Sepenggal Kisah dari Koto Lalang: Ketika Kepedulian Menjadi Penguat
"Kadang tidak ada yang bisa dimakan, Pak. Kalau saya, mungkin masih bisa menahan lapar. Namun, anak yang kecil ini tidak bisa. Menangis saya memikirkan keadaan ini. Kepada siapa lagi saya harus mengadu? Untung masih ada orang kedai yang bisa meminjamkan. Kalau tidak, tidak ada yang bisa dimakan. Kadang untuk belanja anak pun tidak ada." [Gambar hanya ilustrasi]
Jum'at, 30 Oktober 2026 - Tidak semua perjalanan berbagi meninggalkan kesan yang sama. Ada kalanya kita datang membawa bantuan, tetapi justru pulang dengan membawa pelajaran kehidupan yang jauh lebih besar. Itulah yang kami rasakan dalam kegiatan penyaluran sembako Tim Jumat Berkah Pedagang Pasar Bandar Buat, Jumat sore, 30 Oktober 2026.
Hari itu, bagi saya sebenarnya menjadi salah satu hari yang cukup padat. Sejak pagi, aktivitas telah diisi dengan beberapa agenda rapat bersama pimpinan Politeknik Negeri Padang (PNP). Memasuki siang hari, kegiatan dilanjutkan dengan rapat internal pimpinan jurusan. Sore harinya, sekitar pukul 16.15 WIB, baru saja selesai rapat jurusan bersama para dosen.
Di tengah rangkaian aktivitas tersebut, sekitar pukul 16.45 WIB, sebuah telepon masuk dari anggota Tim Jumat Berkah. Mereka mengajak untuk ikut serta dalam kegiatan penyaluran sembako yang telah dijadwalkan sore itu.
Jum'at berkah pedagang pasar bandar buat adalah agenda rutin berbagi sembako bagi saudara kita yang membutuhkan setiap hari Jumat dan hingga saat ini telah berjalan sekitar 5 tahun. Komitmen dan konsistensi tim ini sangat saya apresiasi.
Waktu terasa cukup terbatas. Pukul 18.00 WIB saya sudah harus mulai mempersiapkan bahan perkuliahan yang dijadwalkan berlangsung pukul 19.00 WIB. Namun, kegiatan Jumat Berkah selalu memiliki tempat tersendiri. Selama tidak ada agenda yang benar-benar tidak dapat ditinggalkan, berusaha untuk hadir dan terlibat langsung dalam kegiatan penyaluran bantuan menjadi bagian dari komitmen bersama.
Akhirnya disampaikan, "Insyaallah, sore ini ikut mengantar."
Sore itu, saya ikut bersama dua anggota Tim Jumat Berkah, Pak Alfianto dan Hengki. Sebanyak sepuluh paket sembako telah disiapkan untuk disalurkan kepada keluarga-keluarga yang membutuhkan. Dan ada beberapa tim lagi yang ikut turun kelapangan. Salah satu keluarga yang menjadi tujuan kunjungan berada di kawasan Koto Lalang, di sekitar area rel kereta api.
Awalnya, kunjungan ini diperkirakan berlangsung singkat. Namun, apa yang kami temui di sana justru menjadi sebuah pengalaman yang membekas dan mengingatkan kembali betapa pentingnya kepedulian terhadap sesama.
Sebuah Rumah Kontrakan dan Tujuh Jiwa yang Berjuang
Kami tiba di sebuah rumah kontrakan sederhana yang dihuni tujuh orang anggota keluarga. Rumah tersebut menjadi tempat mereka berteduh sekaligus menjalani kehidupan sehari-hari dengan segala keterbatasan.
Informasi mengenai keluarga ini diperoleh Tim Jumat Berkah dari pemilik warung yang berada tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Selama ini, keluarga tersebut memiliki utang di warung itu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama ketika tidak memiliki cukup uang untuk membeli bahan makanan.
Pemilik warung mengetahui betul kondisi keluarga tersebut. Ia memahami bahwa utang yang diberikan bukan untuk memenuhi keinginan yang berlebihan, melainkan sering kali sekadar agar keluarga itu tetap bisa makan. Dari kepedulian pemilik warung inilah informasi mengenai kondisi keluarga tersebut sampai kepada Tim Jumat Berkah.
Sebuah hal sederhana, tetapi sangat berarti. Di tengah keterbatasannya sendiri, pemilik warung masih memiliki kepekaan untuk menyampaikan bahwa ada tetangga yang membutuhkan perhatian dan bantuan.
Dari percakapan awal, kami mengetahui bahwa keluarga tersebut terdiri atas tujuh orang. Salah seorang anak telah bekerja sebagai kuli bangunan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Sementara itu, ada pula anak yang tidak lagi bersekolah.
Kondisi keluarga ini semakin terasa berat ketika sang ibu mulai menceritakan keadaan suaminya. Suaminya pernah mengalami stroke ringan dan selama ini bekerja sebagai tukang parkir di kawasan Pasar Raya Padang. Pekerjaan tersebut menjadi salah satu tumpuan ekonomi keluarga.
Namun, sejak berlangsungnya proses pembangunan di kawasan Pasar Raya, pendapatan suaminya semakin berkurang. Aktivitas pekerjaan yang sebelumnya menjadi sumber penghasilan kini tidak lagi memberikan pemasukan seperti dahulu. Sementara kebutuhan keluarga tetap harus dipenuhi setiap hari.
Dalam keadaan seperti itu, keluarga tersebut harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan makan, kebutuhan anak-anak, dan berbagai keperluan rumah tangga lainnya.
"Saya Bisa Menahan Lapar, Tetapi Anak yang Kecil Ini Tidak Bisa"
Di tengah percakapan, sang ibu mulai mengungkapkan isi hatinya. Kalimat-kalimat yang disampaikan sederhana, tetapi terasa begitu dalam. Ada kesedihan, kecemasan, sekaligus ketegaran seorang ibu yang berusaha mempertahankan keluarganya.
Dengan suara penuh haru, ia bercerita:
"Kadang tidak ada yang bisa dimakan, Pak. Kalau saya, mungkin masih bisa menahan lapar. Namun, anak yang kecil ini tidak bisa. Menangis saya memikirkan keadaan ini. Kepada siapa lagi saya harus mengadu? Untung masih ada orang kedai yang bisa meminjamkan. Kalau tidak, tidak ada yang bisa dimakan. Kadang untuk belanja anak pun tidak ada."
Kami mendengarkan cerita itu dengan penuh perhatian.
Sang ibu juga mengungkapkan bahwa terkadang keluarga mereka hanya bisa mengandalkan mi sebagai makanan sehari-hari. Ketika tidak ada uang untuk membeli bahan makanan, utang di warung menjadi salah satu cara untuk bertahan.
Ada satu cerita lain yang semakin memperlihatkan beratnya keadaan keluarga tersebut. Sejak sehari sebelumnya, mereka bahkan tidak mampu membeli gas elpiji. Untuk memasak, mereka terpaksa menggunakan kayu bakar di depan rumah.
Bagi sebagian orang, membeli gas elpiji mungkin merupakan kebutuhan rutin yang tidak terlalu dipikirkan. Namun, bagi keluarga ini, membeli satu tabung gas pun menjadi persoalan yang harus dipertimbangkan dengan sangat hati-hati.
Mendengar cerita tersebut, kami semakin memahami bahwa bantuan yang dibutuhkan keluarga ini bukan hanya tentang sembako. Ada kebutuhan mendesak yang harus segera dipenuhi agar bahan makanan yang diberikan dapat langsung dimanfaatkan.
Sembako dan Gas Elpiji: Bantuan Sederhana yang Berarti
Tim Jumat Berkah kemudian menyerahkan paket sembako yang telah disiapkan. Namun, setelah mengetahui bahwa keluarga tersebut sudah sejak kemarin tidak memiliki gas untuk memasak, tim segera mengambil inisiatif untuk membelikan satu tabung gas elpiji.
Langkah tersebut dilakukan agar sembako yang diberikan bisa langsung dimasak dan dinikmati oleh seluruh anggota keluarga. Bukan sekadar menyerahkan bantuan, tetapi memastikan bahwa bantuan tersebut benar-benar dapat digunakan sesuai kebutuhan.
Mungkin bagi sebagian orang, satu paket sembako dan satu tabung gas bukanlah sesuatu yang besar. Namun, bagi keluarga yang sedang berada dalam kesulitan, bantuan itu memiliki arti yang jauh lebih dalam.
Ada satu pemandangan yang paling membekas sore itu: anak yang paling kecil terlihat begitu senang dengan kedatangan kami dan bantuan yang diterimanya. Kebahagiaan sederhana dari seorang anak tersebut menjadi pengingat bahwa hal-hal yang mungkin kita anggap biasa ternyata bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi orang lain.
Kami membayangkan, setidaknya sore itu sang ibu dapat sedikit bernapas lega. Tidak perlu lagi memikirkan bagaimana mendapatkan bahan makanan dan gas untuk memasak pada hari itu. Ada bantuan yang datang ketika keluarga tersebut benar-benar membutuhkannya.
Tentu saja, bantuan ini belum menyelesaikan seluruh persoalan yang mereka hadapi. Namun, setidaknya ada kebutuhan mendesak yang dapat diringankan. Ada kepedulian yang hadir, dan ada harapan yang kembali tumbuh.
Kepedulian yang Berawal dari Lingkungan Terdekat
Ada satu hal menarik dari kunjungan ini. Tim Jumat Berkah mengetahui kondisi keluarga tersebut bukan melalui laporan resmi atau permohonan bantuan, melainkan dari pemilik warung tempat keluarga itu biasa berutang.
Hal ini memberikan pelajaran bahwa kepedulian sosial dapat tumbuh dari lingkungan yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat. Tetangga, pemilik warung, pedagang, dan orang-orang yang setiap hari berinteraksi dengan masyarakat sering kali menjadi pihak yang paling mengetahui kondisi sesungguhnya.
Mereka melihat secara langsung bagaimana seseorang berjuang memenuhi kebutuhan hidup. Mereka mengetahui siapa yang sedang kesulitan, siapa yang membutuhkan perhatian, dan siapa yang mungkin tidak memiliki keberanian untuk menyampaikan persoalannya kepada orang lain.
Karena itu, membangun jaringan kepedulian di tengah masyarakat menjadi sangat penting. Tim Jumat Berkah tidak mungkin mengetahui seluruh keluarga yang membutuhkan tanpa adanya informasi dan partisipasi dari lingkungan sekitar.
Apa yang dilakukan pemilik warung tersebut merupakan contoh nyata bahwa kepedulian tidak harus selalu diwujudkan dengan memberikan bantuan materi. Menyampaikan informasi, menghubungkan orang yang membutuhkan dengan pihak yang mampu membantu, dan tidak menutup mata terhadap kesulitan orang lain juga merupakan bentuk kebaikan.
Jumat Berkah: Lebih dari Sekadar Membagikan Sembako
Perjalanan sore itu memberikan beberapa pelajaran berharga.
Pertama, bahwa kesibukan jangan sampai membuat kita kehilangan kepekaan sosial. Di tengah aktivitas pekerjaan, rapat, dan tanggung jawab lainnya, selalu ada kesempatan untuk berbuat baik. Tidak harus menunggu memiliki banyak waktu luang. Terkadang, meluangkan sedikit waktu untuk hadir di tengah masyarakat justru memberikan makna yang besar.
Kedua, bahwa bantuan yang tepat harus dimulai dengan mendengarkan. Awalnya, Tim Jumat Berkah datang membawa sembako. Namun, setelah mendengarkan cerita sang ibu, tim mengetahui bahwa keluarga tersebut juga membutuhkan gas elpiji agar dapat memasak. Dari situ terlihat bahwa kepedulian bukan hanya tentang memberikan apa yang telah kita siapkan, tetapi juga memahami apa yang benar-benar dibutuhkan oleh penerima bantuan.
Ketiga, bahwa kepedulian harus dibangun secara berkelanjutan. Satu kali bantuan mungkin dapat meringankan kebutuhan untuk beberapa hari, tetapi belum tentu menyelesaikan persoalan ekonomi keluarga. Karena itu, keluarga yang kami kunjungi sore itu perlu menjadi perhatian untuk tindak lanjut berikutnya, terutama terkait kebutuhan pangan, kondisi keluarga, dan masa depan anak-anaknya.
Keempat, bahwa setiap orang dapat mengambil bagian dalam gerakan kebaikan. Para donatur, anggota tim, pemilik warung, tetangga, dan masyarakat sekitar memiliki peran masing-masing. Ketika semua pihak saling peduli dan terhubung, bantuan akan lebih mudah sampai kepada mereka yang membutuhkan.
Mohon doanya, Program Jumat Berkah Pedagang Pasar Bandar Buat tidak hanya menjadi kegiatan rutin membagikan sembako, tetapi terus berkembang menjadi gerakan sosial yang hadir, mendengar, memahami, dan menguatkan masyarakat.
Jangan Menunggu Berlebih untuk Berbagi
Sore itu, kami berangkat dengan waktu yang terbatas. walau saya hanya sempat mengunjungi saatu keluarga secara langsung. Namun, kunjungan singkat tersebut memberikan pelajaran yang tidak sederhana.
Kami datang membawa sembako, tetapi pulang membawa pengingat tentang arti kehidupan, rasa syukur, dan kepedulian.
Bahwa di sekitar kita mungkin masih ada seorang ibu yang berusaha menahan lapar agar anaknya bisa makan. Ada seorang ayah yang tetap berusaha bekerja meskipun kondisi kesehatannya tidak lagi seperti dahulu. Ada anak-anak yang membutuhkan perhatian dan kesempatan untuk memiliki masa depan yang lebih baik.
Kisah ini mengingatkan kita untuk tidak mudah mengukur kebahagiaan hanya dari apa yang kita miliki. Apa yang bagi kita merupakan kebutuhan sehari-hari, bisa jadi merupakan sesuatu yang sangat sulit diperoleh oleh keluarga lain.
Jangan sampai kesibukan membuat kita kehilangan kepekaan. Jangan sampai kelapangan rezeki membuat kita lupa bahwa masih ada saudara di sekitar kita yang sedang berjuang untuk sekadar memenuhi kebutuhan makan.
Semoga Allah SWT senantiasa melapangkan rezeki keluarga tersebut, memberikan kesembuhan dan kekuatan kepada sang suami, menjaga anak-anak mereka, serta membalas kebaikan para donatur, anggota Tim Jumat Berkah, pemilik warung yang telah menyampaikan informasi, dan seluruh pihak yang telah mengambil bagian dalam gerakan kebaikan ini.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah gerakan berbagi bukan hanya diukur dari berapa banyak bantuan yang disalurkan, tetapi juga dari seberapa besar kepedulian yang berhasil dihadirkan dan seberapa jauh harapan dapat kembali tumbuh di tengah kehidupan masyarakat.
Jumat Berkah. Berbagi bukan karena kita berlebih, tetapi karena kita peduli.
Diskusi
Masuk atau daftar gratis untuk ikut berdiskusi.