidak seharusnya menilai kismis hanya karena bentuknya yang keriput, kita pun tidak seharusnya menilai manusia hanya dari apa yang tampak di permukaan.

Yang penting bukan sekadar bagaimana kita terlihat, tetapi bagaimana kita memberi arti.


5. Kecil bentuknya, besar manfaatnya

Sebiji kismis ukurannya kecil.

Tetapi ketika dimakan, ia memberikan rasa yang khas.

Ini mengingatkan saya bahwa kebaikan tidak harus selalu besar untuk menjadi berarti.

Satu senyuman mungkin sederhana.

Satu ucapan terima kasih mungkin hanya beberapa kata.

Satu ilmu yang kita bagikan mungkin hanya beberapa menit.

Satu bantuan kecil mungkin tidak seberapa bagi kita.

Namun, bagi orang lain, bisa jadi sangat berarti.

Karena itu jangan pernah meremehkan kebaikan kecil.

Boleh jadi, sesuatu yang kita anggap kecil justru menjadi amal yang besar di hadapan Allah.


6. Kismis dan makna perjalanan ke Tanah Suci

Ada alasan mengapa oleh-oleh dari Tanah Suci terasa berbeda.

Bukan semata-mata karena barangnya berasal dari tempat yang jauh.

Tetapi karena ia membawa cerita perjalanan.

Ketika nanti saya melihat kembali kismis ini, saya tidak hanya melihat makanan.

Saya akan teringat perjalanan.

Teringat Masjid Nabawi.
Teringat Masjid Quba.
Teringat suasana Madinah.
Teringat doa-doa yang dipanjatkan.
Teringat langkah-langkah menuju tempat-tempat penuh sejarah.
Teringat bahwa perjalanan ke Tanah Suci bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin.

Dan mungkin, itulah makna sebenarnya dari oleh-oleh.

Oleh-oleh terbaik bukan hanya sesuatu yang kita bawa pulang di dalam koper, tetapi sesuatu yang kita bawa pulang di dalam hati.

Jika setelah kembali dari Tanah Suci kita menjadi lebih sabar, lebih rendah hati, lebih mudah bersyukur, lebih peduli kepada sesama, lebih rajin membaca Al-Qur’an, dan lebih dekat kepada Allah, maka sesungguhnya itulah oleh-oleh yang paling berharga.


7. Jangan hanya membawa oleh-oleh, bawalah perubahan

Kismis ini pada akhirnya akan habis.

Begitu pula kurma, cokelat, air minum, parfum, tasbih, dan berbagai buah tangan lainnya.

Semuanya akan habis atau rusak.

Tetapi ada sesuatu yang seharusnya tidak boleh habis:

hikmah perjalanan.

Jangan sampai kita pulang dari Tanah Suci hanya membawa barang-barang baru, tetapi kembali dengan kebiasaan lama.

Jangan sampai koper kita penuh, tetapi hati kita tetap kosong.

Jangan sampai kita membawa banyak cerita tentang tempat-tempat yang kita kunjungi, tetapi tidak membawa perubahan dalam diri.

Perjalanan spiritual seharusnya meninggalkan bekas.

Bukan hanya pada foto.

Bukan hanya pada media sosial.

Tetapi pada akhlak dan perilaku sehari-hari.


Sejauh Jalan, Sedalam Hikmah

Dari sebutir kismis, saya belajar bahwa kehidupan adalah proses.

Ada masa kita tumbuh.

Ada masa kita diuji.

Ada masa kita harus kehilangan sesuatu.

Ada masa kita merasa “kering” dan lelah.

Tetapi jangan buru-buru menganggap proses itu sebagai keburukan.

Mungkin Allah sedang mematangkan kita.

Sebagaimana anggur yang melewati panas hingga menjadi kismis yang manis, semoga setiap panas kehidupan yang kita lalui juga menjadikan diri kita semakin matang, semakin sabar, semakin bersyukur, dan semakin dekat kepada Allah.

Pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa sempurna penampilan kita.

Bukan pula tentang seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan.

Tetapi tentang seberapa banyak rasa syukur yang tumbuh, seberapa dalam kita mengambil hikmah, dan seberapa besar manfaat yang dapat kita tinggalkan untuk orang lain.

Maka, ketika nanti saya menikmati kismis ini, saya ingin mengingat satu pesan sederhana:

“Jangan takut pada proses yang mengubahmu. Bisa jadi, melalui proses itulah Allah sedang menjadikanmu lebih matang, lebih kuat, dan lebih bermanfaat.”

Kismis hanyalah oleh-oleh kecil dari Tanah Suci.

Tetapi dari yang kecil itu, kita bisa belajar tentang kesabaran, keteguhan, syukur, perubahan, dan makna kehidupan.

Semoga setiap perjalanan tidak hanya membuat kita lebih jauh melangkah, tetapi juga lebih dalam memahami kehidupan.

Sejauh jalan, sedalam hikmah.
Wallahu a’lam bish-shawab.

IAII Sumatera Barat


Ikatan Ahli Informatika Indonesia (IAII) adalah organisasi profesi yang bertujuan meningkatkan kualitas teknologi informasi di Indonesia, melindungi masyarakat dari praktek buruk layanan ahli informatika, meningkatkan kemakmuran, martabat, kehormatan, dan peran ahli informatika Indonesia dalam rangka mencapai tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tercantum pada Pembukaan UUD 1945. Profil IAII
About Yuhefizar 295 Articles
just an ordinary person

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*