Berastagi, Medan, dan Pelajaran tentang Tujuan (#6)

Jumat, 27 Juni 2026

“Dalam perjalanan, tidak semua kesalahan membawa kita kepada penyesalan. Sebagian justru menghadirkan cerita yang akan selalu dikenang.”

Udara pegunungan masih begitu dingin ketika azan Subuh berkumandang dari masjid kecil di sekitar Pariban Hot Spring.

Suasana pagi terasa begitu tenang.

Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan, sementara kepulan uap putih terus membumbung ke udara dari beberapa titik di kawasan Pariban.

Usai menunaikan salat Subuh, saya mengajak putra bungsu berjalan kaki mengelilingi kawasan wisata.

Udara pagi begitu segar.

Setiap tarikan napas terasa berbeda.

Kami berjalan tanpa tergesa-gesa.

Sesekali berhenti menikmati hamparan pepohonan pinus, mendengarkan kicauan burung, dan memandangi kepulan uap panas yang keluar dari celah-celah bumi.

Dari kejauhan, uap putih itu tampak seperti awan kecil yang lahir dari permukaan tanah.

Pemandangan tersebut menjadi pengingat bahwa di bawah kaki kami, bumi masih menyimpan energi yang luar biasa.

Pariban berada di kawasan vulkanik Gunung Sibayak, salah satu gunung api aktif di Sumatera Utara. Aktivitas panas bumi di bawah permukaan menghasilkan mata air panas alami yang terus mengalir sepanjang tahun. Uap yang kami lihat pagi itu adalah bagian dari proses geotermal yang selama ribuan tahun telah membentuk kawasan ini.

Saya kembali berpikir.

Betapa luar biasanya ciptaan Allah SWT.

Energi yang begitu besar di dalam bumi tidak hanya menjadi pengingat akan kekuasaan-Nya, tetapi juga dimanfaatkan manusia sebagai sumber wisata, kesehatan, bahkan energi terbarukan.


Sarapan Sederhana di Udara Pegunungan

Usai berjalan kaki, kami membeli sarapan di warung yang berada di kawasan Pariban Hot Spring.

Menariknya, beberapa warung di sini beroperasi selama 24 jam, melayani pengunjung yang datang siang maupun malam untuk berendam.

Sarapan pagi terasa sederhana.

Namun suasananya membuat semuanya terasa istimewa.

Saya kembali menyadari bahwa rasa makanan sering kali bukan hanya ditentukan oleh resepnya.

Tetapi juga oleh tempat dan orang-orang yang menikmatinya.


Bukit Gundaling

Menatap Berastagi dari Atas

Setelah berkemas dan melakukan check-out, perjalanan dilanjutkan menuju Bukit Gundaling, salah satu ikon wisata paling terkenal di Berastagi.

Jaraknya tidak terlalu jauh dari Pariban.

Sekitar tiga puluh menit kemudian kami sudah memasuki kawasan wisata.

Nama Gundaling dipercaya berasal dari bahasa Karo yang berkaitan dengan dataran tinggi atau kawasan perbukitan. Sejak masa kolonial Belanda, tempat ini telah dikenal sebagai lokasi terbaik menikmati panorama Kota Berastagi beserta dua gunung yang menjadi kebanggaan masyarakat Karo, yaitu Gunung Sibayak dan Gunung Sinabung.

Dari puncak bukit, kota Berastagi tampak begitu tenang.

Rumah-rumah penduduk terlihat kecil.

Hamparan kebun sayur membentang luas.

Di kejauhan, Gunung Sibayak berdiri anggun, sementara Gunung Sinabung mengingatkan bahwa alam selalu memiliki dua wajah: menghadirkan keindahan sekaligus menyimpan kekuatan yang harus dihormati.

Kami menikmati suasana itu cukup lama.

Berfoto bersama.

Menghirup udara pegunungan.

Dan kembali bersyukur atas kesempatan menikmati salah satu panorama terbaik di Tanah Karo.


Menatap Tanah Karo dari Puncak Harapan

Usai meninggalkan Pariban Hot Spring, perjalanan kami berlanjut menuju salah satu ikon wisata paling terkenal di Kabupaten Karo, yaitu Bukit Gundaling. Jaraknya hanya sekitar 15 kilometer sehingga dalam waktu kurang dari tiga puluh menit kami telah tiba di kawasan wisata yang sejak puluhan tahun lalu menjadi tujuan favorit wisatawan yang datang ke Berastagi.

Setelah membeli tiket masuk, kami perlahan berjalan menuju puncak bukit.

Udara pegunungan yang sejuk langsung menyambut kami.

Langit pagi tampak cerah, sehingga dua gunung kebanggaan masyarakat Karo, Gunung Sibayak dan Gunung Sinabung, terlihat berdiri gagah di kejauhan.

Dari atas bukit, Kota Berastagi terlihat begitu kecil, dikelilingi hamparan ladang sayur, kebun buah, dan perbukitan hijau yang membentuk lanskap khas dataran tinggi Karo.

Nama Gundaling diyakini berasal dari bahasa Karo yang berkaitan dengan kawasan perbukitan yang tinggi dan lapang. Sejak masa kolonial Belanda, tempat ini telah dijadikan titik pengamatan terbaik untuk menikmati panorama Berastagi dan kawasan pegunungan sekitarnya. Hingga kini, Bukit Gundaling tetap menjadi “balkon alam” terbaik untuk memandang keindahan Tanah Karo dari ketinggian.

Berdiri di puncak bukit, saya kembali teringat sebuah pepatah.

“Pemandangan akan selalu berbeda ketika kita melihatnya dari tempat yang lebih tinggi.”

Kalimat itu bukan hanya berlaku untuk bentang alam.

Tetapi juga untuk kehidupan.

Semakin luas wawasan seseorang, semakin bijaksana ia memandang persoalan.


Menjelajah Gundaling dengan Kuda

Salah satu hal yang membuat Bukit Gundaling berbeda dengan banyak tempat wisata lainnya adalah suasana khas pegunungan yang dipadukan dengan budaya lokal.

Di sepanjang kawasan puncak bukit, berjajar puluhan kuda wisata yang siap mengantarkan pengunjung berkeliling kawasan Gundaling. Suara langkah kaki kuda yang berpadu dengan udara pegunungan menghadirkan nuansa yang mengingatkan pada masa ketika kuda masih menjadi sarana transportasi utama masyarakat dataran tinggi.

Anak-anak tampak antusias melihat deretan kuda yang dihiasi pelana berwarna-warni.

Beberapa wisatawan memilih berkeliling menggunakan kuda sambil menikmati panorama pegunungan dari berbagai sudut. Meskipun kali ini kami memilih berjalan kaki, suasana itu tetap memberikan warna tersendiri dan memperlihatkan bagaimana masyarakat lokal menjadikan budaya berkuda sebagai bagian dari pengalaman wisata.

Saya kembali menyadari bahwa pariwisata yang baik tidak hanya menjual pemandangan, tetapi juga menghadirkan pengalaman budaya yang tidak dapat ditemukan di tempat lain.


Dari Gundaling Belajar Tentang Gunung Api

Dari puncak bukit, Gunung Sibayak tampak begitu tenang.

Sulit membayangkan bahwa gunung tersebut masih termasuk gunung api aktif dengan aktivitas geotermal yang hingga kini dimanfaatkan masyarakat melalui pemandian air panas Pariban dan sumber-sumber air panas lainnya.

Sementara itu, di sisi lain berdiri Gunung Sinabung yang beberapa tahun lalu beberapa kali mengalami erupsi dan mengubah kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Dua gunung berdiri berdampingan.

Satu relatif tenang.

Satu pernah menunjukkan kedahsyatannya.

Alam kembali mengajarkan keseimbangan.

Keindahan dan kekuatan selalu berjalan beriringan.

Karena itu manusia tidak hanya dituntut menikmati alam, tetapi juga menghormatinya.


Pasar Buah Berastagi

Kesuburan Tanah Vulkanik yang Menghidupi Masyarakat

Usai menikmati panorama Bukit Gundaling dan mengabadikan beberapa foto keluarga, kami melanjutkan perjalanan menuju Pasar Buah Berastagi, sebuah pasar yang telah menjadi ikon kota ini selama puluhan tahun.

Pasar ini bukan sekadar tempat berbelanja oleh-oleh.

Ia adalah cerminan bagaimana tanah vulkanik yang subur di kaki Gunung Sibayak dan Gunung Sinabung menjadi sumber kehidupan masyarakat Karo.

Di sepanjang lorong pasar, berbagai hasil bumi tersusun rapi.

Jeruk Berastagi yang terkenal dengan rasa segarnya.

Markisa dengan aroma khasnya.

Terong Belanda yang banyak diolah menjadi jus.

Stroberi dataran tinggi.

Aneka sayuran segar.

Hingga berbagai rempah yang tumbuh subur di kawasan pegunungan.

Namun perhatian saya justru tertuju pada tumpukan alpukat berukuran besar.

Penjual kemudian membelah salah satunya.

Daging buahnya tampak sangat tebal dengan warna hijau kekuningan yang menggoda.

“Silakan dicoba, Pak. Ini baru dipetik kemarin,” ujar penjual sambil tersenyum.

Saya pun mencicipinya.

Teksturnya lembut, gurih, dan nyaris tanpa serat.

Tidak heran jika alpukat Berastagi menjadi salah satu buah favorit wisatawan.

Beberapa kilogram pun akhirnya ikut kami bawa sebagai oleh-oleh.

Saya kembali berpikir, kekayaan suatu daerah tidak selalu diukur dari gedung-gedung tinggi atau pusat perbelanjaannya.

Kadang kekayaan sejati justru lahir dari tanah yang subur, tangan-tangan petani yang tekun, dan alam yang terus dijaga.

Perjalanan Menuju Medan

Waktu menunjukkan hampir tengah hari.

Kami menikmati makan siang di sebuah rumah makan muslim sebelum melanjutkan perjalanan menuju Medan.

Hari itu bukan sekadar melanjutkan wisata.

Hari itu adalah puncak dari seluruh perjalanan kami.

Tujuan utama sejak berangkat dari Padang.

Menghadiri akad nikah keluarga.

Dalam perjalanan menuju Medan, kami berhenti di salah satu masjid untuk melaksanakan salat Jumat.

Di tengah perjalanan itu saya kembali membuka telepon genggam.

Kali ini bukan mencari tempat wisata.

Melainkan mencari hotel yang dekat dengan lokasi akad nikah.

Di mesin pencarian saya mengetik,

Masjid Raya Medan.

Saya menemukan sebuah hotel yang lokasinya tepat di seberang masjid.

Tanpa berpikir panjang, hotel itu langsung saya pesan.

Dalam hati saya berkata,

“Wah… nanti tinggal jalan kaki ke masjid.”

Saya sama sekali belum menyadari bahwa saya sedang membuat satu kesalahan kecil yang kelak justru menjadi cerita paling lucu sepanjang perjalanan ini.


Ketika Masjid Raya Bukan Masjid Agung

Sekitar pukul 15.30 WIB, kami tiba di Medan.

Setelah check-in, mandi, berganti pakaian, dan beristirahat sejenak, kami berjalan kaki menuju masjid.

Bangunan megah bergaya Timur Tengah dengan kubah hitam berdiri anggun di hadapan kami.

Saya merasa lega.

“Alhamdulillah… tepat waktu.”

Sekitar pukul 16.15 WIB, kami memasuki area masjid. karena halaman yang luas dan arsitekturnya yang megah, kami menyempatkan diri untuk berfoto-foto terlebih dahulu.

Di dalam, prosesi akad nikah memang sedang berlangsung.

Kami segera duduk dengan tenang.

Namun…

Ada yang terasa aneh.

Saya memperhatikan sekeliling.

Tidak satu pun wajah yang saya kenal.

Saya mulai bertanya dalam hati.

“Kok tidak ada keluarga ya?”

Beberapa menit kemudian istri saya menghubungi saudara di Medan.

Jawaban di ujung telepon membuat kami semua saling berpandangan.

“… akadnya di Masjid Agung, bukan Masjid Raya…”

Saya terdiam beberapa detik.

Lalu kami semua tertawa.

Ternyata sejak awal saya salah mengingat nama masjid.

Saya mengira Masjid Raya Al-Mashun dan Masjid Agung Medan adalah tempat yang sama.

Padahal keduanya merupakan dua masjid yang berbeda.

Dengan sedikit rasa malu, kami keluar dari masjid.

Kembali ke hotel.

Mengambil mobil.

Lalu bergegas menuju lokasi yang benar.

Perjalanan singkat itu terasa begitu panjang karena kami khawatir terlambat.

Namun Allah SWT kembali menunjukkan pertolongan-Nya.

Ketika kami tiba sekitar pukul 17.00 WIB, prosesi akad nikah baru saja akan dimulai.

Kami menarik napas lega.

Alhamdulillah.

Kami masih dapat mengikuti seluruh rangkaian acara hingga selesai.

Saat ijab kabul terucap dengan lancar, saya kembali merenung.

Kadang Allah membiarkan kita salah jalan sejenak, bukan untuk menghukum, tetapi agar kita belajar lebih teliti, lebih rendah hati, dan lebih banyak tersenyum menghadapi kekeliruan kecil dalam hidup.


Menutup Hari Bersama Raja Durian Medan

Menjelang Magrib kami berpamitan kepada keluarga.

Misi utama hari itu telah selesai.

Namun sebelum kembali ke hotel, anak-anak mengingatkan satu destinasi yang sejak awal sudah masuk daftar kunjungan.

Ucok Durian.

Ada ungkapan yang sering terdengar ketika orang berkunjung ke Medan.

“Belum ke Medan kalau belum makan Durian Ucok.”

Maka malam itu kami pun memenuhi “ritual” tersebut.

Suasana kedai sangat ramai.

Durian dibelah satu per satu di hadapan pelanggan.

Aromanya memenuhi ruangan.

Saya menikmati sepotong demi sepotong durian Medan yang terkenal dengan teksturnya yang lembut dan rasa manis berpadu sedikit pahit di akhir.

Sungguh penutup hari yang sederhana, tetapi berkesan.

Malam semakin larut.

Kami kembali ke hotel untuk beristirahat.

Esok pagi masih ada satu agenda penting.

Menghadiri resepsi pernikahan keluarga di Tembung.

Dan perjalanan kami masih akan berlanjut.


Refleksi Akademik

Dalam manajemen proyek dikenal istilah verification before execution. Perencanaan yang baik harus selalu diikuti dengan proses verifikasi. Kesalahan kecil seperti menyamakan Masjid Raya dengan Masjid Agung menjadi pengingat bahwa asumsi yang tidak diperiksa dapat berujung pada kesalahan, meskipun niat dan persiapannya sudah baik. Pelajaran ini relevan dalam dunia akademik, teknologi informasi, maupun kehidupan sehari-hari.

Refleksi Filosofis

Hidup terkadang membawa kita ke tempat yang salah, bukan agar kita tersesat, tetapi agar kita lebih menghargai ketika akhirnya menemukan tujuan yang benar. Kesalahan yang disikapi dengan tenang sering kali berubah menjadi kenangan yang paling sering diceritakan.

Hikmah Perjalanan

“Tujuan memang penting, tetapi kerendahan hati untuk mengakui kesalahan, memperbaikinya dengan segera, lalu tetap bersyukur ketika Allah memudahkan jalan adalah bekal yang jauh lebih berharga daripada perjalanan itu sendiri.”

 

IAII Sumatera Barat


Ikatan Ahli Informatika Indonesia (IAII) adalah organisasi profesi yang bertujuan meningkatkan kualitas teknologi informasi di Indonesia, melindungi masyarakat dari praktek buruk layanan ahli informatika, meningkatkan kemakmuran, martabat, kehormatan, dan peran ahli informatika Indonesia dalam rangka mencapai tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tercantum pada Pembukaan UUD 1945. Profil IAII
About Yuhefizar 282 Articles
just an ordinary person