๐—ž๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ธ๐—ฎ ๐—ฆ๐—ฒ๐—ฏ๐˜‚๐—ฎ๐—ต ๐—ž๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐˜€ ๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ท๐—ฎ๐—ฟ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—›๐—ถ๐—ฑ๐˜‚๐—ฝ

Pagi ini, saya memakai baju dengan satu kata sederhana: โ€œKERISโ€.
Awalnya biasa saja.
Tapi entah kenapaโ€ฆ kata itu seperti โ€œberbicaraโ€.
Saya terdiam sejenak.
Lalu pikiran saya berjalanโ€ฆ mundur, jauh ke belakang.
Saya teringat perjalanan hidup.
Tentang masa-masa sulit. Tentang kehilangan. Tentang perjuangan yang tidak selalu terlihat orang lain.
Hidup iniโ€ฆ ternyata seperti keris.
Ia tajam.
Seperti kenyataan yang kadang menyakitkan.
Seperti kata-kata yang pernah melukai.
Seperti keputusan-keputusan sulit yang harus diambil, meski hati tidak siap.
Tapi dari situ saya belajarโ€ฆ
ketajaman itu bukan untuk menyakiti,
melainkan untuk membentuk ketegasan dalam diri.
Keris itu berlekuk.
Tidak lurus. Tidak sederhana.
Setiap lekuknya seperti fase kehidupan kita, naik, turun, jatuh, bangkit, gagal, mencoba lagi.
Dan jujurโ€ฆ
kalau hidup saya lurus tanpa ujian,
mungkin saya tidak akan menjadi saya yang hari ini.
Saya pernah berada di titik terendah.
Merasa sendiri.
Merasa tidak cukup.
Merasa tertinggal.
Tapi justru di titik itulahโ€ฆ
hidup mengajari saya arti bertahan.
Keris itu tidak dipamerkan.
Ia disimpan. Dijaga. Dihormati.
Seperti luka-luka dalam hidup.
Tidak semua harus diceritakan.
Tidak semua harus diperlihatkan.
Karena ada kekuatan yang tumbuhโ€ฆ
dalam diam.
Dan hari ini saya sadarโ€ฆ
kekuatan terbesar bukan pada apa yang orang lihat,
tapi pada apa yang berhasil kita lewati.
Keris itu warisan.
Dari generasi ke generasi.
Dan saya berpikirโ€ฆ
suatu hari nanti, apa yang akan kita tinggalkan?
Bukan harta.
Bukan jabatan.
Tapi nilai.
Tentang bagaimana kita bertahan,
bagaimana kita memperlakukan orang lain,
dan bagaimana kita tetap berdiriโ€ฆ saat hidup tidak mudah.
Hari ini, dari satu kata โ€œKERISโ€, saya seperti diingatkan kembaliโ€ฆ
Bahwa hidup ini memang tidak selalu lembut.
Kadang tajam. Kadang berliku. Kadang sunyi.
Tapi justru dari situlah kita ditempa.
Seperti pepatah Minangkabau:
*โ€œAlam Takambang Jadi Guruโ€*
Dari apa yang kita pakai hari ini,
dari apa yang kita alami hari ini,
selalu ada pelajaranโ€ฆ jika kita mau merenung.
Dan hari ini, saya memilih untuk belajar.
Belajar menjadi kuatโ€ฆ tanpa harus keras.
Belajar menjadi tajamโ€ฆ tanpa melukai.
Belajar menjalani liku hidupโ€ฆ tanpa kehilangan arah.
Kalau hari ini kamu sedang berjuang diam-diamโ€ฆ
percaya lah, kamu sedang ditempa.
Seperti keris.
Dan suatu saat nanti,
kamu akan mengertiโ€ฆ
kenapa semua ini harus terjadi.

IAII Sumatera Barat


Ikatan Ahli Informatika Indonesia (IAII) adalah organisasi profesi yang bertujuan meningkatkan kualitas teknologi informasi di Indonesia, melindungi masyarakat dari praktek buruk layanan ahli informatika, meningkatkan kemakmuran, martabat, kehormatan, dan peran ahli informatika Indonesia dalam rangka mencapai tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tercantum pada Pembukaan UUD 1945. Profil IAII

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*