Sabtu, 27 Juni 2026
Perjalanan ke Medan kali ini sesungguhnya memiliki tujuan utama yang sangat jelas: menghadiri rangkaian pernikahan keluarga. Setelah sehari sebelumnya kami menghadiri aqad nikah di Masjid Agung Medan, maka pada hari ini, Sabtu, 28 Juni 2026, agenda utama kami adalah menghadiri resepsi pernikahan yang dilaksanakan di kawasan Tembung, Medan.
Namun, seperti halnya perjalanan pada umumnya, selalu ada cerita yang hadir di antara tujuan utama. Ada ruang untuk belajar, menikmati suasana kota, berolahraga, mencicipi kuliner, bertemu keluarga, hingga mempererat kembali silaturahmi yang selama ini hanya terhubung melalui layar telepon.
Pagi itu menjadi awal yang sederhana tetapi bermakna.
Menyusuri Pagi Medan dengan Berjalan Kaki
Sekitar pukul 07.00, kami keluar dari hotel untuk berjalan kaki. Jarak hotel dengan Istana Maimun hanya sekitar 500 meter. Kami memilih berjalan kaki bukan semata-mata karena jaraknya dekat, tetapi sekaligus menjadikannya kesempatan untuk berolahraga dan menikmati suasana pagi Kota Medan.
Ada kenikmatan tersendiri ketika sebuah kota dinikmati dengan berjalan kaki. Kita tidak hanya melihat bangunan dan jalan, tetapi juga menyaksikan aktivitas masyarakat dari jarak yang lebih dekat. Kota terasa lebih manusiawi ketika kita tidak melewatinya dengan tergesa-gesa dari balik kaca kendaraan.
Sekitar pukul 07.30, kami tiba di Istana Maimun. Secara resmi, objek wisata ini seharusnya mulai menerima pengunjung sekitar pukul 08.00. Karena datang lebih awal, kami justru berkesempatan menjadi salah satu pengunjung pertama pada pagi itu.
Seorang petugas kemudian menyambut dan memandu kami, menjelaskan sejarah dan berbagai hal menarik mengenai istana tersebut.
Istana Maimun: Ketika Arsitektur Menjadi Dokumen Sejarah
Istana Maimun bukan sekadar bangunan tua yang menarik untuk dikunjungi dan difoto. Ia adalah dokumen sejarah dalam bentuk arsitektur.
Dibangun pada masa Kesultanan Deli, istana ini memperlihatkan bagaimana sebuah masyarakat pada zamannya berinteraksi dengan berbagai pengaruh kebudayaan. Unsur Melayu, Islam, Eropa, dan pengaruh lainnya berpadu dalam bentuk bangunan, ornamen, tata ruang, dan simbol-simbol yang masih dapat kita saksikan hingga hari ini.
Bagi saya, kunjungan ke Istana Maimun menjadi pengingat bahwa peradaban tidak hanya diwariskan melalui buku dan tulisan, tetapi juga melalui ruang, bangunan, seni, dan artefak.
Sebagai seorang yang berkecimpung dalam dunia akademik dan teknologi informasi, saya melihat hal ini sebagai pelajaran penting. Di era digital, kita begitu mudah menyimpan data, tetapi menyimpan data tidak selalu berarti menjaga pengetahuan. Pengetahuan membutuhkan konteks, interpretasi, dan pewarisan nilai.
Istana Maimun memberikan contoh nyata bahwa sebuah bangunan dapat berfungsi sebagai living archive—arsip hidup yang memungkinkan generasi berikutnya membaca perjalanan masa lalu.
Sejarah ternyata tidak selalu harus dibaca di perpustakaan. Kadang ia berdiri di depan mata kita.
Dan tugas generasi hari ini adalah memastikan bahwa warisan tersebut tidak berhenti sebagai objek foto, tetapi terus dipahami makna dan nilai yang dikandungnya.
Menikmati Lontong Medan
Setelah puas menjelajahi sejarah Istana Maimun, sekitar pukul 09.00 kami melanjutkan perjalanan mencari sarapan khas Medan.
Tidak jauh dari kawasan istana, kami menemukan lontong Medan.
Sederhana, tetapi justru di situlah menariknya perjalanan. Kita tidak selalu membutuhkan restoran mewah untuk mengenal karakter sebuah daerah. Kadang, semangkuk makanan tradisional jauh lebih mampu menceritakan identitas masyarakatnya.
Kuliner adalah bagian dari kebudayaan. Di dalamnya terdapat sejarah, kebiasaan, kreativitas, bahkan interaksi sosial masyarakat.
Sekitar pukul 10.00 kami kembali ke hotel untuk beristirahat dan mempersiapkan diri menuju lokasi resepsi.
Resepsi Pernikahan: Merayakan Ikatan dan Kebersamaan
Pukul 11.00 kami sudah tiba di lokasi pesta di kawasan Tembung. Perjalanan dari hotel memerlukan waktu sekitar 30 menit dengan kendaraan.
Sesampainya di lokasi, kami bertemu dengan keluarga besar. Karena tamu belum terlalu ramai, kesempatan tersebut kami manfaatkan untuk berfoto bersama keluarga.
Foto keluarga bagi saya bukan sekadar dokumentasi visual.
Ia adalah rekaman sebuah peristiwa sosial.
Kelak, ketika waktu berjalan dan orang-orang berubah usia, foto tersebut akan menjadi pengingat bahwa pada suatu hari kami pernah berkumpul dalam sebuah momentum penting kehidupan.
Sekitar pukul 14.00, suasana semakin istimewa dengan dilaksanakannya Tradisi Pedang Pora karena mempelai pria merupakan seorang prajurit.
Pedang Pora merupakan upacara penghormatan kepada pengantin, khususnya sebagai bagian dari tradisi kemiliteran. Para rekan prajurit membentuk gerbang dengan pedang yang disilangkan di atas kepala pasangan pengantin.
Namun, di balik prosesi yang terlihat indah tersebut, terdapat pesan yang jauh lebih dalam.
Pedang Pora bukan hanya tentang seremoni.
Ia adalah simbol kehormatan, solidaritas, persaudaraan, tanggung jawab, dan pengabdian.
Pedang yang terangkat menjadi simbol penghormatan kepada seorang prajurit yang memasuki fase baru kehidupan. Gerbang yang dibentuk oleh para sahabat seperjuangan menggambarkan bahwa perjalanan hidup seseorang tidak pernah benar-benar dijalani sendirian.
Seorang prajurit kini memiliki dua ruang pengabdian: negara dan keluarga.
Keduanya membutuhkan komitmen, disiplin, kesetiaan, keberanian, dan keteguhan hati.
Dari prosesi sederhana tersebut, saya melihat sebuah pelajaran kehidupan: setiap perubahan status membawa konsekuensi perubahan tanggung jawab.
Pernikahan bukan hanya perpindahan status dari lajang menjadi berkeluarga. Ia adalah perpindahan tanggung jawab, dari memikirkan diri sendiri menjadi belajar memikul amanah bersama.
Silaturahmi yang Tidak Terdokumentasi di Agenda
Setelah acara selesai, kami berpamitan kepada keluarga dan bersiap kembali ke hotel.
Namun, perjalanan hari itu ternyata masih menyimpan satu “bonus”.
Seorang saudara sekampung yang tinggal di Medan mengetahui bahwa saya sedang berada di kota ini. Kami pun menyempatkan diri bertemu.
Selama ini komunikasi kami lebih banyak berlangsung melalui WhatsApp dan berbagai grup kampung. Kali ini kami bertemu secara langsung.
Aneh rasanya, bagaimana sebuah pertemuan yang mungkin hanya berlangsung beberapa jam dapat menghadirkan kepuasan batin yang begitu besar.
Cerita tentang kampung mengalir begitu saja.
Tentang orang-orang yang kami kenal, keadaan kampung, kabar keluarga, dan berbagai cerita yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang memiliki akar tempat yang sama.
Di sinilah saya kembali memahami makna silaturahmi.
Teknologi memang mampu mendekatkan manusia secara virtual, tetapi perjumpaan fisik tetap memiliki dimensi emosional yang berbeda.
Pesan WhatsApp dapat menyampaikan kata-kata.
Panggilan video dapat menghadirkan wajah.
Tetapi perjumpaan langsung menghadirkan kehadiran.
Dan terkadang, yang dibutuhkan manusia bukan sekadar komunikasi, tetapi kehadiran.
Malam Kota Medan
Sekitar pukul 18.30 kami sudah kembali ke hotel.
Setelah beristirahat sejenak, sekitar pukul 20.00 kami kembali keluar untuk mencari makan malam sekaligus menikmati suasana Kota Medan pada malam hari.
Kami juga menyempatkan diri mencari oleh-oleh sebelum kembali ke hotel.
Hari yang dimulai dengan berjalan kaki menuju Istana Maimun akhirnya ditutup dengan menikmati denyut kehidupan Kota Medan di malam hari.
Sebuah hari yang cukup panjang, tetapi terasa lengkap.
Refleksi Akademik
Dari perjalanan hari ini, saya belajar bahwa pembelajaran tidak selalu berlangsung di ruang kelas.
Istana Maimun memberikan pelajaran tentang sejarah dan peradaban. Kuliner memberikan pelajaran tentang budaya. Pedang Pora memberikan pelajaran tentang organisasi, disiplin, kehormatan, dan tanggung jawab. Sementara pertemuan dengan saudara sekampung memberikan pelajaran tentang pentingnya jejaring sosial dan modal sosial dalam kehidupan masyarakat.
Dalam perspektif akademik, perjalanan merupakan bentuk experiential learning—belajar melalui pengalaman langsung.
Apa yang kita lihat, rasakan, dan alami sering kali memberikan pemahaman yang lebih kuat dibandingkan sekadar membaca teori.
Karena itu, perjalanan bukan hanya aktivitas berpindah tempat. Ia dapat menjadi proses memperluas perspektif, menguji pengetahuan, dan menemukan hubungan antara teori dengan realitas.
Refleksi Filosofis
Perjalanan hari ini juga mengingatkan saya bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk yang terus bergerak.
Kita bergerak dari satu tempat ke tempat lain, dari satu peran ke peran berikutnya, dari satu fase kehidupan ke fase berikutnya.
Pengantin bergerak menuju kehidupan baru.
Prajurit bergerak menuju tanggung jawab baru.
Keluarga bergerak membangun hubungan yang lebih luas.
Dan kami pun bergerak dari satu kota menuju kota lainnya.
Pada akhirnya, perjalanan bukan tentang seberapa jauh kita pergi, tetapi tentang seberapa banyak makna yang kita bawa pulang.
Hikmah Perjalanan
Alhamdulillah, seluruh agenda utama perjalanan di Medan akhirnya tercapai.
Aqad nikah telah dihadiri.
Resepsi pernikahan telah dihadiri.
Keluarga besar telah dipertemukan.
Silaturahmi dengan saudara sekampung telah terjalin.
Dan Kota Medan memberikan pengalaman sejarah, budaya, dan kehidupan yang berharga.
Ternyata perjalanan yang dirancang dengan satu tujuan utama dapat menghadirkan banyak tujuan kecil yang sama berharganya.
Inilah salah satu keindahan perjalanan.
Kita berangkat membawa rencana, tetapi sering kali pulang membawa cerita yang jauh lebih banyak daripada yang kita rencanakan.
Dan mungkin, di situlah letak hikmahnya:
Perjalanan yang baik bukan hanya membuat kita sampai ke tujuan, tetapi membuat kita pulang sebagai manusia yang sedikit lebih kaya pengalaman, lebih luas perspektif, dan lebih dalam rasa syukurnya.
Alhamdulillah.




