Senin, 29 Juni 2026
Pagi terakhir dalam perjalanan panjang ini.
Setelah hampir satu minggu berpindah dari satu kota ke kota lain, hari ini target kami hanya satu: pulang ke rumah di Padang.
Perjalanan yang dimulai dari Padang pada Senin, 22 Juni 2026 pukul 17.00 WIB, telah membawa kami melewati berbagai kota, bentang alam, tempat bersejarah, danau toba, pulau samsir, acara keluarga, hingga perjumpaan dengan banyak orang. Dan pagi ini, kami masih berada di Padangsidimpuan. kota yang dikenal dengan sebutan Kota Salak.
Namun, sebelum benar-benar meninggalkan kota ini, saya dan si kecil ingin menyempatkan diri menikmati suasana pagi Padangsidimpuan.
Setelah Subuh: Mengenal Kota dengan Langkah Kaki
Seusai salat Subuh, kami bersiap keluar hotel.
Rencana awal cukup sederhana: berjalan kaki menyusuri beberapa bagian penting Kota Padangsidimpuan. Bagi saya, berjalan kaki adalah salah satu cara terbaik untuk mengenali karakter sebuah kota. Kita dapat melihat aktivitas masyarakat lebih dekat, merasakan suasana pagi, dan menemukan hal-hal kecil yang sering terlewat ketika menggunakan kendaraan.
Baru beberapa menit berjalan, perhatian kami tertuju pada salah satu moda transportasi yang cukup khas di kota ini: becak motor.
Karena penasaran dan ingin merasakan pengalaman yang berbeda, kami akhirnya memutuskan untuk mencoba.
Kami memesan satu becak motor dengan tujuan Masjid Agung Al-Abror.
Dengan ongkos sekitar Rp15.000, perjalanan singkat itu justru menjadi salah satu pengalaman kecil yang paling berkesan pagi itu.
Becak motor bukan hanya alat transportasi.
Bagi sebuah kota, moda transportasi lokal juga merupakan bagian dari identitas sosial dan budaya masyarakat. Di balik kendaraan sederhana tersebut terdapat mata pencaharian, interaksi sosial, dan karakter kehidupan sehari-hari masyarakat.
Kadang, untuk mengenal sebuah kota tidak diperlukan perjalanan yang mahal.
Cukup naik kendaraan lokal, berbincang dengan masyarakat, dan membuka diri terhadap pengalaman baru.
Masjid Agung Al-Abror
Kami kemudian tiba di Masjid Agung Al-Abror, salah satu bangunan keagamaan yang cukup menonjol di Padangsidimpuan.
Setelah turun dari becak motor, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki mengelilingi kawasan masjid.
Kemegahan masjid memberikan suasana tersendiri di pagi hari. Tempat ibadah bukan hanya berfungsi sebagai ruang ritual keagamaan, tetapi dalam perjalanan sejarah masyarakat juga sering menjadi pusat pendidikan, pembentukan karakter, dan interaksi sosial.
Masjid mengajarkan bahwa pembangunan manusia tidak hanya membutuhkan kecerdasan intelektual, tetapi juga fondasi moral dan spiritual.
Bagi seorang akademisi, ini menjadi pengingat bahwa pendidikan yang utuh tidak cukup hanya menghasilkan manusia yang pintar.
Pendidikan idealnya melahirkan manusia yang berilmu, berkarakter, berintegritas, dan memiliki kepedulian sosial.
Menyusuri Pasar Menuju Alaman Bolak
Dari masjid, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menyusuri kawasan pasar.
Di sinilah suasana kota mulai terasa lebih hidup.
Pedagang mulai membuka lapak, masyarakat mulai melakukan aktivitas pagi, dan berbagai aroma makanan khas daerah mulai menggoda.
Kami pun sambil berjalan mencari kuliner khas Padangsidimpuan.
Perjalanan kaki ini akhirnya membawa kami menuju Alaman Bolak, ruang terbuka yang menjadi salah satu titik penting kehidupan masyarakat kota.
Di kawasan ini kami kembali melihat ikon salak, buah yang begitu lekat dengan identitas Padangsidimpuan.
Mengapa Padangsidimpuan Disebut Kota Salak?
Pertanyaan ini muncul secara alami dalam perjalanan kami.
Mengapa kota ini dikenal sebagai Kota Salak?
Julukan tersebut tidak muncul tanpa alasan. Kawasan Tapanuli Selatan dan sekitarnya memang dikenal sebagai salah satu sentra produksi salak, khususnya salak dari wilayah Angkola.
Salak bukan hanya komoditas pertanian, tetapi telah menjadi bagian dari identitas ekonomi dan budaya daerah.
Dalam perspektif pembangunan wilayah, hal ini menarik untuk diperhatikan.
Sebuah komoditas lokal dapat berkembang menjadi identitas daerah (place branding) ketika memiliki keterkaitan yang kuat dengan sejarah, ekonomi, masyarakat, dan citra sebuah wilayah.
Dengan demikian, salak bagi Padangsidimpuan bukan sekadar buah.
Ia merupakan bagian dari cerita tentang pertanian, ekonomi masyarakat, budaya lokal, dan identitas daerah.
Bagi kami, memahami sebuah kota melalui komoditas unggulannya memberikan pelajaran bahwa pembangunan daerah sebaiknya tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga memperkuat potensi dan identitas lokal.
Kembali ke Hotel
Setelah cukup puas berjalan kaki, menikmati suasana kota, dan mencari kuliner khas, kami kembali memesan becak motor menuju hotel.
Perjalanan singkat dengan becak motor pagi itu menjadi pengalaman kecil yang menyenangkan.
Setelah tiba di hotel, kami kembali bersiap untuk perjalanan panjang menuju Padang.
10.00 WIB — Meninggalkan Padangsidimpuan
Sekitar pukul 10.00 WIB, seluruh barang sudah siap.
Kami meninggalkan Padangsidimpuan.
Tidak ada lagi agenda wisata khusus yang kami rencanakan hari itu. Targetnya sederhana: Padang.
Perjalanan pun berlanjut menyusuri jalur lintas tengah Sumatera.
Setelah beberapa hari melakukan perjalanan, tubuh tentu mulai merasakan lelah. Tetapi ada perasaan berbeda ketika perjalanan sudah mengarah pulang.
Ada rasa lega.
Ada rasa rindu rumah.
Dan ada pula kesadaran bahwa setiap perjalanan pada akhirnya mengajarkan kita untuk menghargai tempat yang kita sebut rumah.
Siang hingga Sore — Menyusuri Jalur Menuju Bukittinggi
Dari Padangsidimpuan, perjalanan terus berlanjut menuju wilayah Sumatera Barat.
Hari itu kami tidak banyak melakukan persinggahan.
Kami hanya berhenti seperlunya untuk kebutuhan perjalanan.
Salah satu persinggahan penting adalah untuk melaksanakan salat di sebuah masjid di sekitar Lubuk Sikaping.
Perjalanan panjang kembali mengingatkan bahwa ibadah tidak semestinya terhenti karena perjalanan.
Justru dalam perjalanan, kita belajar mengatur waktu, menyesuaikan kondisi, dan tetap menjaga kewajiban di tengah perubahan tempat dan keadaan.
18.00 WIB — Tiba di Bukittinggi
Sekitar pukul 18.00 WIB, kami tiba di Bukittinggi.
Setelah perjalanan panjang dari Padangsidimpuan, kami memilih berhenti untuk makan malam sekaligus melaksanakan salat Magrib yang dijamak dengan Isya.
Istirahat sejenak di Bukittinggi menjadi kesempatan untuk mengisi kembali energi sebelum menempuh perjalanan terakhir menuju Padang.
Pada titik ini, rasanya perjalanan sudah hampir selesai.
Namun masih ada satu tantangan terakhir: jalur Bukittinggi–Padang pada malam hari.
Malam — Bukittinggi Menuju Padang
Setelah makan malam dan sholat, kami kembali melanjutkan perjalanan.
Kendaraan bergerak melewati kawasan Agam, kemudian menuju Padang Panjang dan jalur turun menuju Padang.
Perjalanan malam itu tidak sepenuhnya mulus.
Kami harus menghadapi kemacetan di kawasan Padang Panjang.
Tetapi setelah beberapa hari melakukan perjalanan darat, kami mulai memahami satu prinsip sederhana:
Perjalanan tidak selalu dapat dikendalikan, tetapi cara kita menghadapinya dapat dikendalikan.
Kemacetan, hujan, kelelahan, jalan berliku, dan berbagai kondisi perjalanan merupakan bagian dari dinamika perjalanan.
Tidak semuanya dapat kita pilih.
Yang dapat kita pilih adalah kesabaran.
23.00 WIB — Sampai di Rumah
Setelah perjalanan panjang, sekitar pukul 23.00 WIB, akhirnya kami sampai di rumah di Padang.
Ada rasa lega yang sulit dijelaskan.
Perjalanan yang dimulai tujuh hari sebelumnya akhirnya benar-benar selesai.
Senin, 22 Juni 2026, pukul 17.00 WIB — berangkat dari Padang.
Senin, 29 Juni 2026, pukul 23.00 WIB — kembali ke Padang.
Genap satu minggu perjalanan darat.
Satu minggu yang bukan hanya berisi perpindahan kota, tetapi juga perjumpaan dengan keluarga, sejarah, budaya, alam, masyarakat, kuliner, dan berbagai pengalaman yang tidak mungkin diperoleh hanya dengan tinggal di rumah.
Refleksi Akademik
Jika dilihat dari perspektif akademik, perjalanan selama satu minggu ini sesungguhnya merupakan sebuah proses pembelajaran lintas disiplin.
Kami belajar geografi melalui bentang alam Sumatera.
Kami belajar sejarah melalui berbagai situs dan museum.
Kami belajar antropologi melalui budaya dan kehidupan masyarakat.
Kami belajar arsitektur melalui bangunan tradisional.
Kami belajar ekonomi melalui komoditas lokal seperti salak.
Kami belajar kepemimpinan melalui kisah tokoh dan sejarah perjuangan.
Kami juga belajar tentang place branding, ketika salak menjadi bagian dari identitas Padangsidimpuan.
Semua itu memperlihatkan bahwa belajar tidak memiliki batas ruang.
Kelas dapat berupa museum.
Laboratorium dapat berupa perjalanan.
Buku dapat berupa sebuah bangunan bersejarah.
Dan masyarakat dapat menjadi guru.
Bagi saya, inilah hakikat lifelong learning: selalu memiliki keinginan untuk belajar dari apa pun yang kita lihat, dengar, dan alami.
Refleksi Filosofis
Perjalanan tujuh hari ini juga memberikan sebuah kesadaran sederhana:
Kita berangkat untuk mencari pengalaman, tetapi pada akhirnya kita pulang untuk menemukan kembali makna rumah.
Ketika berangkat, kita begitu bersemangat melihat tempat baru.
Kita ingin mengetahui kota yang berbeda.
Kita ingin menikmati pemandangan yang belum pernah dilihat.
Kita ingin bertemu orang-orang baru.
Tetapi semakin jauh perjalanan ditempuh, semakin kita memahami arti pulang.
Rumah ternyata bukan hanya sebuah bangunan.
Rumah adalah tempat di mana perjalanan kita memiliki titik kembali.
Karena itu, perjalanan dan pulang sebenarnya adalah dua bagian dari filosofi kehidupan.
Berangkat mengajarkan keberanian untuk menjelajah.
Perjalanan mengajarkan keterbukaan untuk belajar.
Dan pulang mengajarkan rasa syukur.
Hikmah Perjalanan
Alhamdulillah, seluruh rangkaian perjalanan selama satu minggu akhirnya dapat diselesaikan dengan baik.
Kami berangkat dengan tujuan utama menghadiri acara keluarga.
Tetapi perjalanan memberikan jauh lebih banyak daripada yang kami rencanakan.
Kami memperoleh pengalaman tentang keluarga.
Kami mendapatkan pelajaran dari sejarah.
Kami menikmati kekayaan budaya.
Kami menyaksikan keindahan alam.
Kami belajar dari masyarakat.
Kami menikmati kuliner lokal.
Dan yang paling penting, kami menemukan kembali makna silaturahmi, kebersamaan, kesabaran, dan rasa syukur.
Dari perjalanan ini saya semakin percaya:
Perjalanan yang baik bukan hanya memperluas jarak yang kita tempuh, tetapi memperluas cara kita memandang kehidupan.
Dan ketika akhirnya sampai di rumah, kita menyadari bahwa yang paling berharga bukanlah berapa banyak kota yang telah kita lewati, tetapi berapa banyak pelajaran yang berhasil kita bawa pulang.
Senin, 29 Juni 2026, pukul 23.00 WIB.
Pintu rumah akhirnya terbuka.
Perjalanan selesai.
Cerita belum tentu selesai.
Karena setiap perjalanan selalu meninggalkan sesuatu untuk diceritakan, direnungkan, dan dibagikan.
Alhamdulillah, sampai di rumah dengan selamat.
Padang → Payakumbuh→ Pekanbaru→ Parapat→ Samosir→ Berastagi → Medan
Medan → Parapat → Samosir → Balige → Padangsidimpuan → Bukittinggi → Padang.
Tujuh hari. Ribuan kilometer. Banyak cerita. Banyak pelajaran. Satu rasa: syukur.



