AKN TD Bersiap Menyambut Bpk Solihin Bin Jusuf Kalla

My Quote

SOLIHIN JUSUF KALLA

ephi-web.id – Insya Allah, jika Allah SWT mengizinkan dalam minggu depan, Kampus Rintisan Akademi Komunitas Negeri Tanah Datar (AKN TD) akan mendapat kunjungan dari Bpk. Solihin anak kandung dari Wakil Presiden R.I, Bpk. Jusuf Kalla. Kedatangan beliau ke kampus AKN TD tidak lain adalah membuktikan kepedulian beliau terhadap kampus ini serta menyerahkan bantuan perangkat otomotif, berupa dua unit engine trainer.

Kehadiran beliau merupakan follow up dari kedatangan bapak Wapres ke kampus ini pada tanggal 6 Sep 2016 yang lalu sebagai bentuk dukungan beliau untuk kemandirian rintisan AKN TD. Tokoh pendidikan Indonesia, mantan wakil menteri Pendidikan, Bpk. Fasli Jalal juga akan mendampingi kedatangan putra mahkota H. Jusuf Kalla ini bersama dengan Bpk. H. Bustamam, pengusaha sukses dan owner RM. Sederhana.

Kehadiran para tokoh-tokoh ini nantinya akan disambut secara resmi oleh Bupati Tanah Datar, Bpk. Irdinansah Tarmizi dan segenap tokoh Tanah Datar di ranah, Direktur Politeknik negeri Padang dan Dikti. Tentunya kegiatan ini disupport penuh oleh Politeknik Negeri Padang sebagai Perguruan Tinggi Pembina rintisan AKN TD.

Ini merupakan kunjungan pertama beliau di Tanah Datar pada tahun 2017. Berikut profil singkat beliau :

Siapa putra mahkota kerajaan bisnis keluarga Kalla? Tentu ini bukan pertanyaan susah. Maklum, pasangan Jusuf Kalla dan Mufida hanya memiliki seorang anak laki-laki di antara kelima anaknya. Namanya, Solihin Jusuf Kalla. Jadi, bisa ditebak, pastilah Solihin yang akan menjadi “imam” di generasi ketiga untuk melanjutkan usaha yang dirintis H. Kalla sejak 1952.

Meski demikian, tidaklah mudah untuk bisa mewawancarai Solihin. Pria kelahiran Makassar, 27 Juni 1976, ini dikenal pendiam dan low profile. Tidak mengherankan, publikasi tentang dirinya jarang dijumpai. Apalagi, penggemar olah raga air ini sangat sibuk, bolak-balik Jakarta-Makassar untuk mengontrol sejumlah perusahaan di bawah holding Grup Hadji Kalla (GHK).

Benarkah Solihin telah dipersiapkan menjadi nakhoda perusahaan? Ditemui di sela-sela acara peresmian Trans Studio Makassar oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) pada 9 September 2009 — yang dihadiri sekitar 300 undangan dari kalangan pejabat tinggi negara, Gubernur Sulawesi Selatan, walikota 8 daerah, duta besar, pengusaha lokal dan nasional, serta media — Solihin tidak menampik pendapat itu. “Bisa jadi begitu, karena kebetulan saya satu-satunya lelaki di antara lima bersaudara. Saya sebagai pembawa nama keluarga justru banyak dicambuk untuk terus maju,” tutur pemilik lesung pipi yang murah senyum ini.

Walaupun begitu, bukan berarti semua perusahaan GHK dikangkangi Solihin. Pria yang sehari-harinya disapa Ihin ini mengatakan, keempat saudara perempuannya (tiga kakak dan satu adik) juga mendapat jatah mengelola perusahaan atau yayasan keluarga mereka. Si sulung Muchlisa Kalla mengelola Yayasan Hadji Kalla, Muscwirah Kalla dipercaya mengurusi keuangan GHK yang ada di Jakarta, Imelda Kalla menjadi Direktur Keuangan GHK di Makassar, dan si bungsu Chairani Kalla sebagai Direktur Pengembangan Bisnis Kemang Medical Centre.

Saudara kandung Ihin mendukung dia jika dinobatkan sebagai orang nomor satu di GHK. “Kami tidak iri, bahkan men-support Ihin karena dia memang satu-satunya lelaki di antara kami,” tutur Chairani. Lulusan Academy of Art University, San Francisco, ini mengatakan bahwa Ihin sudah memiliki jam terbang tinggi di dunia bisnis. “Jadi, Ihin pantas mendapatkan itu,” ujar gadis kelahiran Makassar, 16 Oktober 1980, itu.

Sebelum terjun ke bisnis keluarga, JK membekali para pewarisnya dengan pendidikan tinggi. Ihin dan Chairani lulusan sarjana dari universitas luar negeri. Sementara Muchlisa, Muscwirah dan Imelda meraih gelar sarjana dari perguruan tinggi nasional, tetapi semuanya menamatkan pendidikan S-2 dari universitas di Australia.

Sebelum menduduki jabatan direksi, rata-rata kelima anak JK harus magang dulu untuk belajar seluk-beluk bisnis lebih mendalam. Bahkan, saat ini posisi CEO induk perusahaan pun masih dipegang Fatimah Kalla, adik bungsu JK. Betul, sejak menjadi pejabat tinggi negara, mula-mula Menperindag, JK telah komit untuk melepaskan semua atribut sebagai pemilik dan penguasa GHK.

Ihin menuturkan, sejak dini JK telah memperkenalkan dunia bisnis ke anak-anaknya. Masih terekam jelas dalam memorinya, ketika masih di taman kanak-kanak dia sudah sering diajak sang ayah ke kantor, meninjau proyek atau bertemu dengan relasi bisnis.

Namun, Ihin lebih serius terlibat dalam pengelolaan bisnis keluarga sejak tahun 2000. Kebetulan saat itu dia telah bermumur 21 tahun dan lulus dari Jurusan Bisnis Internasional Universitas Duke, AS. Lalu, sang ayah memberinya kepercayaan mengelola Mal Ratu Indah di Makassar. Itu pun dia tidak langsung duduk di kursi empuk. “Saat itu posisi saya masih marketing, lalu dipindah ke bagian operasional sampai menjadi direktur operasional dan selanjutnya direktur utama,” ucap suami Pinta Bestari ini.

Selain di mal, Ihin pun merangkap jabatan direktur pengembangan usaha di holding GHK. Juga, direktur di sejumlah anak perusahaan lama dan baru, seperti PT Bukaka Lintas Utama (transportasi kapal feri), PT Bumi Sarana Utama (aspal), PT Trans Kalla Makassar (hiburan theme park Trans Studio).

Ihin menjelaskan, Trans Studio adalah perusahaan GHK yang paling gres. Perusahaan ini hasil kolaborasi GHK dan Grup Para dengan komposisi saham 45:55. Trans Studio terdiri dari theme park indoor, pusat perbelanjaan, dua hotel bintang 5 dan 3, residential apartment, plus marina. Pada tahap awal sudah menyedot dana investasi Rp 1 triliun.

Penggemar makanan ikan bakar ini bercerita, untuk menempati posisi direktur awalnya dia hanya dilibatkan di perusahaan kecil dulu, yaitu Bukaka Lintas Utama yang mengoperasikan kapal feri dari Bajoe ke Kolaka, Sul-Sel. Berikutnya, barulah dipercaya menjadi direksi di perusahaan yang skalanya lebih besar, seperti Mal Ratu Indah.

Size bisnis perusahaan yang ditangani Ihin bervariasi. Katakanlah untuk PT Hadji Kalla sebagai induk perusahaan, asetnya Rp 3-5 triliun. Lalu, aset PT Trans Kalla diperkirakan Rp 1 triliun dan anak-anak perusahaan lain rata-rata di bawah Rp 500 miliar.

Sejauh ini perusahaan-perusahaan GHK yang dikelola Ihin merupakan besutan generasi pertama dan kedua. Apa tidak tertarik merintis bisnis baru dari ide sendiri? “Sebenarnya, Papa memberi kebebasan anak-anaknya untuk mengembangkan bisnis baru. Namun, saya kira perusahaan yang lama masih banyak yang bisa di-develop,” ujar pehobi olah raga sky diving ini berkilah.

“Lebih enak di halaman rumah sendiri,” tutur Ihin saat ditanya apakah ada rencana ekspansi atau ngantor di Jakarta. Saat ini dia lebih enjoy membangun Makassar dulu dan mengendalikan banyak bisnis di Kota Anging Mamiri itu. Dengan demikian, dia lebih mudah dalam mengontrol kondisi semua perusahaan yang menjadi tanggung jawabnya.

Di luar lima perusahaan yang ditangani Ihin, sejatinya GHK mempunyai total lebih dari 10 perusahaan. Antara lain, PT Nusantara Air Charter, PT Bumi Barito Utama, PT Bumi Karsa, PT Bumi Sarana Beton, PT Baruga Asrinusa Development, PT Kali Inti Karsa, PT Kalla Electrical System, PT Kalla Lines dan PT Bukaka Investama. Adapun sektor usaha yang digeluti adalah industri otomotif, jasa, perdagangan, properti, infrastruktur, transportasi dan energi.

Menurut Ihin, bisnis energi dirambah GHK tiga tahun terakhir. Tepatnya, tahun 2006 melalui bendera PT Bosowa Energy, pihaknya memproklamasikan berdirinya perusahaan padat modal tersebut. Untungnya, tidak berapa lama sudah mendapat proyek baru, yaitu konsesi PLTA di Poso dengan kontrak 600 megawatt. Lagi-lagi Ihin menegaskan, ekspansi GHK ke bidang energi bukanlah murni inisiatifnya, melainkan keputusan keluarga.

Lantas, sebagai generasi ketiga, apa saja terobosan yang dilakukan Ihin, sehingga berbeda dari para pendiri dan generasi kedua? “Kami di sini belum ada gebrakan khusus. Semuanya dilakukan atas nama keluarga besar. Dan alhamdulillah, bisnis kami stabil walaupun dunia luar gonjang-ganjing. Kami akan terus jaga kondisi ini selain upaya meningkatkan omset tentunya,” papar ayah empat anak ini.

Ya, dengan kondisi perusahaan yang sudah mapan sepertinya Ihin tidak mendapat tantangan khusus sebagaimana yang dihadapi Anindya N. Bakrie dalam menyelamatkan perusahaan keluarganya yang sempat sekarat.

Tidak bisa dimungkiri, Ihin masih di balik bayang-bayang ayahnya. Begitu pula dalam gayanya memimpin perusahaan, lebih banyak berkiblat ke JK yang dikenal terbuka, disiplin dan ramah. Ihin berujar, ”Saya tidak pernah membeda-bedakan karyawan. Contohnya, jika ada ucapan selamat GHK kepada klien atas diresmikannya kantor atau proyek baru, hari raya, pasti diatasnamakan keluarga besar GHK. Bandingkan dengan perusahaan lain yang membagi pegawainya menjadi tiga golongan, yaitu direksi, staf dan karyawan.” Dia juga bukan pemimpin yang kejam. “Itu justru menjadi kekurangan saya, karena kurang galak terhadap karyawan,” tutur bos sekitar 2.000 pegawai ini sembari terkekeh.

Pemilik kulit putih dan alis tebal ini mengakui, saat ayahnya menjadi orang nomor dua Republik ini, banyak peluang dan fasilitas bisnis di depan mata. Contohnya, bila bertemu pejabat akan mendapat prioritas. “Tapi, oleh orang tua, kami tidak diperbolehan menerima semua iming-iming itu,” ungkap Ihin. Lebih-lebih bisnis di dalam pemerintahan, lanjutnya, kalau menerima, ada hukuman besar dari orang tua. “Padahal, banyak pihak yang menawarkan kerja sama ini-itu,” kata Ihin yang mengaku mewarisi karakter ibunya yang kalem dan penyayang.

Bagi Ihin, gurunya dalam berbisnis adalah ayahnya sendiri. “Beliau adalah entrepreneur sukses yang memimpin dengan gaya logika. Orangnya cekatan dan social life-nya bagus, sehingga tidak punya musuh,” ujarnya memuji. Itulah sebabnya, dia ingin meniru nilai kedisiplinan dari sang ayah dan nilai perhatian terhadap orang lain dari sang bunda.

Hal lain yang dikagumi Ihin dari sosok JK, “Beliau selalu merespons cepat dan tidak pernah lupa apa pun,” ungkapnya. Contoh, ketika JK menyuruh Ihin mengerjakan sesuatu, pasti akan ditagih terus, sampai lima tahun pun beliau tidak lupa. Suatu kali Ihin pernah ditugasi membuat radio di Masjid Al Markaz, Makassar. Rupanya, dua tahun kemudian tugas itu ditagih lagi, sampai akhirnya dengan terpaksa Ihin menunaikan kewajiban tersebut.

Di mata Ihin, JK juga tidak pernah lupa nama orang dan pekerjaannya. “Papa selalu menyapa dan nyamperin orang yang dikenalnya, lalu berbincang menanyakan kabar pekerjaan lawan bicaranya. “Saya ingin meniru social life-beliau, tapi susah,” ucap pria yang cenderung pendiam ini.

“Kalau sikap bisnis dan petuah generasi pertama saya tidak ingat, karena Kakek telah meninggal saat saya masih 7 tahun,” tuturnya. Akan tetapi, satu tradisi keluarga yang telah dijalankan sejak sang pendiri masih hidup hingga sekarang: tiap Jumat semua anggota keluarga berkumpul di rumah untuk makan siang bersama usai shalat Jumat. Tujuannya, meningkatkan komunikasi dan kerukunan antar-anggota keluarga, karena ini adalah kunci kelanggengan bisnis keluarga yang bertahan hingga tiga generasi.

Ihin mengaku kangen dengan kebiasaan makan bersama di luar rumah. Sebab, setelah JK menjadi pejabat tinggi, kebiasaan indah itu tinggal kenangan sejak 10 tahun lalu. “Kalau sekarang budaya makan di luar bersama-sama dilakukan lagi, mungkin harus pakai bus, soalnya cucu sudah 11 dan anak menantu 9 orang,” kata eksekutif yang ke mana-mana mengendarai mobil Toyota Kijang atau Alphard ini. Mengenai Toyota Kijang, mobil ini dipilih dengan alasan untuk menjalankan nasihat orang tua agar bergaya hidup sederhana. Apalagi, salah satu bisnis GHK adalah menjadi agen penjualan mobil Toyota di Makassar.

Dengan menjunjung tinggi nilai-nilai bisnis dan hidup yang ditanamkan orang tuanya, Ihin berharap GHK kelak lebih maju lagi. “Saya ingin nantinya GHK bakal menjadi multinational company,” tuturnya. Langkah awal yang akan dilakukannya adalah mengubah budaya perusahaan. Diakuinya, ini agak susah, karena karakter perusahaan keluarga tetap menempatkan keputusan tertinggi di tangan keluarga. Namun, pihaknya sudah mengurangi peran anggota keluarga untuk menuju perusahaan global. Menurutnya, jumlah manajemen dan karyawan GHK dari kalangan keluarga yang sebelumnya 90%, sekarang tinggal 40% saja. Jadi, profesional dan karyawan nonkeluarga kini sekitar 50% dari total 2.000-an karyawan.

Sumber: Majalah SWA
Eva Martha Rahayu
Riset: Ratu Nurul Hanifah



IAII Sumatera Barat


Ikatan Ahli Informatika Indonesia (IAII) adalah organisasi profesi yang bertujuan meningkatkan kualitas teknologi informasi di Indonesia, melindungi masyarakat dari praktek buruk layanan ahli informatika, meningkatkan kemakmuran, martabat, kehormatan, dan peran ahli informatika Indonesia dalam rangka mencapai tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tercantum pada Pembukaan UUD 1945. Profil IAII