Menghidupkan Kembali Sejarah yang Terlupakan, Yuhefizar Menulis Buku “Pasa Banda Buek Berdarah”
Jangan biarkan tugu itu hanya berdiri. Biarkan ia terus bercerita.
PADANG – Sebuah tugu berdiri di kawasan Pasar Bandar Buat, Kota Padang. Setiap hari, masyarakat melewatinya. Aktivitas perdagangan berlangsung seperti biasa, kendaraan hilir mudik, dan orang-orang datang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, di balik keberadaan tugu tersebut tersimpan kisah kelam yang tidak banyak diketahui: tragedi serangan udara pada 18 Januari 1947 yang merenggut nyawa puluhan warga sipil.
Kisah itulah yang mendorong Yuhefizar, dosen Jurusan Teknologi Informasi Politeknik Negeri Padang, melakukan penelusuran sejarah dan menyusunnya menjadi sebuah buku berjudul “PASA BANDA BUEK BERDARAH: 18 Januari 1947: Tragedi, Perjuangan, dan Ingatan yang Tertinggal.”
Gagasan penulisan buku ini berawal dari pertanyaan sederhana tentang keberadaan sebuah tugu yang sering dijumpai di kawasan pasar. Mengapa tugu itu didirikan? Peristiwa apa yang pernah terjadi di tempat tersebut? Mengapa sebuah pasar tradisional memiliki monumen yang menggambarkan tiga sosok manusia dengan pandangan mengarah ke langit?
Pertanyaan tersebut kemudian membawa penulis menelusuri berbagai sumber sejarah, mulai dari buku, penelitian akademik, arsip, hingga pemberitaan media. Dari penelusuran itu, terungkap bahwa pada Sabtu, 18 Januari 1947, Pasar Bandar Buat menjadi lokasi serangan udara dalam masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Tragedi tersebut menimbulkan korban dari kalangan masyarakat sipil, termasuk pedagang, perempuan, dan anak-anak. Sejumlah sumber menyebutkan lebih dari 50 orang meninggal dunia. Proses penyelamatan dan pemakaman korban juga berlangsung dalam situasi sulit karena ancaman serangan udara masih membayangi masyarakat.
Bagi Yuhefizar, peristiwa ini tidak sekadar menjadi catatan tentang sebuah tragedi pada masa lalu. Di dalamnya terdapat kisah kemanusiaan, kehilangan, keberanian masyarakat untuk menolong sesama, serta pengorbanan warga biasa yang ikut merasakan dampak konflik bersenjata.
Menelusuri Sejarah dari Sebuah Tugu
Salah satu hal menarik dari proses penulisan buku ini adalah upaya menghubungkan keberadaan tugu dengan peristiwa sejarah yang melatarbelakanginya.
Tugu Peringatan Pasa Banda Buek menjadi simbol penting untuk menjaga ingatan masyarakat. Namun, keberadaan monumen tidak selalu diikuti pengetahuan yang memadai tentang sejarahnya. Sebagian orang yang beraktivitas di sekitar pasar belum tentu mengetahui tragedi yang diperingati oleh tugu tersebut.
Kondisi ini menjadi salah satu alasan pentingnya dokumentasi sejarah lokal. Sebuah monumen tidak cukup hanya berdiri sebagai bangunan fisik. Ia membutuhkan cerita, informasi, dan upaya pewarisan pengetahuan agar generasi berikutnya memahami makna keberadaannya.
Dalam penelusurannya, Yuhefizar juga menemukan sejumlah hal yang masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Di antaranya adalah pendataan lengkap nama-nama korban, kepastian lokasi pasar pada 1947 dibandingkan dengan lokasi pasar saat ini, rekonsiliasi informasi mengenai tempat pemakaman korban, serta sejarah pembangunan tugu peringatan.
Hal-hal yang belum memiliki bukti memadai tidak dipaksakan menjadi kesimpulan. Perbedaan informasi antarsumber juga menjadi bagian yang perlu dijelaskan secara terbuka agar penulisan sejarah tetap dapat dipertanggungjawabkan.
Delapan Bab Mengurai Tragedi dan Ingatan Sejarah
Buku ini disusun sebagai narasi sejarah populer yang mengalir dan mengajak pembaca memahami peristiwa secara kronologis. Pembahasan dimulai dari keberadaan tugu, kondisi Bandar Buat sebelum tragedi, situasi Padang dalam pusaran agresi, hingga peristiwa serangan pada 18 Januari 1947.
Selanjutnya, pembaca diajak memahami penderitaan para korban, proses penanganan dan pemakaman jenazah, serta keberadaan tugu sebagai monumen pengingat sejarah.
Buku ini terdiri atas delapan bab dan sebuah epilog:
-
Tugu yang Membisu, Sejarah yang Terlupakan
-
Bandar Buat Sebelum Darah Tertumpah
-
Padang dalam Pusaran Agresi
-
Sabtu, 18 Januari 1947: Hari yang Mencekam
-
Tangis, Darah, dan Kehilangan
-
Tikar Pasar Menjadi Kain Kafan
-
Tugu Peringatan: Mengabadikan Luka Sejarah
-
Agar Sejarah Tidak Menjadi Sunyi
Buku ditutup dengan epilog berjudul Jangan Biarkan Tugu Itu Kehilangan Ceritanya.
Melalui susunan tersebut, penulis tidak hanya ingin menghadirkan kembali kronologi tragedi, tetapi juga mengajak pembaca merenungkan pentingnya menjaga ingatan kolektif. Sejarah tidak seharusnya berhenti pada peristiwa dan angka korban. Di baliknya terdapat kehidupan manusia yang patut dikenang dan dihormati.
Menjaga Sejarah Lokal untuk Generasi Mendatang
Yuhefizar berharap buku ini dapat menjadi salah satu kontribusi dalam memperkaya literasi sejarah lokal, khususnya mengenai perjalanan sejarah Kota Padang dan Sumatera Barat pada masa perjuangan kemerdekaan.
Menurutnya, sejarah lokal memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat. Peristiwa yang terjadi di pasar, kampung, jalan, atau lingkungan tempat seseorang tumbuh sering kali memiliki cerita besar yang belum banyak diketahui.
Karena itu, dokumentasi sejarah perlu terus dilakukan. Kesaksian masyarakat, foto lama, dokumen keluarga, arsip pemerintahan, dan berbagai sumber lainnya perlu dihimpun agar jejak masa lalu tidak hilang seiring berjalannya waktu.
Buku ini juga diharapkan dapat mendorong perhatian lebih besar terhadap pelestarian Tugu Peringatan Pasa Banda Buek. Monumen tersebut perlu dirawat, dilengkapi informasi sejarah yang memadai, dan diperkenalkan kepada generasi muda melalui pendidikan serta berbagai kegiatan literasi.
Penulis menyadari bahwa penelusuran sejarah ini belum menjawab seluruh pertanyaan. Karena itu, ia membuka ruang bagi masyarakat, keluarga korban, tokoh lokal, dan siapa pun yang memiliki dokumen atau kesaksian terkait tragedi 18 Januari 1947 untuk turut melengkapi informasi sejarah tersebut.
Pada akhirnya, buku Pasa Banda Buek Berdarah bukan hanya tentang sebuah tragedi yang terjadi puluhan tahun silam. Buku ini merupakan ikhtiar untuk mengingat kembali mereka yang menjadi korban, menghargai masyarakat yang berjuang dan menolong sesama, serta mengingatkan generasi sekarang bahwa kemerdekaan memiliki sejarah panjang yang tidak boleh dilupakan.
Sebab, sebuah tugu tidak akan cukup hanya dengan berdiri. Ia membutuhkan masyarakat yang bersedia menjaga ceritanya.
Jangan biarkan tugu itu hanya berdiri. Biarkan ia terus bercerita.
Diskusi
Masuk atau daftar gratis untuk ikut berdiskusi.