Dalam dunia publikasi ilmiah, istilah quartile atau peringkat Q1, Q2, Q3, dan Q4 sering menjadi indikator penting dalam menilai reputasi sebuah jurnal. Namun, masih banyak akademisi yang menganggap bahwa quartile hanya berasal dari satu lembaga tertentu. Padahal, kenyataannya tidak demikian.
Quartile bukanlah metrik tunggal yang diterbitkan oleh satu institusi saja. Ada beberapa lembaga internasional yang menghitung quartile menggunakan pendekatan dan indikator yang berbeda. Perbedaan inilah yang menyebabkan sebuah jurnal dapat memiliki posisi quartile yang tidak sama antara satu sumber dengan sumber lainnya.
Lembaga pertama yang paling sering menjadi rujukan di Indonesia adalah SCImago Research Group melalui platform SCImago Journal Rank (SJR). SCImago menghitung quartile berdasarkan indikator SCImago Journal Rank (SJR) yang mengukur pengaruh ilmiah suatu jurnal dengan mempertimbangkan kualitas sitasi yang diterima.
Berbeda dengan sekadar menghitung jumlah sitasi, metode SJR juga memperhatikan “bobot” jurnal yang memberikan sitasi. Sitasi dari jurnal bereputasi tinggi akan memiliki pengaruh lebih besar dibandingkan sitasi dari jurnal biasa. Dengan kata lain, kualitas sumber sitasi ikut menentukan nilai akhir SJR sebuah jurnal.
Dalam sistem SJR, jurnal dikelompokkan berdasarkan bidang ilmu (subject category) kemudian diurutkan dari nilai tertinggi hingga terendah. Setelah itu dilakukan pembagian menjadi empat kelompok yang sama besar:
- Q1 : 25% jurnal terbaik di kategorinya
- Q2 : 25% berikutnya
- Q3 : 25% berikutnya
- Q4 : 25% terbawah
Artinya, jurnal disebut Q1 apabila berada pada 25 persen teratas di bidang ilmunya berdasarkan nilai SJR.
Selain SCImago, quartile juga dihitung oleh Elsevier melalui basis data Scopus. Dalam sistem ini, penilaian menggunakan indikator CiteScore Percentile.
CiteScore sendiri dihitung berdasarkan jumlah sitasi yang diterima seluruh dokumen jurnal dalam periode empat tahun terakhir, kemudian dibagi dengan jumlah dokumen yang diterbitkan jurnal tersebut pada periode yang sama. Semakin tinggi rata-rata sitasi per artikel, maka semakin tinggi pula nilai CiteScore jurnal tersebut.
Setelah nilai CiteScore diperoleh, jurnal akan dibandingkan dengan jurnal lain dalam kategori bidang ilmu yang sama dan diurutkan berdasarkan percentile. Pembagian quartile dilakukan sebagai berikut:
- Q1 : percentile 75–99
- Q2 : percentile 50–74
- Q3 : percentile 25–49
- Q4 : percentile 0–24
Sebagai contoh, apabila sebuah jurnal memiliki CiteScore Percentile 82, maka jurnal tersebut masuk kategori Q1 karena berada pada 25 persen teratas di kategorinya.
Sementara itu, Clarivate juga menerbitkan quartile jurnal melalui sistem Journal Citation Reports (JCR) yang berbasis pada Journal Impact Factor (JIF). Penilaian ini hanya berlaku untuk jurnal yang telah terindeks dalam Web of Science. Artinya, tidak semua jurnal yang terindeks Scopus otomatis memiliki quartile versi JCR.
Perbedaan metodologi tersebut menyebabkan satu jurnal dapat memiliki posisi quartile yang berbeda tergantung sumber yang digunakan. Sebuah jurnal yang berada pada posisi Q2 di SCImago misalnya, dapat saja berada di Q3 berdasarkan CiteScore, atau bahkan belum memiliki quartile di JCR apabila belum terindeks Web of Science.
Fenomena ini penting dipahami oleh akademisi, khususnya dosen dan peneliti yang sedang mengurus kenaikan jabatan fungsional, akreditasi program studi, maupun pelaporan kinerja penelitian. Kesalahan dalam menyebut sumber quartile dapat menimbulkan interpretasi yang ambigu dan berpotensi menyesatkan.
Karena itu, para pengelola jurnal dan penulis artikel ilmiah dianjurkan untuk selalu menyebutkan sumber quartile secara spesifik. Misalnya, “Jurnal kami Q2 berdasarkan SJR (SCImago)” atau “Jurnal kami masuk CiteScore Quartile 2.” Penyebutan seperti ini dianggap lebih akurat dan profesional dibandingkan hanya mengatakan “Jurnal kami Scopus Q2” tanpa menjelaskan indikator yang digunakan.
Pemahaman yang benar mengenai quartile juga menjadi bagian penting dari literasi publikasi ilmiah di era globalisasi riset saat ini. Dengan memahami asal-usul dan metode perhitungan quartile, akademisi dapat lebih bijak dalam menilai kualitas jurnal sekaligus menghindari kesalahpahaman dalam komunikasi ilmiah.
Di tengah meningkatnya tuntutan publikasi internasional, transparansi dalam menyebutkan indikator jurnal menjadi langkah penting untuk menjaga integritas akademik dan kualitas tata kelola publikasi ilmiah di Indonesia.
Yuhefizar [Editor In Chief Jurnal RESTI]



Leave a Reply