๐—ฉ๐—ฒ๐—ฟ๐˜† ๐——๐—ฒ๐—บ๐˜‚๐—ฟ๐—ฒ, ๐—ฉ๐—ฒ๐—ฟ๐˜† ๐— ๐—ถ๐—ป๐—ฑ๐—ณ๐˜‚๐—น: ๐—ž๐—ฒ๐—ธ๐˜‚๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐—ž๐—ฒ๐˜๐—ฒ๐—ฑ๐˜‚๐—ต๐—ฎ๐—ป ๐——๐—ถ๐—ฟ๐—ถ

Olah raga pagi ini, saya memakai baju dengan teks “Very Demure, Very Mindful”, sebuah kalimat sarat makna.
Di tengah dunia yang bergerak cepat, penuh kebisingan, dan sering kali menuntut kita untuk selalu tampil, kalimat sederhana โ€œvery demure, very mindfulโ€ justru menjadi pengingat yang kuat: bahwa tidak semua hal harus ditunjukkan, dan tidak semua reaksi perlu disuarakan.

Demure berarti bersikap tenang, santun, tidak berlebihan, dan menjaga diri. Orang yang demure tidak mencari perhatian, tetapi justru memancarkan wibawa melalui kesederhanaan dan kelembutan sikapnya.

Menjadi very demure bukan berarti lemah, tetapi tentang kemampuan menempatkan diri dengan elegan, tenang dalam sikap, santun dalam kata, dan tidak berlebihan dalam menunjukkan sesuatu. Dalam konteks hari ini, ketika media sosial sering mendorong kita untuk bereaksi cepat dan tampil mencolok, sikap ini menjadi bentuk kekuatan yang jarang dimiliki: kemampuan untuk tetap rendah hati di tengah sorotan.

Sementara itu, very mindful adalah tentang kesadaran penuh, menyadari apa yang kita pikirkan, katakan, dan lakukan. Ini adalah bentuk kontrol diri yang tinggi, di mana setiap langkah dipertimbangkan, setiap kata ditimbang, dan setiap keputusan diambil dengan kebijaksanaan, bukan sekadar emosi sesaat.

Jika kita kaitkan dengan filosofi Minangkabau, nilai ini sangat selaras dengan prinsip โ€œraso jo paresoโ€, merasakan dengan hati dan mempertimbangkan, dengan akal. Dalam budaya Minang, seseorang tidak hanya dinilai dari apa yang ia capai, tetapi bagaimana ia bersikap: tahu diri, tahu tempat, dan tahu waktu. Itulah wujud dari demure yang sesungguhnya.

Begitu pula dengan pepatah โ€œalam takambang jadi guruโ€, yang mengajarkan kita untuk selalu belajar dari kehidupan. Menjadi mindful berarti membuka diri untuk memahami setiap peristiwa, bukan sekadar menjalani, tetapi memaknainya. Dari situ lahir kebijaksanaan, bukan sekadar pengetahuan.

Refleksi ini menjadi semakin relevan hari ini. Di tengah arus informasi yang deras, perbedaan pendapat yang tajam, bahkan tekanan hidup yang semakin kompleks, kita dihadapkan pada pilihan: ikut larut dalam kebisingan, atau memilih menjadi pribadi yang tenang, sadar, dan bijak.

Menjadi very demure, very mindful adalah tentang kembali ke dalam diri, menyusun ulang niat, menjaga sikap, dan merawat hati. Tidak perlu selalu menjadi yang paling terlihat, cukup menjadi yang paling terjaga.

Karena pada akhirnya, nilai seseorang bukan ditentukan oleh seberapa keras ia bersuara, tetapi seberapa dalam ia memahami makna hidup dan seberapa bijak ia menjalaninya.


#yuhefizar #selfreminder @sorotan #pengikut

IAII Sumatera Barat


Ikatan Ahli Informatika Indonesia (IAII) adalah organisasi profesi yang bertujuan meningkatkan kualitas teknologi informasi di Indonesia, melindungi masyarakat dari praktek buruk layanan ahli informatika, meningkatkan kemakmuran, martabat, kehormatan, dan peran ahli informatika Indonesia dalam rangka mencapai tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tercantum pada Pembukaan UUD 1945. Profil IAII