Sandal Tangkelek di Masjid

Siang ini, usai menunaikan sholat Zhuhur di Masjid Nurul Yaqin Muhammadiyah Marapalam, ada satu hal sederhana yang justru memberi ruang renung yang dalam.
Di area wudhu, disediakan sandal khas: tangkelek. Sandal kayu dengan pengikat dari karet ban bekas, yang saat dipakai mengeluarkan bunyi khas: “kulang-kaling…” suara yang mungkin sederhana, tapi sarat makna.
Tangkelek bukan sekadar alas kaki. Ia adalah warisan kearifan lokal Minangkabau. Terbuat dari kayu ringan yang tidak menyerap air dan dilengkapi pengikat dari bahan bekas, tangkelek menunjukkan bagaimana masyarakat dahulu hidup selaras dengan alam: memanfaatkan yang ada, tanpa berlebihan, tanpa mubazir.
Menariknya, dari sisi kesehatan, tangkelek juga memiliki manfaat yang jarang kita sadari. Permukaan kayunya yang keras dan datar memberikan efek seperti refleksi alami pada telapak kaki. Saat berjalan, ada tekanan ringan yang merangsang titik-titik saraf, membantu melancarkan peredaran darah. Selain itu, desainnya yang sedikit terangkat dari tanah menjaga kaki tetap kering, mengurangi risiko lembab, jamur, atau terpeleset di area basah seperti tempat wudhu.
Bunyi “kulang-kaling” yang dihasilkan pun bukan sekadar suara. Dahulu, itu menjadi semacam “penanda hidup” bahwa ada aktivitas, ada langkah menuju surau, ada ritme kehidupan yang berjalan. Bahkan secara tidak langsung, ia menjadi pengingat kehadiran langkah yang terdengar, tapi tidak mengganggu.
Dalam konteks masjid, tangkelek menghadirkan harmoni antara budaya dan ibadah. Ia menjaga kebersihan, memudahkan wudhu, sekaligus menghadirkan identitas lokal yang tidak hilang oleh zaman.
Di sinilah filosofi Minangkabau terasa begitu hidup: adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.
Bahwa adat (budaya) bukan untuk ditinggalkan, tetapi untuk menyempurnakan jalan syarak (agama). Bahwa kesederhanaan bukan kekurangan, melainkan kekuatan.
Dari tangkelek, kita belajar:
bahwa kesehatan bisa dijaga dari hal sederhana,
bahwa lingkungan bisa dirawat dari kebiasaan kecil,
dan bahwa nilai-nilai besar seringkali berakar dari benda yang paling sederhana.
Langkah kecil dengan tangkelek menuju tempat wudhu, sejatinya adalah langkah besar menuju kesadaran bahwa hidup yang baik tidak harus rumit.
Semoga langkah-langkah kecil kita hari ini, juga menjadi bagian dari perjalanan menuju kebaikan yang lebih besar.

IAII Sumatera Barat


Ikatan Ahli Informatika Indonesia (IAII) adalah organisasi profesi yang bertujuan meningkatkan kualitas teknologi informasi di Indonesia, melindungi masyarakat dari praktek buruk layanan ahli informatika, meningkatkan kemakmuran, martabat, kehormatan, dan peran ahli informatika Indonesia dalam rangka mencapai tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tercantum pada Pembukaan UUD 1945. Profil IAII