Ketika pertama kali melihat Ka’bah, mata kita mungkin tertuju pada keseluruhannya.
Namun ketika thawaf dimulai, perhatian kita akan tertuju pada satu titik:
Hajar Aswad.
Batu yang menjadi tanda dimulainya dan berakhirnya setiap putaran thawaf.
Banyak jamaah ingin menyentuhnya.
Banyak yang ingin menciumnya.
Ada yang rela menunggu.
Ada pula yang berusaha mendekat di tengah padatnya manusia.
Saya pun merasakan kerinduan itu.
Tetapi di tengah kerumunan, saya belajar satu hal:
Beribadah bukan tentang memaksakan keinginan.
Jika memungkinkan, kita menyentuh atau mencium Hajar Aswad.
Jika tidak memungkinkan, kita cukup memberi isyarat dan bertakbir.
Tidak perlu mendorong.
Tidak perlu menyakiti.
Tidak perlu berebut hingga kehilangan kesabaran.
Sebab tujuan kita datang ke Baitullah adalah beribadah kepada Allah, bukan memenangkan perjuangan mendapatkan satu titik.
Hajar Aswad dan Jejak Rasulullah ﷺ
Hajar Aswad mengingatkan saya bahwa dalam ibadah, kita tidak selalu harus memahami semuanya dengan logika.
Kita menjalankan apa yang dicontohkan Rasulullah ﷺ.
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata kepada Hajar Aswad:
“Sesungguhnya aku tahu bahwa engkau hanyalah batu. Engkau tidak dapat memberi mudarat dan tidak pula memberi manfaat.”
Kemudian beliau mengatakan bahwa kalau bukan karena melihat Rasulullah ﷺ menciumnya, beliau tidak akan menciumnya.
(HR. Bukhari dan Muslim)
Bagi saya, inilah pelajaran yang sangat dalam.
Kita mencium Hajar Aswad bukan karena batu itu memberi manfaat atau mudarat dengan sendirinya.
Kita melakukannya karena ittiba’, mengikuti contoh Rasulullah ﷺ.
Di sini saya belajar tentang arti ketaatan.
Kadang kita tidak harus memahami seluruh rahasia sebuah ibadah untuk menjalankannya.
Ada saatnya akal bertanya.
Tetapi iman berkata:
“Aku percaya dan aku mengikuti.”
Kerinduan Tidak Harus Mengalahkan Adab
Ada sesuatu yang sangat manusiawi ketika melihat Hajar Aswad.
Kita ingin mendekat.
Kita ingin menyentuhnya.
Kita ingin mengabadikan momen.
Tetapi ketika jutaan manusia memiliki keinginan yang sama, kita belajar tentang kesabaran dan adab.
Jika untuk menyentuh Hajar Aswad kita harus mendorong seorang tua, menyakiti seorang jamaah, atau membuat orang lain jatuh, maka mungkin kita perlu bertanya kembali:
Apa sebenarnya yang sedang kita cari?
Keutamaan sebuah ibadah tidak seharusnya membuat kita kehilangan akhlak.
Jangan sampai mengejar sunnah, tetapi kehilangan adab.
Kalimat ini menurut saya sangat kuat untuk buku Bapak.
Hajar Aswad Mengajarkan Tentang Kerinduan
Ada jutaan orang yang datang ke Baitullah.
Mereka datang dari berbagai negeri.
Berbeda bahasa.
Berbeda warna kulit.
Berbeda usia.
Tetapi ketika berada di hadapan Ka’bah, mereka memiliki kerinduan yang sama.
Ingin dekat dengan Allah.
Hajar Aswad menjadi salah satu titik yang mempertemukan jutaan manusia dalam satu rangkaian ibadah.
Dan saya kembali teringat:
Betapa banyak manusia yang ingin datang ke sini, tetapi belum mendapatkan kesempatan.
Karena itu, ketika Allah memberi kesempatan, jangan hanya sibuk mengambil gambar.
Berhentilah sejenak.
Lihatlah Ka’bah.
Rasakan syukur.
Dan bisikkan dalam hati:
“Ya Allah, terima kasih telah mengizinkan aku sampai di sini.”
Dan Ketika Harus Berpaling…
Setiap putaran thawaf dimulai dari Hajar Aswad.
Kita mendatanginya.
Kemudian kita meninggalkannya.
Berjalan mengelilingi Ka’bah.
Lalu kembali lagi kepadanya.
Begitu seterusnya.
Ada filosofi kehidupan yang saya rasakan di sana.
Kita berangkat.
Kita berjalan.
Kita berjuang.
Kita berputar.
Dan akhirnya kita kembali kepada titik awal.
Bukankah kehidupan juga demikian?
Kita lahir.
Kita tumbuh.
Mengejar banyak hal.
Mencari dunia.
Membangun karier.
Mengumpulkan harta.
Mengejar berbagai impian.
Sampai akhirnya kita sadar:
kita akan kembali kepada Allah.
Mungkin inilah salah satu pelajaran paling dalam dari thawaf.
Perjalanan kita boleh panjang, tetapi tujuan akhirnya tetap satu: kembali kepada Allah.
“Di Baitullah, saya tidak hanya melihat bangunan. Saya belajar membaca pesan-pesan Allah melalui setiap sudut yang saya lihat.”

Leave a Reply