JEJAK TIGA DATUK DARI MINANGKABAU: Buku Baru Yuhefizar tentang Jejak Ulama Minangkabau di Sulawesi Selatan

Padang, 27 September 2026 β€” Alhamdulillah, setelah melalui proses penelusuran, penulisan, penyuntingan, dan pemeriksaan silang berbagai sumber sejarah, buku Jejak Tiga Datuk dari Minangkabau: Jejak Ulama Minangkabau Menyebarkan Islam di Sulawesi Selatan karya Yuhefizar akhirnya selesai dan resmi diluncurkan.

Buku ini mengajak pembaca menelusuri perjalanan tiga ulama Minangkabau yang dalam berbagai sumber sejarah dikenal sebagai Datuk ri Bandang, Datuk ri Patimang, dan Datuk ri Tiro, tiga tokoh yang meninggalkan jejak penting dalam perkembangan Islam di Sulawesi Selatan pada awal abad ke-17.

Dari Ranah Minang menuju Sulawesi Selatan

Buku ini berangkat dari sebuah pertanyaan sederhana: dari mana sebenarnya tiga Datuk tersebut berasal, dan bagaimana perjalanan mereka membawa ilmu Islam hingga ke Sulawesi Selatan?

Dalam sejumlah sumber sejarah, ketiganya disebut berasal dari Koto Tangah, Minangkabau. Namun, lokasi Koto Tangah yang dimaksud belum dapat dipastikan secara meyakinkan dengan batas wilayah administratif masa kini.

Pertanyaan tersebut justru menjadi salah satu bagian menarik dalam buku ini. Penulis tidak berusaha memaksakan jawaban atas sesuatu yang belum memiliki bukti cukup, tetapi mengajak pembaca mengikuti jejak sejarahnya dengan hati-hati. Buku secara khusus membedakan antara keterangan yang tercatat dalam sumber, tradisi yang berkembang di masyarakat, serta tafsiran atau rekonstruksi penulis.

Dari titik itulah perjalanan tiga Datuk kemudian ditelusuri: Gowa dan Tallo, Luwu, hingga Tiro di Bulukumba.

Tiga Datuk, tiga jalan dakwah

Buku ini terdiri atas lima bagian utama dan 15 bab, mulai dari pengenalan tiga Datuk, perjalanan dari Minangkabau menuju Selatan, jejak dakwah di Gowa-Tallo, Luwu, dan Tiro, hingga pembacaan kembali warisan mereka empat abad kemudian.

Masing-masing Datuk memiliki perjalanan dan jejak yang berbeda.

Datuk ri Bandang atau Abdul Makmur, yang dikenal dengan gelar Khatib Tunggal, dikaitkan dengan Gowa dan Tallo.

Datuk ri Patimang atau Sulaiman, yang dikenal sebagai Khatib Sulung, menempuh jalan dakwah di Luwu.

Sementara Datuk ri Tiro atau Abdul Jawad, yang dikenal sebagai Khatib Bungsu, meninggalkan jejak dakwah di wilayah Tiro, Bulukumba.

Ketiganya menghadirkan kisah tentang ilmu, perjalanan, dakwah, dan perjumpaan antara tradisi Minangkabau dengan masyarakat Sulawesi Selatan.

Bukan sekadar buku sejarah

Jejak Tiga Datuk dari Minangkabau tidak ditulis sebagai kronologi sejarah yang kering. Buku ini mencoba mempertemukan sejarah, perjalanan, budaya, dan refleksi kehidupan.

Sebagian lokasi dalam buku didatangi langsung oleh penulis, termasuk kompleks makam Datuk ri Bandang di Makassar. Sementara wilayah Luwu dan Tiro ditelusuri melalui lontara, penelitian, dan catatan para ahli.

Karena itu, pembaca akan menemukan perpaduan antara fakta sejarah, dokumentasi perjalanan, konteks budaya, serta renungan yang mengajak melihat kembali makna merantau, ilmu, dakwah, dan warisan.

β€œKita tidak selalu dikenang karena tempat kita dilahirkan. Kita dikenang karena apa yang kita tinggalkan di tempat yang pernah kita datangi.”

Pesan tersebut menjadi salah satu benang merah buku ini: bahwa ilmu tidak seharusnya berhenti di tempat ia diperoleh. Ia perlu berjalan, dibagikan, dan memberi manfaat.

Diterbitkan dan dibagikan secara gratis

Salah satu hal yang istimewa dari buku ini adalah keputusan penulis untuk membagikannya secara gratis kepada masyarakat.

Buku diterbitkan dengan semangat berbagi ilmu dan menggunakan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0). Pembaca diperbolehkan membaca, menyalin, mencetak ulang, dan menyebarluaskan buku, serta mengadaptasinya dengan tetap memberikan atribusi kepada penulis dan menerapkan lisensi yang sama pada karya turunannya.

Baca dan unduh gratis

Buku lengkap Jejak Tiga Datuk dari Minangkabau dapat dibaca dan diunduh secara gratis melalui laman pribadi penulis:

πŸ“– Unduh Buku Gratis – Jejak Tiga Datuk dari Minangkabau

Tentang Penulis

Yuhefizar adalah pendidik, peneliti, penulis, dan pegiat literasi yang aktif dalam bidang teknologi informasi, pendidikan, dan pengembangan masyarakat. Ia dipercaya sebagai Ketua Jurusan Teknologi Informasi Politeknik Negeri Padang dan Ketua Badan Keahlian Informatika, Persatuan Insinyur Indonesia.

Di tengah aktivitas akademiknya, Yuhefizar menaruh perhatian pada sejarah, perjalanan, budaya, dan nilai-nilai kehidupan. Melalui tulisan, ia berusaha menghadirkan kisah yang tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga mengajak pembaca menemukan hikmah di balik setiap perjalanan dan jejak sejarah.

Buku Jejak Tiga Datuk dari Minangkabau menjadi salah satu ikhtiar untuk mengenalkan kembali jejak ulama Minangkabau yang telah menempuh perjalanan jauh dan meninggalkan warisan penting di Sulawesi Selatan.

Dari Ranah Minang mereka berangkat.
Menyeberangi laut membawa ilmu.
Empat abad kemudian, jejaknya masih ditemukan.

Semoga buku ini menjadi jembatan pengetahuan, mempertemukan kembali Minangkabau dan Sulawesi Selatan melalui kisah tiga ulama yang telah menjadi bagian penting dari sejarah Islam di Nusantara.

Alhamdulillah. Selamat membaca, membagikan, dan mengambil hikmah.

β€” Yuhefizar
Padang, 2026

IAII Sumatera Barat


Ikatan Ahli Informatika Indonesia (IAII) adalah organisasi profesi yang bertujuan meningkatkan kualitas teknologi informasi di Indonesia, melindungi masyarakat dari praktek buruk layanan ahli informatika, meningkatkan kemakmuran, martabat, kehormatan, dan peran ahli informatika Indonesia dalam rangka mencapai tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tercantum pada Pembukaan UUD 1945. Profil IAII
About Yuhefizar 297 Articles
just an ordinary person

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*