Mengenal SJR dan CiteScore: Dua Metrik yang Sering Disalahpahami Pengelola Jurnal

Padang, 10 Mei 2026 – Dalam dunia publikasi ilmiah, istilah Scopus, SJR, CiteScore, dan Quartile (Q1-Q4) kerap menjadi pembicaraan hangat di kalangan pengelola jurnal. Namun, tidak sedikit yang masih keliru memahami perbedaan dan hubungan antara metrik-metrik tersebut.

Banyak pengelola jurnal yang masih bingung membedakan antara SJR dan CiteScore.

Scopus Bukan Metrik, Melainkan Database

Hal pertama yang perlu dipahami adalah bahwa Scopus bukanlah sebuah metrik atau skor. Scopus adalah database abstrak dan sitasi yang dikelola oleh Elsevier, yang mengindeks jutaan artikel ilmiah dari berbagai disiplin ilmu di seluruh dunia.

Status ‘terindeks Scopus’ berarti jurnal Anda terdaftar di database tersebut dan artikelnya dapat ditelusuri oleh peneliti global. Ini adalah status kualitas, bukan angka peringkat. Dengan kata lain, Scopus adalah “perpustakaan besar” tempat jurnal-jurnal berkualitas dikumpulkan. Dari sini, berbagai metrik kemudian dihitung berdasarkan data sitasi yang tersedia.

SJR: Mengukur Kualitas, Bukan Kuantitas Sitasi

SJR (SCImago Journal Rank) adalah metrik yang dikembangkan oleh SCImago Research Group menggunakan data dari Scopus. Berbeda dengan perhitungan sitasi sederhana, SJR menerapkan konsep weighted citation, di mana kualitas sitasi lebih penting daripada kuantitas.

Prinsipnya sederhana: satu sitasi dari jurnal bergengsi seperti Nature atau Science jauh lebih berharga daripada puluhan sitasi dari jurnal yang kurang dikenal. SJR menggunakan algoritma mirip Google PageRank, di mana setiap sitasi diberi bobot berdasarkan prestise jurnal yang mensitasi. Metrik ini juga membatasi self-citation (sitasi sendiri) maksimal 33% untuk mencegah manipulasi.

Contoh Nyata Perhitungan Weighted Citation

Untuk memperjelas, mari kita lihat ilustrasi sederhana:

Jurnal A menerbitkan 100 artikel dalam periode 3 tahun dan menerima 500 sitasi. Namun, sitasi tersebut berasal dari berbagai sumber dengan bobot berbeda:

  • 10 sitasi dari jurnal top (SJR 10.0) = bobot 100
  • 100 sitasi dari jurnal menengah (SJR 1.2) = bobot 120
  • 390 sitasi dari jurnal lokal (SJR 0.2) = bobot 78

Total weighted citations = 298, dibagi 100 artikel = SJR sekitar 2.98 (setelah normalisasi mungkin menjadi 2.5).

Meski mayoritas sitasi (390) datang dari jurnal lokal, kontribusinya terhadap SJR justru paling kecil. Inilah mengapa fokus pada kualitas publikasi dan networking dengan jurnal bergengsi sangat penting.

CiteScore: Alternatif yang Lebih Transparan

Di sisi lain, CiteScore dikembangkan oleh Elsevier dengan pendekatan yang lebih sederhana dan transparan. CiteScore menghitung rata-rata sitasi per dokumen dalam periode 4 tahun, tanpa sistem pembobotan.

Formula CiteScore sangat straightforward:

CiteScore = Total Sitasi (4 tahun) / Total Dokumen yang Dapat Disitasi (4 tahun)

CiteScore lebih mudah dipahami dan dihitung. Namun, karena tidak ada pembobotan, jurnal yang banyak disitasi oleh jurnal-jurnal biasa-biasa saja bisa memiliki CiteScore tinggi meski SJR-nya rendah.

Perbandingan SJR vs CiteScore

Aspek SJR CiteScore
Metodologi Weighted (kualitas sitasi) Simple count (jumlah sitasi)
Periode hitung 3 tahun 4 tahun
Self-citation Dibatasi max 33% Tidak dibatasi (hanya dilaporkan)
Normalisasi Ya (antar bidang ilmu) Tidak
Transparansi Algoritma kompleks Sangat transparan

Idealnya, pengelola jurnal sebaiknya memantau kedua metrik ini. SJR menunjukkan prestige dan kualitas dampak, sementara CiteScore menunjukkan volume dan jangkauan sitasi.

Quartile: Peringkat Relatif dalam Kategori

Baik SJR maupun CiteScore kemudian digunakan untuk menentukan Quartile (Q1-Q4), yaitu peringkat relatif jurnal dalam kategori subjek tertentu.

Sistem Quartile:

  • Q1 = 25% jurnal teratas (terbaik)
  • Q2 = Ranking 25-50%
  • Q3 = Ranking 50-75%
  • Q4 = 25% terbawah

Yang menarik, dua jurnal dengan SJR sama bisa berada di quartile berbeda tergantung kategori subjeknya.

Misalnya, SJR 0.5 di kategori Computer Science yang sangat kompetitif mungkin hanya masuk Q3. Tapi SJR 0.5 di kategori Maritime Studies yang kurang kompetitif bisa masuk Q1.

Lebih lanjut, satu jurnal bisa masuk beberapa kategori sekaligus dan memiliki quartile berbeda di masing-masing kategori.

Kesalahpahaman Umum yang Harus Dihindari

Berdasarkan survei informal di kalangan pengelola jurnal Indonesia, beberapa kesalahpahaman umum teridentifikasi:

❌ SALAH: “Jurnal saya Scopus Q1”
✅ BENAR: “Jurnal saya terindeks Scopus dengan peringkat Q1 berdasarkan SJR”

❌ SALAH: “SJR dan CiteScore itu sama saja”
✅ BENAR: “SJR dan CiteScore adalah dua metrik berbeda dengan metodologi berbeda”

❌ SALAH: “Quartile tinggi pasti SJR tinggi”
✅ BENAR: “Quartile bersifat relatif per kategori; SJR 0.3 bisa saja Q1 di kategori tertentu”

❌ SALAH: “Terindeks Scopus otomatis dapat SJR dan quartile”
✅ BENAR: “SJR baru muncul setelah minimal 3 tahun terindeks dan punya data sitasi”

Strategi Meningkatkan Metrik: Quality vs Quantity

Para ahli menyarankan pendekatan berbeda untuk meningkatkan SJR dan CiteScore.

Untuk Meningkatkan SJR (fokus kualitas):

  • Kolaborasi dengan peneliti dari universitas ternama internasional
  • Undang guest editor dari jurnal Q1/Q2 untuk special issues
  • Tingkatkan standar peer review dengan reject rate minimal 40-50%
  • Publikasikan artikel dengan novelty tinggi dan potensi dampak besar

Untuk Meningkatkan CiteScore (fokus volume):

  • Tingkatkan frekuensi publikasi
  • Maksimalkan visibilitas dengan Open Access penuh
  • Promosi intensif di media sosial akademik (ResearchGate, LinkedIn)
  • Buat special issues untuk topik-topik trending

Jurnal Indonesia: Peluang dan Tantangan

Indonesia saat ini memiliki sekitar 140+ jurnal yang terindeks Scopus, dengan mayoritas berada di kategori Q3 dan Q4. Hanya segelintir yang berhasil mencapai Q1 atau Q2.

Tantangan terbesar adalah kurangnya sitasi dari jurnal internasional bergengsi. Artikel kita cenderung disitasi oleh sesama jurnal regional, yang bobotnya rendah untuk perhitungan SJR.

“Jurnal RESTI misalnya, berhasil naik dari Q4 ke Q3 dalam 3 tahun terakhir dengan fokus pada kolaborasi internasional dan peningkatan kualitas artikel. Target kami adalah Q2 dalam 2-3 tahun ke depan,” ungkap Dr. Ir. Yuhefizar optimis.

Rekomendasi untuk Pengelola Jurnal

Mengakhiri diskusi, para ahli memberikan beberapa rekomendasi praktis:

1. Pahami perbedaan metrik dengan benar Jangan hanya mengejar angka tanpa memahami maknanya. Setiap metrik punya tujuan dan cara pengukuran berbeda.

2. Monitor kedua metrik secara berkala Gunakan www.scimagojr.com (untuk SJR) dan Scopus Sources (untuk CiteScore) untuk tracking rutin.

3. Gunakan data untuk keputusan strategis Analisis dari mana sitasi datang, artikel mana yang paling banyak disitasi, dan topik apa yang paling diminati.

4. Fokus pada kualitas jangka panjang Jangan tergoda untuk “gaming the system” dengan self-citation berlebihan atau strategi jangka pendek lainnya.

5. Bangun jaringan internasional Undang editor dan reviewer internasional, ajak kolaborasi dengan peneliti dari universitas ternama.

6. Sabar dan konsisten Improvement tahun ini baru akan terlihat di metrik 1-2 tahun kemudian karena periode perhitungan 3-4 tahun.

Penutup

Memahami SJR, CiteScore, dan metrik lainnya dengan benar adalah fondasi untuk pengelolaan jurnal yang efektif. Dengan pemahaman yang tepat, kita bisa menetapkan target realistis, memilih strategi yang sesuai, dan akhirnya meningkatkan kualitas publikasi ilmiah Indonesia di mata dunia.

Bagi pengelola jurnal yang ingin mempelajari lebih lanjut, SCImago dan Scopus menyediakan berbagai tutorial dan dokumentasi gratis di website resmi mereka.

Referensi:

Yuhefizar (EiC Jurnal RESTI)

IAII Sumatera Barat


Ikatan Ahli Informatika Indonesia (IAII) adalah organisasi profesi yang bertujuan meningkatkan kualitas teknologi informasi di Indonesia, melindungi masyarakat dari praktek buruk layanan ahli informatika, meningkatkan kemakmuran, martabat, kehormatan, dan peran ahli informatika Indonesia dalam rangka mencapai tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tercantum pada Pembukaan UUD 1945. Profil IAII

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*