Kiswah: Hitam yang Menyelimuti, Cahaya yang Mengingatkan

Kiswah adalah kain hitam yang menyelimuti Ka’bah, dihiasi sulaman kaligrafi dan ornamen berwarna keemasan. Ketika berdiri di hadapan Ka’bah, mungkin yang pertama menarik perhatian kita adalah kemegahan bangunannya. Tetapi ketika mata berhenti pada Kiswah, ada sesuatu yang berbeda.

Ia sederhana dalam warna.

Hitam.

Namun di atasnya terpahat ayat-ayat Al-Qur’an dengan benang emas.

Saya kemudian berpikir, mungkin ada pelajaran yang bisa kita ambil.

Tidak semua yang sederhana itu rendah.
Tidak semua yang terlihat gelap itu tanpa cahaya.

Kiswah berwarna hitam, tetapi di atasnya terdapat kaligrafi yang mengingatkan manusia kepada Allah.

Begitu pula kehidupan.

Kita sering terlalu sibuk dengan apa yang tampak dari luar.

Pakaian.
Jabatan.
Gelar.
Kekayaan.
Penampilan.

Padahal yang membuat seseorang mulia bukanlah apa yang membungkus dirinya, tetapi apa yang tertanam di dalam hatinya.

Kiswah hanya membungkus Ka’bah.

Tetapi kemuliaan Ka’bah bukan berasal dari kain yang menyelimutinya.

Kemuliaannya berasal dari kedudukannya sebagai Baitullah, rumah yang dimuliakan Allah.

Di sinilah saya kembali belajar:

Jangan terlalu sibuk memperindah bungkus, tetapi lupa memperbaiki isi.

Ada satu hal lain yang menarik.

Kiswah bukan sesuatu yang abadi. Ia diganti secara berkala.

Bagi saya, ini juga seperti sebuah pengingat.

Ada sesuatu dalam diri kita yang juga perlu diperbarui.

Kebiasaan buruk perlu ditinggalkan.
Kesalahan perlu diperbaiki.
Hati yang keras perlu dilembutkan.
Hubungan yang renggang perlu diperbaiki.
Dan hidup yang selama ini mungkin terlalu jauh dari Allah perlu kembali diarahkan.

Jika Kiswah saja diperbarui, bagaimana dengan diri kita?

Bukankah kita juga seharusnya memiliki waktu untuk memperbarui diri?

Umroh mungkin hanya berlangsung beberapa hari.

Tetapi semoga setelah pulang, ada sesuatu yang berubah.

Bukan sekadar foto yang bertambah.

Bukan sekadar cerita yang bisa dibagikan.

Tetapi hati yang diperbarui.


Mizab dan Kiswah: Dua Pelajaran Kecil dari Baitullah

Saya bahkan melihat keduanya bisa ditempatkan berdekatan dalam buku.

Mizab mengajarkan:

Tidak harus terlihat untuk memberi manfaat.

Kiswah mengajarkan:

Jangan hanya memperindah yang terlihat, perbaikilah apa yang ada di dalam.

Dua benda sederhana di Baitullah.

Tetapi keduanya membawa saya pada satu pertanyaan:

“Setelah pulang dari Baitullah, apa yang berubah dalam diri saya?”

Image

IAII Sumatera Barat


Ikatan Ahli Informatika Indonesia (IAII) adalah organisasi profesi yang bertujuan meningkatkan kualitas teknologi informasi di Indonesia, melindungi masyarakat dari praktek buruk layanan ahli informatika, meningkatkan kemakmuran, martabat, kehormatan, dan peran ahli informatika Indonesia dalam rangka mencapai tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tercantum pada Pembukaan UUD 1945. Profil IAII
About Yuhefizar 292 Articles
just an ordinary person

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*