Catatan Kecil dan Hikmah dalam Perjalanan Umroh

Madinah, 31 Agustus 2026 — Alhamdulillah, setelah menyelesaikan rangkaian perjalanan umroh pada Agustus 2026, saya akhirnya dapat menyelesaikan dan membagikan sebuah buku yang lahir dari pengalaman tersebut, berjudul Catatan Perjalanan Menuju Baitullah.

Buku ini bukan sekadar catatan perjalanan dari Indonesia menuju Makkah dan Madinah. Ia adalah kumpulan 20 catatan reflektif yang saya tulis dari berbagai pengalaman selama berada di Tanah Suci—mulai dari miqat di atas langit, thawaf, sa’i, Zamzam, tahallul, city tour ke Taif, umroh kedua pada malam hari, hingga akhirnya berpamitan kepada Baitullah melalui tawaf wada.

Saya mencoba melihat perjalanan ini tidak hanya dari sisi ibadah, tetapi juga dari sisi kehidupan.

Ada pelajaran tentang kesabaran, keikhlasan, tawakal, perjuangan, kerinduan, teknologi, kepemimpinan, dan bagaimana sebuah perjalanan dapat mengubah cara kita memandang kehidupan.

Salah satu pengalaman yang sangat berkesan bagi saya adalah kesempatan melaksanakan tiga kali umroh dengan suasana yang berbeda: pagi, malam, dan siang. Umroh pertama mengajarkan saya tentang memulai. Umroh kedua mengajarkan saya tentang bertahan. Dan umroh ketiga mengajarkan saya tentang percaya.

Dari semuanya saya belajar bahwa manusia boleh menghitung kemampuan dirinya, tetapi pertolongan Allah tidak selalu dapat dihitung dengan logika manusia.

Buku ini juga memuat pengalaman yang sangat personal. Umroh pertama saya niatkan untuk diri sendiri. Umroh kedua saya niatkan sebagai umroh badal untuk almarhum Papa, sementara almarhumah Mama dibadalkan oleh istri. Umroh ketiga saya niatkan untuk adik tercinta.

Mereka yang saya cintai tidak lagi berjalan bersama saya di Tanah Suci, tetapi nama mereka tetap hadir dalam hati dan doa.

Selain refleksi perjalanan, buku ini juga memperhatikan sisi yang selama ini dekat dengan keseharian saya sebagai insan yang bergerak di bidang teknologi informasi. Saya mencoba melihat bagaimana teknologi bekerja di balik pelayanan jamaah—mulai dari sistem audio Masjidil Haram, jaringan komunikasi, hingga berbagai fasilitas modern yang membuat jutaan jamaah dapat beribadah dengan lebih nyaman.

Bagi saya, hal menariknya adalah: teknologi yang baik justru sering kali tidak terasa. Jamaah cukup merasakan manfaatnya—suara imam terdengar jelas, informasi tersampaikan, dan pelayanan berjalan—sementara sistem yang kompleks bekerja di belakangnya.

Namun, pada akhirnya, buku ini bukan tentang teknologi.

Bukan pula tentang banyaknya tempat yang saya kunjungi.

Bukan tentang berapa kali saya melakukan thawaf atau umroh.

Buku ini tentang perjalanan hati.

Tentang seorang manusia yang datang ke Baitullah dengan segala keterbatasannya, kemudian pulang membawa begitu banyak pelajaran.

Karena itu, saya sengaja melengkapi buku ini dengan dua lampiran praktis:

Lampiran I — Tata Cara Umroh Sesuai Sunnah

Berisi panduan ringkas berdasarkan urutan rukun umroh:

Ihram dan niat di miqat → Thawaf → Sa’i → Tahallul → Tertib, dilengkapi dalil, doa, serta hal-hal penting yang perlu diketahui jamaah.

Lampiran II — Bekal Sebelum Berangkat

Berisi tips praktis mempersiapkan perjalanan umroh, mulai dari persiapan ilmu dan fisik, perlengkapan, menjaga stamina, menghadapi kerumunan, memanfaatkan teknologi, menjaga adab, hingga bagaimana membawa pulang perubahan setelah kembali ke tanah air.

Dengan dua lampiran ini, saya berharap buku ini tidak hanya menjadi catatan perjalanan pribadi, tetapi juga dapat menjadi bacaan dan bekal sederhana bagi siapa saja yang sedang mempersiapkan diri untuk memenuhi panggilan Allah ke Tanah Suci.

Saya membagikan buku ini secara gratis untuk publik.

Semoga tulisan sederhana ini dapat memberi manfaat, menjadi teman bagi mereka yang sedang merindukan Baitullah, dan mungkin menjadi bekal kecil bagi siapa saja yang suatu hari mendapatkan kesempatan untuk berangkat.

Bagi yang ingin membaca atau mengunduh buku Catatan Perjalanan Menuju Baitullah, silakan mengakses:

📖 Download Gratis Buku Catatan Perjalanan Umroh

Unduh Buku Catatan Perjalanan Menuju Baitullah

Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita, mengampuni kekurangan kita, memberikan kesempatan kepada yang belum pernah datang untuk menjadi tamu-Nya, dan bagi yang sudah pernah datang, semoga Allah kembali memanggil kita ke Baitullah dalam keadaan yang lebih baik.

Makkah mungkin kita tinggalkan.
Tetapi semoga pelajaran dari Baitullah tidak pernah kita tinggalkan.

Semoga bermanfaat.
Semoga menjadi amal jariyah.
Dan semoga suatu hari kita semua kembali dipanggil-Nya.

IAII Sumatera Barat


Ikatan Ahli Informatika Indonesia (IAII) adalah organisasi profesi yang bertujuan meningkatkan kualitas teknologi informasi di Indonesia, melindungi masyarakat dari praktek buruk layanan ahli informatika, meningkatkan kemakmuran, martabat, kehormatan, dan peran ahli informatika Indonesia dalam rangka mencapai tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tercantum pada Pembukaan UUD 1945. Profil IAII
About Yuhefizar 285 Articles
just an ordinary person

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*