Di antara kemegahan Baitullah, ada satu bagian kecil yang mungkin luput dari perhatian banyak jamaah: Mizab, talang air yang berada di atas Ka’bah, tepat di atas Hijr Ismail.
Awalnya saya hanya melihatnya sebagai bagian dari bangunan Ka’bah.
Sebuah talang.
Sederhana.
Namun ketika memperhatikannya lebih lama, saya berpikir, betapa banyak hal besar yang justru bekerja melalui sesuatu yang kecil.
Mizab tidak membuat suara.
Tidak menjadi pusat perhatian.
Tidak dicari jamaah ketika datang ke Baitullah.
Ia hanya menjalankan fungsinya.
Ketika hujan turun, air dari atap Ka’bah mengalir melaluinya menuju Hijr Ismail.
Diam, tetapi bermanfaat.
Di situlah saya menemukan sebuah pelajaran kecil.
Bukankah kehidupan juga demikian?
Tidak semua yang berarti harus terlihat.
Tidak semua yang bermanfaat harus mendapatkan perhatian.
Ada orang-orang yang bekerja dalam diam.
Ada yang memberi tanpa banyak bicara.
Ada yang membantu tanpa ingin disebut.
Ada yang terus menjalankan amanahnya, meskipun tidak ada yang melihat.
Mizab mengingatkan saya:
Jadilah seperti Mizab. Tidak perlu selalu terlihat, tetapi keberadaan kita memberi manfaat.
Dan ada satu hal lagi yang membuat saya semakin merenung.
Mizab berada di atas Hijr Ismail.
Air yang turun dari atap Ka’bah mengalir ke tempat yang begitu dekat dengan Baitullah.
Seolah mengingatkan bahwa setiap aliran memiliki arah.
Manusia pun demikian.
Kita boleh memiliki banyak kemampuan, ilmu, jabatan, harta dan kesempatan. Tetapi semuanya akan menjadi lebih berarti jika diarahkan kepada kebaikan.
Bukan sekadar:
“Apa yang saya punya?”
Tetapi:
“Ke mana saya mengalirkannya?”
Ilmu yang tidak dibagikan akan berhenti pada diri sendiri.
Harta yang tidak memberi manfaat akan habis bersama waktu.
Jabatan yang tidak digunakan untuk melayani akan kehilangan makna.
Dan perjalanan yang hanya menjadi kenangan, mungkin akan hilang bersama waktu.
Tetapi perjalanan yang dituliskan, direnungkan, kemudian dibagikan, mudah-mudahan dapat menjadi pengingat bagi diri sendiri dan manfaat bagi orang lain.
Mungkin itulah salah satu hikmah yang saya temukan ketika memandang Mizab.
Tidak perlu menjadi sesuatu yang besar untuk memberi manfaat besar.
Cukup jalankan fungsi kita dengan baik.
Seperti Mizab.
Diam. Sederhana. Tetapi bermanfaat.
Catatan kecil
Di Baitullah saya melihat banyak hal dengan mata. Tetapi ternyata, sebagian pelajaran justru baru terlihat ketika kita melihatnya dengan hati.

Leave a Reply