Yuhefizar Ephi Lintau
Ranah & Pengabdian

Nofrins dan Upaya Menggerakkan Potensi Wisata serta Masyarakat Danau Kembar

Pariwisata yang baik bukan hanya tentang mendatangkan pengunjung, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat tumbuh, potensi lokal berkembang, dan manfaatnya dapat dirasakan bersama.

Kadang, sebuah perjalanan sederhana menghadirkan perjumpaan yang tidak direncanakan. Dari sebuah telepon di pagi hari, saya kembali dipertemukan dengan sosok yang selama ini konsisten bergerak untuk pariwisata, masyarakat, dan kemajuan Sumatera Barat.

Pagi itu, setelah berjalan kaki menikmati sejuknya udara di sekitar Danau Diatas, sebuah panggilan telepon tiba-tiba masuk. Nama yang muncul di layar adalah Da Nofrins.

Bagi saya, beliau bukan sosok asing. Da Nofrins adalah salah seorang tokoh yang memiliki kepedulian besar terhadap pengembangan pariwisata di Sumatera Barat. Kiprahnya sudah cukup panjang, mulai dari dunia perkeretaapian, fotografi, pengembangan destinasi wisata, geothermal hingga pemberdayaan masyarakat.

Beliau merupakan salah satu tokoh di balik kembalinya Mak Itam, lokomotif uap legendaris yang menjadi ikon wisata sejarah di Sawahlunto. Dalam perjalanan itu, saya juga pernah turut membantu. Sejak 2006, saya telah terlibat dalam berbagai kegiatan terkait perkeretaapian, sehingga ada banyak cerita dan kenangan yang menghubungkan kami.

Kiprah Da Nofrins tidak berhenti di sana. Beliau juga aktif dalam pengembangan wisata Mandeh, mendokumentasikan keindahan Sumatera Barat melalui fotografi, serta ikut mendorong pengembangan pariwisata di Solok Selatan yang dikenal dengan julukan Saribu Rumah Gadang.

Belakangan, perhatian beliau juga banyak tercurah untuk masyarakat di kawasan Danau Kembar, Alahan Panjang dan sekitarnya. Menariknya, perhatian tersebut tidak hanya berkaitan dengan pariwisata, tetapi juga menyentuh sektor pertanian, pembinaan komunitas, penguatan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI), dan berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat lainnya.

Pertemuan yang Tidak Direncanakan

Tentu saja saya cukup terkejut menerima telepon pagi itu. Rupanya Da Nofrins sedang berada tidak jauh dari Danau Talang. Beliau tengah berdiskusi bersama pengurus Pokdarwis dan RAPI serta sejumlah tokoh masyarakat setempat.

Lebih menarik lagi, di lokasi tersebut ternyata juga sedang ada 15 orang mahasiswa Program Studi Usaha Perjalanan Wisata Politeknik Negeri Padang yang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik. Politeknik Negeri Padang adalah tempat saya mengabdi saat ini.

Kebetulan, keberadaan mahasiswa dan aktivitas diskusi itulah yang membuat beliau menghubungi saya. Beliau juga tidak menyangka bahwa saya sedang berada di kawasan yang tidak terlalu jauh dari lokasi pertemuan.

Sekitar pukul 11.00 WIB, saya kemudian bergabung bersama Da Nofrins di Nagari Kampung Batu Dalam, Kecamatan Danau Kembar, Kabupaten Solok.

Benar saja, di Posko Pendakian Gunung Talang yang berada di kawasan Danau Talang, telah berkumpul sejumlah tokoh nagari, pengurus Pokdarwis, pengurus RAPI, serta 15 mahasiswa PNP yang sedang menjalankan program KKN Tematik.

Suasananya terasa hangat. Diskusi berlangsung dengan semangat yang sama: bagaimana potensi daerah dapat dikembangkan melalui keterlibatan masyarakat dan dukungan berbagai pihak.

Membuka Jalur Alternatif Pendakian Gunung Talang

Salah satu hal menarik yang menjadi pembahasan dalam pertemuan tersebut adalah  pembukaan jalur alternatif pendakian Gunung Talang, yang baru beberapa minggu ini dibuka. 

Rute baru ini digagas oleh Pokdarwis AIE TAWA Danau Talang sebagai alternatif bagi para pendaki yang ingin menikmati keindahan Gunung Talang melalui jalur yang berbeda.

Inisiatif ini menarik untuk diperhatikan. Pengembangan destinasi wisata alam tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam yang dimiliki. Diperlukan kreativitas masyarakat, pengelolaan yang baik, kesiapan fasilitas, serta sistem pelayanan dan keselamatan yang memadai.

Pembukaan jalur alternatif tentu membutuhkan perencanaan yang matang, mulai dari pemetaan jalur, penyiapan posko, informasi pendakian, komunikasi, hingga koordinasi dengan pihak-pihak terkait.

Di sinilah peran Pokdarwis menjadi penting. Masyarakat bukan sekadar menjadi penonton perkembangan pariwisata, melainkan menjadi pelaku utama yang ikut merencanakan, mengelola, dan menjaga potensi wisata di daerahnya.

Kehadiran mahasiswa KKN Tematik Program Studi Usaha Perjalanan Wisata PNP juga menjadi peluang yang baik. Mereka dapat belajar langsung dari masyarakat, memahami persoalan riil pengembangan destinasi, sekaligus berkontribusi melalui pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh di bangku kuliah.

Inilah bentuk pembelajaran yang sesungguhnya: ketika ilmu pengetahuan bertemu dengan kebutuhan masyarakat.

Kolaborasi Pariwisata dan Komunikasi Masyarakat

Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh Tokoh Masyarakat, BPN, pengurus RAPI dari Alahan Panjang dan Tanbaro, serta Pak Zul. Diskusi tidak hanya membahas pengembangan wisata, tetapi juga pentingnya membangun komunikasi dan koordinasi di tengah masyarakat.

Dalam pengelolaan kawasan wisata alam, komunikasi merupakan salah satu kebutuhan penting. Terlebih untuk aktivitas pendakian gunung yang membutuhkan koordinasi antarpengelola, informasi kondisi lapangan, dan kesiapan menghadapi situasi darurat.

Sebagai bentuk dukungan terhadap aktivitas komunikasi masyarakat, Da Nofrins turut menyumbangkan dua unit radio komunikasi (HT) kepada RAPI Alahan Panjang melalui Pak Tasman selaku Ketua Pokdarwis AIE TAWA.

Bantuan sederhana ini memiliki arti penting. Radio komunikasi dapat membantu memperlancar koordinasi di lapangan, terutama ketika kegiatan berlangsung di kawasan yang memiliki keterbatasan jangkauan komunikasi seluler.

Apa yang dilakukan Da Nofrins memperlihatkan bahwa kepedulian terhadap pariwisata tidak selalu harus diwujudkan melalui pembangunan fasilitas besar. Dukungan terhadap komunitas, penguatan kapasitas masyarakat, dan penyediaan sarana komunikasi juga merupakan bagian penting dari proses membangun destinasi wisata.

Pariwisata Harus Tumbuh Bersama Masyarakat

Dari pertemuan singkat tersebut, saya kembali mendapatkan satu pelajaran penting: membangun pariwisata tidak cukup hanya dengan mempromosikan keindahan alam.

Pariwisata membutuhkan orang-orang yang peduli, masyarakat yang terlibat, komunitas yang bergerak, dukungan nagari dan kolaborasi yang berkelanjutan.

Danau Kembar memiliki potensi alam yang luar biasa. Danau Diatas, Danau Dibawah, Danau Talang, serta kawasan Gunung Talang merupakan kekayaan alam yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata. Namun, potensi tersebut perlu diimbangi dengan pengelolaan yang bertanggung jawab, pelestarian lingkungan, kesiapan masyarakat, dan tata kelola destinasi yang baik.

Saya juga melihat bahwa kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat merupakan kesempatan untuk membangun jembatan antara dunia pendidikan dan kebutuhan pembangunan daerah. Mahasiswa belajar, masyarakat memperoleh dukungan pengetahuan, dan perguruan tinggi menjalankan peran pengabdiannya.

Pertemuan hari itu mungkin hanya berlangsung dalam suasana diskusi sederhana di sebuah posko pendakian. Namun, di baliknya ada semangat yang patut diapresiasi: semangat untuk bergerak, berkolaborasi, dan memberikan kontribusi nyata.

Dan saya percaya, kemajuan sebuah daerah tidak selalu dimulai dari proyek besar. Terkadang, ia berawal dari kepedulian seseorang, percakapan sederhana, pertemuan masyarakat, dan kesediaan banyak pihak untuk bekerja bersama.

Sebab, pariwisata yang baik bukan hanya tentang mendatangkan pengunjung, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat tumbuh, potensi lokal berkembang, dan manfaatnya dapat dirasakan bersama.

Salam dari Danau Kembar, Ranah Minang.

Yuhefizar aka Ephi Lintau

Learn • Share • Inspire

Kutip artikel ini

Yuhefizar. (2026, 8 November). Nofrins dan Upaya Menggerakkan Potensi Wisata serta Masyarakat Danau Kembar. Yuhefizar. https://ephi.web.id/artikel/nofrins-dan-upaya-menggerakkan-potensi-wisata-serta-masyarakat-danau-kembar
Sesuaikan dengan gaya selingkung jurnal atau kampus Anda.

Dr. Ir. Yuhefizar, S.Kom., M.Kom., IPM., ASEAN Eng.

Akademisi, insinyur informatika, dan penulis yang menelusuri jejak sejarah Minangkabau.

Profil lengkap

Diskusi

Masuk atau daftar gratis untuk ikut berdiskusi.